13 Mahasiswa Unsoed Magang Industri Di Jepang

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO - Di usia yang ke-54 Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mengizinkan 13 mahasiswanya magang sekaligus belajar di kawasan industri Peternakan Sapi Perah Jepang selama satu tahun. Program ini merupakan implementasi dari Program Merdeka Belajar Dan Kampus Merdeka.

"Diharapkan mahasiswa dapat menghadapi tantangan untuk berkompetisi melalui kegiatan magang yang terstruktur ini. Selain itu  program magang industri ini juga bertujuan untuk membekali mahasiswa agar lebih maju, mandiri, dan berpikir apa yang harus dikerjakan nantinya , "ungkap Humas Dies Natalis Fapet Unsoed ke-54 Ir.Alief Einstein, M.Hum

Einstein menambahkan dirinya sempat berkomunikasi dengan beberapa mahasiswa perihal sejauh mana pengalaman baru mereka saat musim tropis., di antaranya mahasiswa Fapet Unsoed Julvian, Nosap, Toni, Lusi dan alumni Fakultas Biologi Unsoed dan alumni Program S2 Ryukyus Okinawa, Jepang Dr. rer. nat. AB. Susanto, M.Sc. 

Terkait program Kampus Merdeka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim pada 24 Januari 2020, Dr. rer. nat. AB. Susanto, M.Sc., yang juga alumni S3 dari University of Bremen, Jerman mengatakan bahwa prinsip utama dalam salah satu program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka adalah memperjalankan mahasiswa secara sukarela dari zona nyaman, yaitu belajar di kampus saja. 

"Namun dalam implementasinya masih banyak pimpinan perguruan tinggi/politeknik belum sempurna mencerna arahan Mendikbud tersebut. Oleh karena itu, Fakultas Peternakan Unsoed  berupaya mengeksekusi dengan mengirimkan sebanyak 13 mahasiswa ke Jepang," katanya. 

"Setelah 9 - 12 bulan berada di peternakan sapi, Hokkaido, Jepang, maka mahasiswa dijamin akan mahir komunikasi Bahasa Jepang. Mereka juga akan terlatih baik secara softskill nya dalam hal budaya disiplin kerja, belajar berkomitmen, dan berjuang untuk memenangkan persaingan global," imbuhnya. 

Salah satu keuntungan yang akan diperoleh mahasiswa menurut AB Susanto adalah semakin mudahnya para mahasiswa untuk mendapatkan pekerjaan. Disamping itu mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dalam hal pekerjaan dengan orang asing akan lebih unggul..

Lebih lanjut Dr. rer. nat. AB. Susanto, M.Sc., menyimpulkan bahwa  berlangsungnya program ini sangat diharapkan sekali oleh pihak Dekanat Fapet Unsoed. 

"Semoga setelah terkirim ketiga belas mahasiswa ini, akan ditindaklanjuti pengiriman di "batch" selanjutnya dan dalam jumlah besar, "papar AB. Susanto.

Hokkaido, Jepang

Dari International Airport Soekarno Hatta (IASH), Cengkareng, Selasa (18/02/2020) ke-13 mahasiswa Fapet Unsoed terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia menuju Bandar Udara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang.

Di bandara IASH, Koordinator Prodi D3 Budidaya Ternak Dr. Ir. Bambang Hartoyo. MSi  memberikan sambutan sekaligus melepas pemberangkatan diikuti pemaparan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka oleh Dr. rer. nat. AB. Susanto, M.Sc.

Dari Tokyo, perjalanan mereka masih dilanjutkan dengan menaiki pesawat menuju Hokkaido. Sesampainya di Hokkaido, ke-13 mahasiswa sudah dijemput oleh pegawai/staf dari 6 perusahaan tempat mahasiswa magang yakni Zuzukuna Farm Co., Ltd., Betsukai Milk World Co., Ltd., Kage Farm Co., Ltd., Yanbe Farm Co., Ltd., Wahei Co., Ltd., J. Farm Shimazaki Co., Ltd.

Meskipun para mahasiswa ditempatkan di industri peternakan sapi perah yang berbeda, seluruh mahasiswa Fapet Unsoed  tetap tinggal di kota yang sama, yakni Betsukai, Provinsi Hokkaido. Hokkaido sendiri merupakan pulau utama dan terbesar kedua di Jepang dengan lingkungan alami yang dingin, udara sejuk, dan bersih sehingga dapat menjadi faktor penunjang untuk menghasilkan produk susu yang sehat, lezat, dan berkualitas di Jepang.

Kesan Pertama di Jepang

Untuk pertama kalinya Lusiana Dila Erita (Lusi) menginjakkan kaki di bandara Haneda, Tokyo, saat itu juga kaki mungil Lusi ini menyentuh tanah negeri Sakura, Jepang. Sayangnya saat itu belum ada bunga Sakura yang nampak di hadapannya, kabarnya di sana masih musim dingin. 

"Benar saja, dingin sekali. Rasanya sampai telapak tangan mati rasa. Dingin sampai menusuk tulang, setelah itu menjalar ke seluruh badan akhirnya menyerang perut. Ya, saya langsung sakit perut ketika tiba di bandara. Saya panik mencari toilet, saking sakitnya. Salahnya sebelum melakukan penerbangan saya memakan makanan pedas, alhasil makanan pedas dan hembusan angin mengoyak seisi perut, " kata Lusi. 

Lusi menceritakan, ternyata toiletnya ada di sebelah kanan. Yang membuat Lusi geleng-geleng kepala adalah betapa canggihnya kloset bandara di Jepang, ternyata benar yang dia dengar mengenai canggihnya teknologi yang ada di sana sampai-sampai kecanggihannya di fasilitas umum. 

Di samping kloset terdapat beberapa tombol yang bisa dipencet untuk beberapa fitur, tentu saja tombol-tombol itu ada keterangannya, dan bertuliskan hiragana, katakana, dan kanji. Hal ini menjadi pengalaman yang menarik bagi Lusi.

Salju tidak terlihat di bandara Tokyo, hanya tersisa udara dingin yang membuat sesak bernapas. Lusi melanjutkan perjalanan ke Hokkaido tempat ia mendarat. Terminal tersebut berbeda dengan terminal pada saat dia berangkat dan memerlukan kendaraan bus menuju terminal 2, itulah pertama kalinya Lusi naik bus di Jepang.

Dua jam sudah Lusi dalam pesawat dari Tokyo menuju Hokaido dengan pesawat All Nippon Airways (ANA). Ini berarti kali kedua Lusi naik pesawat terbang setelah penerbangan Lusi dari Jakarta ke Tokyo.

Sesampai di Hokkaido Lusi dijemput oleh Aizawa dari J Farm, Shimazaki. Perjalanan dari bandara menuju farm di kota Betsukai cukup jauh. Sepanjang jalan dia mengobrol dengan Aizawa membicarakan seputar Jepang dan Indonesia. Mereka saling menceritakan kultur masing-masing negaranya, makanan yang mereka makan, dan masih banyak lagi. Sebelum melanjutkan perjalanan mereka ditawarkan untuk makan siang oleh Aizawa. Makanan pertama Lusi di Jepang adalah Sushi.

" Rasanya enak sekali berbeda jauh dengan Sushi yang pernah saya makan di Indonesia, " ungkapnya.

Akhirnya Lusi tiba di J. Farm Shimazaki, Co., Ltd., di peternakan tempat ia magang. Lusi tidak sendirian namun ada mahasiswa lain dari Unsoed yakni Nurulita Fawziah Harnum.

Untuk pertama kalinya Lusu melihat salju di atas pesawat dari Tokyo menuju Hokkaido tepatnya di atas pulau

Hokkaido. Saat di sana, menjumpai pemandangan yang berbeda dengan kota sebelumnya,Tokyo. Hamparan salju berwarna putih menyelimuti permukaan bumi kota Betsukai, Hokkaido. 

"Oh ini salju seperti yang ada di film-film itu, teksturnya sama seperti es serut tapi lebih halus," kata Lusi heran.

Senang rasanya Lusi melihat salju dari dekat. Kaki Lusi menapaki tanah lain, hidung Lusi pun menghirup udara di ruang yang berbeda. Kali ini rasanya dinginnya meningkat tiga kali lipat dari dinginnya Tokyo. Mata Lusi dimanjakan oleh pemandangan salju yang terhampar luas, terlihat gunung sangat cantik sekali, seperti melihat gunung Everest, bersalju dan berwarna biru.

Lusi menceritakan, setiap kali "posting photo" salju di sosial media, teman-teman Lusi selalu "bilang bungkus saljunya bawa ke Indonesia". 

"Kalau bisa sudah aku kirim semua hamparan salju itu, atau kalian saja yang susul aku ke sini agar bisa lihat salju juga, " katanya riang.

Saat sedang istirahat dia sempatkan main lempar-lemparan bola salju, membuat boneka salju, berselancar di atas salju beralaskan sepatu boots.

"Berjalan di hamparan salju itu sulit sekali apalagi kalau sebelumnya hujan salju tebal, waktu itu pernah mengalami berjalan di atas salju setinggi paha. Wah itu susah banget sih "ngelangkahnya". Rasa dingin juga membuat sulit untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, saya langsung nongkrong di depan pemanas ruangan, " sambungnya.

"Jujur, sulit sekali bekerja pada saat musim dingin dan pekerjaan kami semi-outdoor. Paling tidak kami memakai baju kandang khusus, 5 lapis kaos kaki memakai boots khusus, dan jangan lupa untuk selalu bergerak, sekali diam  rasanya seperti membeku, " katanya.

Saat bekerja di kandang membuat Lusi senang. Ada kalanya ketika dia bekerja terhibur dengan lelucon atau candaan pekerja di sana. Hal itu menjadi motivasi untuk semangat bekerja, karena adanya komunikasi antar manusia membuat dirinya senang dan tidak merasa sendirian di negara lain. 

Hal lain yang membuat dia senang adalah selalu memperileh ilmu baru, entah itu pengetahuan tentang penanganan sapi yang sakit ataupun pengetahuan mengenai proses reproduksi sapi yang belum ia dengar ketika di Indonesia. Hal itu pulalah yang membuat Lusi bersyukur bisa menginjakan kaki di Jepang dalam program Internship ini.

Sementara Muhammad Adi Julvian (Julvian), Nosap Bahrudin (Nosap), dan Tonianto magang di peternakan sapi perah Betsukai Milk World Co., Ltd., di kota Betsukai, Hokkaido.

Menurut Julvian, program magang ke Jepang ini sangat baik, dia bisa belajar sampai ke luar negeri tanpa memberatkan biaya orang tua. 

"Program ini pastinya menambah pengalaman, relasi, skill, dan kemampuan bahasa. Kita bisa belajar bagaimana majunya teknologi peternakan sapi perah di Jepang, budaya serta  semangat kerja yang tinggi. Kedisiplinan negara Jepang ini pasti akan bermanfaat bagi kami kedepannya, " katanya.

Nosap mengatakan, di farm dia didampingi pegawai/staf pemilik farm. Staf tersebut lulusan AS, sehingga mudah menyesuaikan apa yang diinginkan mahasiswa yang sedang magang, salah satunya memilih hari libur Jum'at dan Sabtu."

Saat hari libur Nosap dan 2 mahasiswa lainnya biasa berbelanja untuk keperluan selama 1 minggu. Saat-saat libur kerja dimanfaatkan untuk beristirahat, mencuci, bersih-beraih kamar, dan memasak bersama.

Toni merasakan manfaatnya ikut Resimen Mahasiswa (Menwa) saat di kampus. Ternyata berpengaruh terhadap kebugaran, daya tahan tubuh, dan mental sehingga selama di Jepang dia bisa menyesuaikan lingkungannya, beban kerja, dan terbiasa dengan pekerjaan yang cepat. (hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response