Acara Sembako Gratis Berujung Tragis

 

Matamatanews.com, JAKARTA – Bagi kebanyakkan masyarakat Indonesia, sesuatu yang dinilai GRATIS itu merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu. Apalagi yang dibagikan secara cuma-cuma itu adalah sembako, sontak saja kegiatan itu digerumuti ratusan hingga ribuan masyarakat tanpa terkecuali.

Sabtu (28/04/2018) merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak warga, termasuk Komariyah, warga Pademangan, Jakarta Utara. Komariyah datang ke acara pembagian sembako gratis yang digelar di Lapangan Silang, Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.

Beberapa hari sebelumnya, Komariyah mendapatkan kupon yang diedarkan pihak Forum Untukmu Indonesia (FUI) dari tetangganya yang berbeda RW. Dengan isi sembako yang menurut dirinya cukup lumayan, serta terdapat area bermain untuk sang buah hati maka ia tergiur dan mengajak anaknya Rizki Syahputra (10).

Dengan uraian air mata, Komariyah menceritakan bagaimana dirinya berpisah dengan mendiang Rizki.

“Naik dari Ancol, sampai sana (Monas) jam 10, turunnya masih jauh dari lokasi (pembagian sembako), saya sambil gendong Rizki,” kata Komariyah.

Kondisi tubuh yang tidak muda lagi merasa letih menggendong anaknya, memaksa ia memutuskan untuk tidak mengantri dulu untuk mengambil sembako. Komariyah menyebut saat itu sekitar pukul 11.00 WIB, dan antrian sudah menyemut. Sang buah pun minta diturunkan dari gendongan sang ibu dan mengaku kelaparan.

Komariyah pun segera membawa anak kesayangannya itu untuk mengantri di stand pengambilan makanan dengan berbekal dua kupon. Ia melihat ada sekitar delapan orang di depannya yang sedang mengantri, saat itulah kejadian nahas itu berlangsung. Dirinya dan mendiang Rizki didorong-dorong orang dari belakang yang ingin menukarkan kupon tersebut.

Komariyah menjelaskan kondisi sudah tidak kondusif, aksi saling dorong pun tak terelakkan. Ia pun menungkapkan saat dirinya menoleh kebelakang untuk melihat guna menghindari dorongan dari belakang, namun malang Rizki justru terdorong jatuh dari antrian didepannya.

“Ada yang ngedorong dari depan. Jatuh anak saya, keinjak juga kakinya. Akhirnya saya belum sempat ngambil makanan, saya sobek kupon, saya gendong anak saya. Saya bawa ke belakang sana ke tenda deket pohon,” ungkap Komariyah sambil menahan air mata.

Melihat anak bungsunya tidak mampu berdiri dan lemas, Komariyah pun meminta Rizki untuk rebahan di rumput. Namun, Rizki justru muntah dan kejang ungkap Komariyah.

“Saya tidurin di rumput, muntah-muntah, langsung kejang. Sudah kejang saya minta tolong sama ada lima orang laki-laki di stand, saya minta tolong saja enggak ditolongin,” ungkapnya kesal.

Rizki yang sudah tak berdaya usai terinjak-injak itu di tolong oleh aparat TNI. Rizki pun di bawa ke stand kesehatan menggunakan motor. Namun, Rizki tidak langsung mendapatkan pertolongan, ujar Komariyah. Pihak dokter yang berada di stand kesehatan itu justru langsung merujuk Rizki ke RSUD Tarakan.

“Ada bapak ABRI nolong anak saya, langsung dia bawa ke stand kesehatan dibawa pakai motor. Saya di sana tuh nggak ada penanganan apa-apa. Yaudah dokternya bilang rujuk aja rujuk langsung ke RSUD Tarakan,” ungkap Komariyah.

Minggu (29/04/2018), sekitar pukul 02.00 WIB, Rizki dibawa ke ruang PICU. Namun, Rizki tidak dapat tertolong, bungsu dari empat saudara itu menghembuskan napasa terakhirnya sekitar pukul 04.35 WIB.

“Pas jam dua dibawa ke ruang PICU di atas ya. Nah pas di ruang situ dirawat sampai meninggalnya. Saya dibilangin masih ada napasnya jam 04.00 Wib, dia meninggal jam 04.35 Wib,” kenang sang Ibu.

“Saya makamin sebelah bapaknya. Maafin emak ya Rizki,” ujar Komariyah lirih.

Sementara, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes. Raden Argo Prabowo Yuwono mengatakan bahwa, Rizki ditemukan di luar pagar dan tidak dalam keadaan sedang mengantri sembako.

“Kita temukan di luar pagar tergeletak,” kata Argo.

‘Kita temukan tidak mengantre,” tambahnya.

Argo menambahkan anak tersebut meninggal karena suhu badan yang tinggi dan kekurangan cairan atau dehidrasi. [Did/Berbagai Sumber]

sam

No comment

Leave a Response