Assad Halangi Resolusi Gencatan Senjata PBB

 

Matamatanews.com,BEIRUT / DOUMA—Minggu (25/2/2018) kemarin rezim Suriah Presiden Bashar Al-Assad menentang resolusi gencatan senjata Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Seperti diketahui  pasukan Suriah telah banyak menjatuhkan bom di kantong-kantong warga sipil di Ghouta timur, Damaskus yang terkepung.

Dalam sepekan terakhir seperti dilansir Arab News, pasukan Suriah telah melakukan serangan udara secara membabi buta ke kantong-kantong sipil di Ghouta hingga ratusan nyawa  perempuan dan anak-anak bergelimpangan meregang nyawa.

Meski serangan kali ini tidak sehebat sebelumnya, namun siraman peluru pasukan Suriah menewaskan sembilan orang dan melukai 31 orang lainnya. Demikian diungkap kelompok Pemantau Hak Azasi Manusia (Human Rights Watch) yang berbasis di London kepada media.

Di bagian lain Iran mengatakan bahwa pasukan pro rezim Suriah akan terus melakukan serangan ke daerah pinggiran yang dikuasai oposisi, meski resolusi Sabtu malam menuntut untuk dilakukan gencatan senjata selama 30 hari untuk memungkinkan masuknya bantuan dan evekuasi medis terhadap para korban disana.

Sementara itu Turki juga mengatakan bahwa operasi militernya di wilayah utara Afrin tidak akan terpengaruh oleh keputusan resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut.Sedangkan rekan dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, yakni Perancis Emmanuel Macron dan Jerman Angela Merkel yang berbicara melalu telepon meminta Rusia untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata tersebut.

Mereka minta Rusia menekan rezim Suriah semaksimal mungkin untuk segera menghentikan serangan udara dan pertempuran di Ghouta Timur maupun di daerah pinggiran lainnya

Kepala staf militer Iran Jenderal Mohammed Baqeri mengatakan Teheran dan Damaskus akan menghormati resolusi PBB tersebut, namun dia mengklaim bahwa gencatan senjata tersebut tidak mencakup bagian-bagian pinggiran kota Damaskus "yang dipegang oleh para teroris."

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa serangan di Ghouta Timur yang digambarkan sebagai “ Negara di Bumi” harus segera dihentikan. “ Saya pikir keputusan ini tidak akan dilaksanakan dan dihormati, baik oleh rezim maupun Rusia sendiri,” kata Abu Mazen, penduduk lokal Douma seperti dilansir Arab News.

Di Ghouta Timur, berita tentang suara PBB disambut dengan mengangkat bahu. "Saya tidak berpikir keputusan ini akan dilaksanakan. Ini tidak akan dihormati baik oleh rezim maupun Rusia, "kata penduduk Douma, Abu Mazen. "Kami tidak bisa mempercayai Rusia atau rezim. Kami terbiasa dengan pengkhianatan mereka. "

Ketika berita ini diturunkan pertempuran sengit masih terjadi pada Minggu (25/2/2018),yakni di Hamzah Birgar, kata juru bicara militer Jaish Al-Islam. Ia mengatakan bahwa pihak. Pihak berhasil menggagalkan pasukan rezim dan milisi yang didukung Iran untuk maju.

"Pada dini hari hari ini, terjadi pertempuran sengit yang dilancarkan pasukan Assad," kata Wael Olwan, juru bicara Failaq Al-Rahman. "Mereka mencoba menyerbu garis depan timur. Pemboman sedang berlangsung saat ini. " Rusia mengandalkan pendukung asing pasukan anti-rezim untuk memastikan bahwa gencatan senjata tersebut diamati, kata kementerian luar negeri di Moskow. Akankah gencatan senjata yang disepakati Dewan Keamanan PBB untuk 30 hari ke depan di dengar dan dipatuhi rzim Suriah pimpinan Bashar Al-Assad? (bar/arab news)

sam

No comment

Leave a Response