Atas Nama Kebebasan, Ahmadiyah dan Aliran Sesat Masih Berjalan

Matamatanews.com, JAKARTA—Meski Susilo Bambang Yudhoyono sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden, dan berganti Joko Widodo namun Keppres Pembubaran aliran Ahmadiyah belum juga dilaksanakan. Tahun 2010 lalu berbagai tabligh akbar, aksi unjuk rasa dan pengiriman surat terbuka, diskusi publik, perdebatan di televisi , hingga audiensi , waktu itu ke Departemen Agama dan pelaporan ke Mabes Polri telah dilakukan .Tetapi semua itu rupanya belum mampu untuk mengetuk hati presiden Yudhoyono (SBY) untuk mengeluarkan Keppres pembubaran Ahmadiyah ketika itu.

Kini Ahmadiyah masih bertengger dan berdiri tegak diberbagai belahan  wilayah hukum Indonesia, meski Ketua Majelis Ulama Indonesia  (MUI) KH.Ma’ruf Amin pernah menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah ajaran agama yang menyimpang serta sesat.

Praktisi hukum dan pegiat masalah aliran sesat , Hasbi Dirwansyah,SH, MH, mengungkapkan sebenarnya sejak tahun 1980, Majelis Ulama Indonesia dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke duanya telah mengeluarkan Fatwa Nomor 05/KEP/Munas/MUI/1980 tanggal 1 Juni 1980, yang isinya menyatakan  bahwa  Ahmadiyah adalah kelompok  di luar Islam, sesat dan menyesatkan.

Fatwa tersebut akhirnya ditegaskan kembali dalam Munas VII pada tahun 2005 yang menetapkan bahwa Aliran ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad.Tapi meski MUI ketika itu telah mengeluarkan fatwa sesat, namun fatwa  tersebut terkesan  tidak ditanggapi hingga aliran ini sampai sekarang terus berkembang.

Dari fatwa MUI, Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung, rupanya tidak serta merta membubarkan aliran Ahmadiyah, tapi hanya sebatas menganjurkan penganur Ahmadiyah untuk kembali ke ajaran Islam yang lazimnya ada di Indonesia.

“Di negara asalnya saja Pakistan kaum Muslimin menolak aliran Ahmadiya, bahkan melakukan demonstrasi besar-besaran dan menuntut pemerintah mengelaurkan keputusan tentang Qadiyaniyat (Ahmadiyah)  sebagai kelompok minoritas non Muslim. Sedangkan disini, di Indonesia aliran  Ahmadiyah masih bertebaran bahkan ada yang berani menantang umat Islam yang menolaknya dengan dalih kebebasan beragama . Mereka berani mengancam akan melaporkan para penolak Ahmadiyah ke presiden dan lembaga resmi lainnya,” kata pria yang akrab disapa Hasbi kepada Matamatanews.com, dibilangan Cibubur, Selasa  (31/7/2018).

Setali tiga uang, pengamat dunia Islam dan pegiat bisnis untuk urusan Timur Tengah dan Eropa, Imbang Jaya mengatakan  bahwa  umat Islam sudah saatnya bersuara lantang kepada  lembaga berwenang,ataupun pemerintah untuk segera menertibkan berbagai aliran sesat yang masih mengatasnamakan Islam.

Menurut Imbang, aliran sesat bertengger dan leluasa diberbagai wilayah hukum Indonesia karena pemerintah lemah dalam menyikapi keberadaan aliran tersebut,bahkan boleh disebut memberi peluang. Meski umat Islam  selalu sabar menghadapi aktivitas aliran sesat, namun sejatinya keberadaan mereka kerap menimbulkan gesekan karena praktik ibadah dan pengamalannnya yang menyimpang dari nilai-nilai Islami.

“Apapun judulnya,kalau aliran sesat itu pasti berseberangan dengan nilai-nilai Islami  sehingga membuat umat Islam lainnya terpanggil untuk membawa mereka kembali ke jalan yang benar. Kalau persoalan perbedaan atau khilafiyah itu hal biasa ,tapi  kalau kitabnya saja sudah berbeda dan syahadatnya berbeda dan sering memaki sahabat rasul  dan istri beliau , itu artinya  aliran menyimpang.,”ujar Imbang,ketus.

Sudah waktunya, lanjut Imbang pemerintah menertibkan aliran sesat setidaknya yang menurut umat Islam Indonesia menyimpang secepatnya ditangani serius, bukan sebaliknya dipelihara..

”Kalau  sudah dianggap sesat dan menyesatkan oleh MUI seharusnya pemerintah mengambil tindakan tegas dan melarang seluruh aktivitas  aliran tersebut sehingga perasaan umat Islam tidak terluka. Ditengah arus beragam aliran pemikiran dan keagamaan di Indonesia yang dikenal majemuk, bukan hanyta antar agama tetapi juga intra-agama, umat islam butuh bimbingan  tegas dan sejuk untuk menyikapinya dengan bijaksana,bukan sebaliknya,” tegas  Imbang.

Fahmi Salim, MA dalam bukunya “Tafsir Sesat” mengungkapkan bahwa di era keterbukaan memudahkan berbagai paham , baik yang berbasis umum maupun keagamaan, masuk dan berkembang di masyarakat. Kebebasan dan kemajuan yang berkiblat pada Barat telah melahirkan generasi yang cenderung menjauh dari agama.Dalam setiap sisi kehidupan, minim sekali melibatkan Allah.

Kondisi ini dip[erparah dengan hadirnya komunitas Liberal yang aktif menjajakan liberalisasi islam. Mereka gemar mengotak-atik Islam dari dalam, menggunakan syubhat dalil-dalil untuk mengacaukan tatanan Islam yang sebenarnya. Tantanga Umat Islam, kata Fahmi Salim bertambah berat dengan kehadiran paham Syi’ah dan ahmadiyah yang secara konsep dasar atau aqidah bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, tetapi kerap menyamar dan mengatasnamakan Islam.

Meski kini Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo  telah menjadi presiden menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono namun Keppres pembubaran aliran sesat atau pelarangannya ,semisal Ahmadiyah  maupun  lainnya belum juga  diteken  bahkan sebaliknya aliran sesat bermunculan deras laksana hujan.

“Kemunculan aliran sesat itu karena tidak adanya sikap tegas dari pemerintah sehingga mereka berani menantang dan mengancam menutut segala macamnya, bahkan penista agama saja seakan dibiarkan menunggu kemarahan umat Islam muncul baru ditangani. Apa harus menunggu umat  Islam bertindak baru pemerintah  dan DPR nya ramai-ramai membuat aturan?” kata Imbang ,mengakhiri perbincangan. *(icam)

 

 

 

sam

No comment

Leave a Response