Ausralia di Balik Disintegrasi Timor Leste

 

Matamatanews.com, JAKARTASemua tahu bahwa lepasnya Timor Timur atau Timor Leste dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak berjalan dengan sendirinya. Banyak s enjata dan perlengkapan militer militer yang dimiliki separatis membuat banyak orang bertanya, siapa yang menyuplai persenjataan canggih tersebut. Tudingan paling kencang mengarah kepada militer Australia. Tudingan seperti itu sepertinya bukan omong kosong.

Karena, banyak peritiwa menunjukkan Australia bermuka dua dalam konteks negara kesatuan Indonesia, termasuk di dalamnya Timor Leste. Di media internasional, mereka selalu mengatakan Timor Timur adalah bagian sah dari kedaulatan Republik Indonesia. Tetapi diam-diam, kuat dugaan bahwa mereka membantu diplomasi Timor Timur dalam memerdekaan dirinya.

Banyaknya suaka yang diberikan australia kepada pelarian Timor Timur semakin mengeraskan tudingan itu. Belum lagi berbagai tuntutan kejahatan HAM yang diajukan para pencari suaka di pengadilan Australia sehingga  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat tidak mau berkunjung ke Negeri Kanguru karena ada isu ia akan ditangkap polisi Australia.

Trik Australia semakin  terlihat ketika Timor Timur akhirnya lepas dari Indonesia pada 1999 akibat proses refendum yang ditawarkan Habibie. Dengan cepat pasukan Australia menyerbu masuk ke wilayah miskin itu dengan mengusung lokomotif tentara penjaga perdamaian. Nyatanya, Timor Timur yang kemudian berganti nama menjadi Timor Leste, tidak kunjung damai.Perpecahan kerap tersulut. Puncaknya terjadi ketika Mayor Alfredo tewas, seorang loyalis Xanana yang membelot karena tidak puas dengan kepemimpinan Xanana yang seolah tak berkutik terhadap militer Australia.

Australia pun kabarnya marah dengan Alkatiri, yang menggugat konsesi royalti minyak dan gas dari celah timor (Timor Gap) yang kaya. Celah Timor memang pernah menjadi objek barter dukungan antara presiden Soeharto dengan Australia. Oleh Presiden Soeharto, royalti dari migas di sana dibagi 50:50 dengan Australia yang kabarnya merupakan proyek terima kasih pemerintah Soeharto kepada Australia yang telah mendukungnya.

Dukungan Australia, Inggris, dan Amerika Serikat, tiga negara yang didominasi ras Anglo saxon itu, mendorong Soeharto mengambil Timor Timur untuk dijadikan provinsi ke 27 (termuda ketika itu). Tujuannya, agar negara miskin yang ditinggal Portugal itu tidak jatuh dalam pengaruh kiri atau komunisme.

Itulah sifat barat, Indonesia yang harus berdarah-darah di tanah Timor untuk menyatukannya dengan republik, dihujat sebagai pelanggar HAM, dan mengeluarkan banyak biaya operasi militer untuk menjaga Timor tetap menjadi bagian Indonesia. Tetapi, ketika blok barat-timur runtuh, mereka pun memasang muka dua dengan memprovokasi Timor memisahkan diri dari NKRI.

Di Balik Kedermawanan Australia

Dunia begitu kagum dengan kedermawanan Australia yang tiba-tiba bersedia mengurangi royalti migas dari celah Timor dari 50:50 menjadi 90 persen untuk Timor Leste dan hanya 10 persen untuk Australia. Orang awam terkesan dengan sikap yang seakan menjadi bentuk nyata kemanusiaan Australia untuk menolong Timor Leste yang sangat miskin.

Hal itu mengherankan banyak pengamat minyak karena tidak pernah terjadi dalam konsesi bagi hasil migas manapun di dunia. Maka, berbagai analisis berkembang. Sebagian di antaranya sangat berbau rekayasa untuk menutupi sesuatu yang lebih besar.

Setidaknya, ada dua isu sentral yang dikaitkan dengan misi terselubung Australia di balik sikap dermawannnya. Pertama, hal ini terkait dengan batas kedaulatan negara. Isu ini dapat ditarik, bahkan sebelum pengintegrasian Timor dengan Indonesia tahun 1975. Tepatnya tahun 1972, dimana Presiden Soeharto menyepakati perjanjian batas laut yang tidak adil dengan Australia. Dugaan adanya proyek balas budi rezim Orba pada barat dan Australia, membuat Soeharto menerima batas-batas laut yang sangat kentara tidak berimbang.

Jika dilihat di peta, garis itu tidak ditarik dari titik tengah (median) sehingga porsi paling luas justru menjadi keuntungan Australia. Ketika itu, Timor masih dikuasai kolonialisme Portugal yang kekiri-kirian. Portugal menolak untuk bertindak bodoh seperti yang dilakukan Indonesia. Akibatnya, muncul celah sepanjang 300 kilo meter di antara perbatasan Indonesia, Australia dan di antara perbatasan Indonesia, Australia dan Timor. Dikenallah sebutan Celah Timor yang disinyalir mengandung banyak deposit migas.

Momentum Australia untuk mendapatkan keuntungan besar dari Celah Timor muncul ketika Portugal meninggalkan Timor sehingga negeri itu dilanda perpecahan saudara. Australia mendorong Soeharto untuk menerjunkan ABRI dan menyatukan Timor di bawah NKRI pada tahun 1975. Ketika akhirnya niat itu tercapai, Celah Timor dikendalikan oleh Pemerintah Soeharto yang dengan mudahnya memberikan royalti pengelolaan hulu migas Timor sehingga negeri itu dilanda perpecahan saudara.

Australia mendorong soeharto untuk menerjunkan ABRI dan menyatukan  Timor di bawah NKRI pada 1975. Ketika akhirnya niat itu tercapai, Celah Timor pun dikendalikan pemerintahan soeharto yang dengan mudahnya memberikan royalti pengelolaan hulu migas menjadi 50:50 dengan Australia. Ketika Timor Leste merdeka, mereka pun bersikeras agar pola royalti itu direvisi. Perjuangan itu menghasilkan pola 90:10 yang menghebohkan.

Tetapi, ternyata ada misi rahasia Australia yang tidak terekspos dan mungkin  tidak disadari oleh Timor Leste yang sedang berada dalam kondisi kegirangan karena memenangkan negosiasi. Para pengamat menduga  bahwa Australia mengalah agar garis batas laut yang pernah disepakati dengan pemerintah Soeharto tidak dipermasalahkan lagi oleh Timor Leste. Karena, jika ini dilakukan, bisa jadi Australia tidak akan mendapatkan apa-apa dari Celah Timor karena batas laut yang dulu dibuat secara tidak adil kemungkinan besar akan direvisi.

Celakanya lagi, jika tImor Lesta berhasil mengubah garis batas laut, Indonesia mungkin terinspirasi untuk menegosiasikan ulang garis-garis batas laut Indonesia dengan Australia yang dulu pernah ditandatangani Soeharto. Isu kedua, ternyata ada ladang migas yang tidak dimasukkan dalam kesepakatan Timor-Australia. Kesepakatan hanya ditujukan pada pengelolaan di Bayu Undan, tapi tidak memasukkan Greater Sunrise dan Laminaria – Coralina. Keduanya dioperasikan penuh Australia . Padahal, menurut hukum internasional keduanya berada dalam zona, dimana Timor Leste berhak mendapatkan bagian.

Sehingga wajar ketika Xanana Gusmao sempat membuat Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer kebakaran jenggot oleh pidatonya di hadapan para negara donor Timor Leste pada April 2004 silam. “Jika tetangga kami yang lebih besar dan lebih kuat itu terus mencuri uang kami yang justru diperlukan untuk membayar utang-utang Timor Leste, kami akan terkubur utang. Kami akan menjadi salah satu negara yang terperangkap utang di dunia.” Papar Xanana ketika itu. (bar/berbagai sumber/konspirasi dunia)

 

 

 

 

 

sam

No comment

Leave a Response