Awas, Uang Palsu dan Amanah Ikut Nyelonong Dalam Pemilu 2019

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Meski Pemilu 2019 masih jauh digelar, namun keberadaan uang palsu kembali merebak menjadi isu liar disaat partai penguasa maupun oposisi saling membangun koalisi menuju pesta demokrasi tahun depan. Situasi ini menyeret kekhawatiran sejumlah pihak, sebab situasi ini dinilai momentum yang dapat mempermudah uang palsu maupun amanah masuk dalam kancah pesta demokrasi.

Rawan memang , bila uang palsu dalam peredaran pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) tahun depan hadir menjadi alat paling berkuasa dan mampu menentukan suara pemilih. Dan bukan mustahil bila para pemegang uang palsu maupun uang “odong-odong” yang biasa disebut “Uang Amanah” nyelonong memanfaatkan hiruk-pikuk pesta lima tahunan itu.

Meski  angka uang palsu mengalami penurunan , namun duit palsu tiap tahun terus ada peredarannya dengan modus dan trend berbeda. Kecemasan para bank terhadap peredaran duit palsu lantaran tingkat kebutuhan kampanye begitu banyak, seperti pembuatan spanduk, baliho, kaos partai, stiker bahkan pemberian sembako kepada masyarakat hingga pembagian uang.

“Tapi saat ini kaos dan spanduk sudah cukup berkurang pembuatannya, kini yang partai-partai lebih banyak menggunakan media sosial seperti Whatsapp,facebook, maupun instagram sebagai alat kampanye,”jelas seorang anggota partai yang keberatan ditulis namanya kepada Matamatanews.com,Minggu (30/7/2018).

Seorang penggemar berat salah satu partai, sebut saja Bejo, asal Solo menceritakan pengalaman ketika menerima duit palsu.”Waktu itu saya menerima uang dari salah satu calon legislator yang kebetulan sedang kampanye sebesar lima puluh ribu. Ternyata setelah dibelanjakan, itu uang palsu,” cerita Bejo, dengan wajah sumbringah.

Memang tidak bisa dipungkiri penggunaan uang tunai dalam jumlah besar bisa dimungkinkan terciptanya peluang mudah peredaran uang palsu ke segala sentra hari-hari istimewa, seperti kampanye ataupun Idulfitri. Meski belum diketahui secara pasti penyebabnya, sudah terlihat korelasi antara peningkatan jumlah uang palsu dengan penyelenggaraan Pemilu maupun hari raya keagamaan.

Pada tahun 2017 lalu Bank Indonesia telah melakukan edukasi terkait peredaran uang palsu secara masif hingga 329 kegiatan dengan melibatkan peserta atau masyarakat sebanyak 90.448 orang. Kemudian, dari sisi penindakan, telah diproses 28 kasus temuan uang palsu pada tahun 2017, dengan total barang bukti sebanyak 2.815 lembar pecahan Rp 100.000 dan 2.692 lembar pecahan Rp 50.000.

“Padahal memalsukan pecahan sekecil apapun,hukumannya sama. Pecahan seratus ribu kurang disukai karena rentan mudah dicurigai orang,” ujar Purnama Wijaya (bukan nama sebenarnya) salah satu bankir di Jakarta. Sementara itu,Hendri (bukan nama sebenarnya) yang mengaku sering menjadi perantara transaksi uang amanah menuturkan, kebanyakan para pelaku memilih orang yang tidak dikenal.

“Kebanyakan mereka memilih orang yang tidak dikenal saat membelanjakan upal, misalnya transaksi di SPBU. Biasanya mereka beraksi di kawasan pantura. Tapi modus transaksi uang amanah berbeda dengan uang palsu, uang amanah hanya bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat,”jelas Hendri,sedikit membela diri.

Dari penelusuran media ini, sebenarnya para pelaku pencetak uang palsu maupun uang amanah masih merupakan pemain lama.Bedanya, mereka hanya memanfaatkan situasi dan kondisi lapangan, sesuai perkembangan zaman. Meski tiap tahunnya selalu muncul pemain baru, tidak menutup kemungkinan bahwa masing-masing pelaku punya hubungan khusus, sehingga satu sama lainnya saling koreksi dalam aktivitas.

Dalam upaya menarik calon pembeli biasanya para pelaku menggunakan jasa kurir atau perantara sebagai ujung tombak distribusi produknya agar tidak mudah dikenali. Lewat merekalah uang palsu (Upal) pecahan

Rp 30.000, Rp 10.000 dan Rp 5.000 beredar hingga mencapai ratusan juta bahka n miliaran rupiah uang palsu.Astagfirullah!

Modus para pengedar uang palsu selalu menghindari pusat perbelanjaan maupun toko yang sudah menggunakan alat pendeteksi uang palsu. Tapi sepandai-pandainya para pengedar upal, ujung-ujungnya kesandung juga ke penjara. Biasanya para pengedar upal selalu mengiming-imingi calon pembeli dengan angin surga.Beli satu dapat tiga.

“Kalau beli seratus ribu, dapat tiga ratus ribu rupiah uang palsu. Dan omset jaringan ini mencapai ratusan juta bahkan miliaran,”jelas sumber di kepolisian. Dan kini ditengah maraknya para partai politik sibuk membangun koalisi untuk persiapan pesta demokrasi tahun depan berupa Pemilu, tidak menutup kemungkinan para pemain uang palsu dan uang odong-odong alias uang amanah sibuk cawe-cawe menyusun strategi untuk nyelonong ikutan berkiprah.

Dibagian lain pengamat dunia Islam dan pegiat bisnis urusan Timur Tengah dan Eropa, Imbang Jaya meragukan opini keberadaan uang palsu dikancah pesta demokrasi mendatang. Menurutnya, uang palsu bisa beredar kapan saja dan dimana saja selama peluang itu memungkinkan.

“Uang palsu itu bisa masuk kemana pun disesuaikan dengan kepentingannya. Di Jawa Tengah dulu katanya juga ada Caleg yang memberikan uang palsu. Tapi sulit dibuktikan sehingga pelakunya sulit untuk diseret meja hukum,”kata Imbang,meyakinkan.

Dan selama biaya hidup terus meningkat dan efek jera terhadap pelaku pemalsuan uang masih ringan, sulit rasanya meminimalisir peredaran uang palsu, seperti sulitnya menghapus jargon politik palsu dan janji palsu para peserta Pemilu. (samar)

 

 

sam

No comment

Leave a Response