Benarkah Mental Illness Kerap Terjadi Pada Remaja?

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Mental Illness adalah kumpulan penyakit gangguan kejiwaan yang mempengaruhi fikiran, perasaan dan perilaku seseorang. Gangguan kejiwaan ini membuat penderita sulit untuk mengetahui perilaku yang dianggap normal dan tidak. Sebagian besar gangguan kesehatan mental muncul pada masa remaja di awal usia 20-an. Para peneliti dari Harvard Medical School menemukan separuh dari kasus gangguan mental dimulai dari usia 14 tahun dan tigaperempat terjadi sejak usia 24 tahun. Karena kemunculannya yang sangat dini maka terapi dan penanganannya harus dilakukan sejak awal pula.

Penyebab terjadinya Mental Illness ada banyak faktor, bisa karena stress, depresi, menglami tekanan yang begitu dalam terhadap mental atau traumatic akan kehilangan sesuatu atau seseorang.  Tekanan batin karena lingkungan sekitar atau orang tua, kurang perhatian atau kasih sayang dan lain lain. Hal ini sebagai salah satu penyebab para remaja stress atau depresi memutuskan untuk mengkosumsi obat terlarang dan minuman keras.

Orang yang memiliki Mental Illness sering mengalami hal hal seperti : 1) Sering merasa sedih dan tidak punya harapan. 2) Munculnya keinginan mengakhiri hidup. 3) Tidak bisa mengendalikan diri sendiri. 4) Sering takut akan sesuatu tanpa alasan. 5) Perubahan pola makan yang drastis. 6) Mood Swing atau suasana hati yang bisa berubah kapan saja. 7) Sering memikirkan suatu hal dengan berlebihan. 8) Suka menyakiti diri sendiri.

Gejala Mental Illness tergantung dengan gangguan dan jenis yang dialami. Gangguan kepribadian cluster A cenderung mengalami kesulitan berhubungan dengan orang lain, berperilaku aneh dan eksentrik. Gangguan kepribadian Cluster B kesulitan berhubungan dengan orang lain dengan menunjukan pola perilaku yang doanggap dramatis, tak menentu, mengancam atau menganggu. Gangguan kepribadian Cluster C takut terhadap hubungan pribadi dan menunjukkan kegelisahan dan ketakutan di sekitar orang lain.

Seperti pengakuan Karin Novilda atau biasa disapa Awkarin yang dia unggah di youtubernya. Dia mengklarifikasinya soal mengapa ia sempat menghilang dari Instragram. Karin menceritakan masalah Mental Illness yang dialaminya. Dia beranggapan orang Indonesia kurang mengetahui dengan baik soal Mental Illness, malu membicarakannya atau mengakui bila mengalami hal itu.

Saat di bangku SMA dia pernah mengalami keluar masuk RS karena upaya bunuh diri (Attemp of suicide)karena depresi. Awalnya dia takut menceritakan keadaanya, bahkan berprasangka orang lain akan mengatakan dirinya tidak waras.

" Aku takut kehilangan sesuatu mungkin seseorang entah pacar, sahabat atau keluarga. Aku takut kehilangan akan sesuatu, situasi, moment dan semua yang telah aku punya. Aku takut tergantikan, takut nggak jadi yang terbaik untuk seseorang, " katanya.

Karin melewati masa depresi selama 2 tahun. Dia enggan menceritakan ke orangtua atau teman-temannya. Kesadarannya muncul setelah dirinya mencoba berjalan ke arah yang lebih baik seperti menonton motivational speech, dan membaca buku motivasi yang membuat dirinya bangkit.

Namun selama kelas 2 sampai kelas 3 SMA Karin sudah tidak mengalami depresi lagi disaat sedang marak maraknya hujatan haters di Instagramnya.

Saat dirinya masuk di sebuah management dengan asal dia menandatangani kontrak,  ternyata dirinya diberi brand image "bad girl" yang mengharuskan ia tampil tidak sesuai dengan jati dirinya. Depresi yang ia alami kambuh lagi setelah dia dituduh penyebab kematian dari seseorang.  Tanpa tahu sebenarnya  semua orang menunjuk bahwa dia penyebab kematian seseorang. Denga kabar yang beredar di masyarakat yang sebenarnya Kari dan teman temannya sendiri tahu kebenarannya, mereka menganggap dialah penyebabnya. Management yang selama ini dianggap sebagai keluarganyapun meninggalkanya karena mereka ditunjuk sebagai penyebab kematian orang itu.

Intinya Karin ditinggalkan oleh management bahkan mendapat  bully-an dari seseorang dengan kata kata kasar " dasar pembunuh you dont deserve to live lo yang seharusnya mati ". 

Salah satu hal positif yang Karin dapatkan dari Mental Illness adalah perkataan yang menjatuhkannya, pengalaman hidupnya dapat menjadikan sebagai pribadi yang telah bangkit. Dia sukses menjalankan bisnis selama 1 tahun bahkan management yang dulu ia bangun. Akhirnya masyarakat memberikan penilaian positif tentang dirinya.

Karin adalah pengidap Mental Illness yang sukses bertahan hidup dan tidak malu mengetahui keadaan sesungguhnya. Seseorang yang mengidap atau memiliki Mental Illness tidak berbahaya bagi orang lain dan sekitarnya, tapi berbahaya pada diri sendiri. Sebaiknya kita harus peka dan peduli dengan Mental Illness ini. Seorang remaja mengalami hanya dengan kasih sayang dan perhatianlah akan menjadi penguat semangatnya ketika mengalami depresi.

Peran orangtua sangat penting, dia harus peka terhadap perilaku dan kebiasaan anak anaknya. Cobalah raih agar mereka merasa nyaman untuk bercerita dan melupakan semua perasaan kepada orangtuanya. Jangan sampai anak anak mengalami masa Mental Illness nya sendiri mereka takut dan malu untuk menceritakan keadaanya.

Jadilah orangtua yang tidak keras tapi tegas yang membuat mereka nyaman berada di dekatnya. Jangan sampai anak merasa kurang perhatian dan dikucilkan. Jadilah manusia yang peka terhadap lingkungan, stop bullying karena kita tidak akan tahu akibat setelahnya.

Konsultasi bukan sesuatu yang dihindari atau ditakuti, bahkan bisa mengetahui banyak hal baik untuk diri sendiri, seperti cara menghilangkan ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu, cara menenangkan diri ketika depresi dan menghindari hal buruk di saat Mental.Illness kambuh.(tasya sabilla/LSPR/hen)

sam

No comment

Leave a Response