Benarkah AS Tuntut Hukuman Mati Hambali?

 

Matamatanews.com,AMERIKA SERIKAT—Hambali alias Riduan Isamuddin asal Indonesia yang dipersangkakan pemerintah Amerika Serikat sebagai pelaku bom Bali dan aksi teror  lainnya,kemungkinan besar akan dijatuhi hukuman mati. Seperti dilansir ABC Australia pada Senin  (3/7/2017) lalu,Hambali didakwa telah melakukan sejumlah serangan  atau aksi teror di Australia,Singapura,Indonesia,Filipina dan Thailand.

Aksi teror Hambali seperti tertera dalam dakwaan, selain Australia,Singapura,Indonesia,Filipina dan Thailand,ia juga dituding melakukan aksi teror di Johor,Malaysia dan Bandara Changi,Singapura . Di Singapura Hambali menebar teror dengan plot serupa  pengeboman menara kembar World Trade Centre 11 September 2001 dengan cara membajak pesawat lalu menabrakannya ke lokasi bandara,demikian salah satu dakwaan yang disematkan pada Hambali.

Hambali alias Riduan Isamuddin terlahir sebagai Encep Nurjaman di Desa Sukamanah,Cianjur,Jawa Barat pada 4 April 1966,dan pemerintah Amerika menuding Hambali sebagai pimpinan organisasi bayangan kelompok Jamaah Islamiyah (JI) Asia Tenggara.Bahkan CIA pun menjuluki Hambali sebagai “Osama bin Laden Asia Tenggara”.

Sepak terjang Hambali sempat membuat sejumlah komunitas intelijen dunia gaduh, dan pelariannya baru berakhir pada 11 Agustus 2003,saat ia dan istrinya ditangkap di Ayutthaya,Thailand. Hambali di tahan CIA di penjara rahasia,disini ia diinterogasi selama 3,5 tahun ,setelah itu ia dikirim  ke Penjara Teluk Guantanamo pada 2006. Meski disebut sebagai teroris,Hambali ditahan tanpa dakwaan.

Kini nama Hambali mendadak ramai dibicarakan dan  kembali menjadi pemberitaan,bahkan Jaksa militer Amerika Serikat mendakwa pria kelahiran Cianjur ini dengan dua kasus terorisme mematikan di Indonesia. Langkah itu bisa saja menjadi kasus tribunal pertama pada era pemerintahan Donald Trump.Hambali didakwa sebagai dalang Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang, termasuk 7 warga Amerika Serikat dan pemboman Hotel Marriott di Jakarta pada 2003 yang menewaskan 11 orang dan melukai 140 lainnya.

Pada malam terjadinya Bom Bali, Hambali dilaporkan memberikan instruksi pada anteknya dari sebuah kamar hotel di Kamboja. Namun, belakangan, ia diduga "tak mengira orang sebanyak itu tewas" dan bahwa ia "terkejut dengan dampaknya". (samar/reuters/kr/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response