BPOM dan Polri Temukan Gudang Obat Ilegal

 

Matamatanews.com,JAKARTA---Badan Reserse Kriminal Mabes Polri yang di dampingi tim dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) melakukan penggeledahan terhadap lima gudang penyimpanan obat-obatan ilegal di kompleks pergudangan Surya Balaraja. Tepatnya di Blok E-19, F-36, H-16, H-24, dan I-19, Jalan Raya Serang Kilometer 28, Balaraja, Tanggerang, Banten. Dari hasil penggeledahan tim gabungan menemukan 42.480.000 butir obat senilai Rp 30 miliar. “ Obat yang ditemukan didominasi oleh obat-obat yang dapet menimbulkan efek Halusinasi”, terang Kepala BPOM Penny K. Lukito, dalam konfrensi pers, di Mabes Polri, Jakarta.

Berikut beberapa jenis obat yang ditemukan saat penggeledahan :

Trihexyphenydyl dan Heximer : Kedua jenis obat ini di kenal sebagai anti-parkinson, apabila obat ini digunakan secara berlebihan, dapat menimbulkan ketergantungan dan dapat mempengaruhi aktivitas mental. Analgetika/Tramadol : Termasuk obat anti nyeri, jika di konsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan efek Halusinasi. Carnophen dan Somadryl : Memiliki kandungan bahan aktif carisoprodol, jika berlebihan dapat menimbulkan efek Halusinasi. Dextrometorphan : Jenis obat antitusif atau obat batuk, jika disalahgunakan dan pemakaian secara berlebihan dapat menimbulkan efek Halusinasi, dextrometorphan dalam bentuk sedian tunggal sudah dilarang  peredarannya oleh BPOM sejak 2013.

Kemudian ditemukan juga obat tradisional merek Pa’e, African Black Ant, New Anrat, Gemuk Sehat, dan Nangen Zengzhangsu. Semua produk obat tersebut tidak terdaftar di BPOM dan nomor izin edar yang tercantum dalam obat hanyalah fiktif. Selain itu obat-obat tersebut sudah masuk dalam daftar Public Warning badan BPOM karena mengandung bahan kimia obat Sildenafil Sitrat yang biasa disalahgunakan sebagai obat penambah stamina pria (obat kuat).

Menurut Penny, modus kejahatan pelaku antara lain, memproduksi obat yang telah dibatalkan nomor izin edarnya serta mencampurkan bahan kimia ke dalam obat yang mempunya nomor izin edar. Pelaku bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Kemudian tim juga menyita barang bukti lain berupa mixer, mesin pencetak tablet, mesin stripping dan filling.

Wakil Kepala Bareskrim Inspektur Jenderal Antam Novambar menjelaskan, Operasi ini dikembangkan dari adanya penyalahgunaan Carnophen dan dari hasil penyelidikan delapan bulan yang lalu. BPOM menambahkan, penyaluran bahan baku Carnophen ilegal di Jakarta kemudian pada tahun 2015 Polri menemukan salah satu pelaku terbesar produksi dan distribusi Carnophen di wilayah Kalimantan Selatan. Penny menuturkan “ Berkat temuan yang besar ini, diharapkan masyarakat cerdas dalam memilih obat yang dikonsumsi dengan cara mengecek nomor izin edarnya. Serta pastikan kemasan dalam kondisi yang masih baik dan masa berlaku obat tidak melewati batas kadaluwarsa”. (atep/tempo/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response