Dalam Dokumen Rahasia,Snowden Sebut Indonesia Disusupi Mata-Mata Australia

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Dokumen Rahasia yang diterbitkan  mantan kontraktor intelijensi Amerika Serikat,Edward Snowden ,menunjukkan bahwa kegitan intelijensi Australia terhadap Indonesia melibatkan adanya penetrasi massif terhadap jaringan telepon Indonesia serta pengumpulan data secara luas, dan bahwa kegiatan ini bukan hanya membidik tersangka teroris ataupun tokoh-tokoh kunci di bidang politik.

Dokumen-dokumen yang dilaporkan di The York Times telah membeberkan rincian-rincian baru mengenai bagaimana Direktorat Sinyal Australia (Australian Signal Directorate) menawarkan pada rekannya di Amerika Serikat hasil pengamatan terhadap suatu biro hukum Amerika yang mewakili Indonesia dalam perselisihan dagang dengan Amerika Serikat. Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan tingkat kerja sama antara Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (United State National Security Agency-NSA) dengan Direktorat Sinyal Australia untuk pertama kalinya menunjukkan akses badan spionase elektronik Australia terhadap sistem komunikasi nasional Indonesia.

Menurut sebuah dokumen NSA 2012, Direktorat Sinyal Australia telah mengakses data panggilan secara bulk dari Indosat, penyedia telekomunikasi satelit domestik Indonesia, termasuk data mengenai pejabat-pejabat Indonesia di berbagai kementerian negara. Suatu dokumen yang dibuat tahun lalu menyatakan bahwa Direktorat Sinyal Australia telah mendapatkan nyaris 1,8 juta master key terenskripso, yang dipergunakan untuk melindungi komunikasi pribadi, dan telah menemukan cara untuk mendekkripsikan hampir semua kode master key tersebut.

Terbongkarnya tindak mata-mata tersebut terjadi pada saat Sekretaris Negara Amerika Serikat ,John Kerry,sedang berada di Indonesia untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri,Marty Natalegawa. Tetapi, juru bicara dari Menteri Koordinasi Urusan Keamanan dan Politik Indonesia,Djoko Suyanto ,menyatakan bahwa dirinya tidak merasa khawatir, mengingat bahwa pemerintah Indonesia tidak membahas informasi rahasia melalui telepon. Tetapi beliau kembali menyindir Perdana Menteri Tony Abboth karena berita tahun lalu, di mana Australia telah menyadap telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan orang-orang terdekat beliau.

“Perdana Menteri Tony Abboth  dapat meminta maaf kepada Presiden SBY seperti halnya Barack Obama meminta maaf kepada Angela Merkel. Kami telah meminta klarifikasi mengenai apa yang telah disadap oleh Australia, tetapi  sejauh ini kami belum mendapatkan respon,” kata jubir Agus Barnas. Hari Senin,Abboth menyatakan bahwa pemerintah tidak berkomentar dalam urusan keamanan,”Kecuali untuk menyatakan bahwa Australia harus memiliki operasi intelijensi yang kokoh. Intelijensi Austrlia sangat instrumental dalam mencegah terjadinya banyak serangan teroris,termasuk di Indonesia.”.

“Apabila media ingin terus membicarakan hal semacam ini, tidak terelakkan lagi masalah ini akan mendominasi percakapan yang ada menurut saya,mendominasi percakapan dengan cara yang tidak membantu,” katanya kepada radio ABC. The New York Times juga melaporkan Direktorat Sinyal Australia secara spesifik mengamati komunikasi antara pemerintah Indonesia dana suatu biro hukum Amerika Serikat yang mewakili Jakarta dalam perselisihan dagang dengan Amerika Serikat. Menurut buletin bulanan dari kantor penghubung NSA di Canberra tertaanggal februari tahun 2013,Australia menawarkan untuk berbagai komunikasi yang telah ditangkap, termasuk’informasi yang termasuk dalam lingkup kerahasiaan kuasa hukum dengan klien”.

Pejabat penghubung Amerika Serikat meminta arahan dari pengacara internal NSA, mengingat adanya pembatasan legal di Amerika Serikat mengenai hal menjadikan warga negara ata perusahaan dari Amerika Serikat sebagai target pengawasan tanpa adanya surat perintah. Dengan adanya persetujuan dari Markasa Besar NSA di Fort Meade, Maryland, Direktorat Sinyal Australia. “Berhasil melanjutkan pengawasan terhadap perecakapan yang ada. Sehingga menyediakan informasi intelijensi yang sangat berguna bagi para pelanggan yang berkepentingan di Amerika Serikat”.

Hari Minggu,Abboth menyatakan bahwa Australia  tidak akan pernah menggunakan informasi intelijensi yang telah dikumpulkannya untuk tujuan komersial. Beliau berkata bahwa Australia tidaklah menggunakan informasi intelijensi yang telah dikumpulkan “untuk membahayakan negara-negara lain”. Kami menggunakannya agar bermanfaat bagi kawan-kawan kami,” katanya. “Kami jelas-jelas tidak menggunakan informasi tersebut untuk keperluan komersial.” (samar/Snowden Operation)

 

 

sam

No comment

Leave a Response