Desa Blederan Siap Menjadi Desa Wisata Sayuran Organik

 

Matamatanews.com, WONOSOBO—Desa Blederan adalah merupakan salah satu dari 264 desa yang ada di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah,  berlokasi sekitar 6 km arah utara dari pusat kota. Dengan luas 107,177 ha ketinggian 800 meter diatas permukaan laut dan bersuhu sejuk 22-30 derajat pada siang hari dan 15-20 derajat di malam hari,  desa ini sangat cocok untuk budidaya tanaman sayur sayuran.

Desa yang terbagi dua dusun yaitu Klesman dan dusun Blederan ini,  menjadi perhatian Pemerintah Daerah Wonosobo atas prestasinya ' menghijaukan' desa dengan berbagai macam sayuran organiknya.  Pihak Pemda (pemerintah Daerah)  menurunkan team pendamping LPTP ( Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan)  didukung oleh AQUA sebagai CSR, mendorong desa ini menjadi Desa Wisata Sayuran Organik.

Menurut HM Mutaqin tokoh masyarakat setempat,  kegiatan ini dirintis sejak tahun 2013 di dusun Klesman dan tahun 2015 di dusun Blederan. " Sebenarnya tahun 2018 ini akan launching sebagai Desa Wisata Sayuran Organik pak " kata Mutaqin kepada Matamatanews.com kamis ( 6/9). 

“Kami sedang menyusun kepengurusan, program kerja, serta pembenahan dan inventarisir tanaman di tiap RT,  katanya.  Ada dua pengelola yaitu Kelompok Wanita Tani Mashitoh dan Kelompok Wanita Tani Munawaroh.  Mutaqin juga menjelaskan media yang digunakan adalah polybag, sedangkan nutrisinya dari pupuk kadang yang dicampur  dengan merang atau kulit padi. Pencampuran ini menunggu selang waktu 2 sampai 3 hari, hingga proses penanaman dimulai.  Jenis sayuran yang dibudidayakan meliputi muncang,  selada,  kubis,  bentul,  kemangi,  sawi, kocai dan berbagai macam bunga.  Ibu ibu PKK lah yang rajin merawatnya pak, dan mereka melakukanya pada malam hari jika menyiraminya,” kata Mutaqin sambil menunjukan foto kegiatannya. 

Untuk proses pemanenan tergantung jenis tanaman, ada yang 2 bulan, 3 bulan bahkan tanaman kocai yang paling cepat sekitar satu minggu.  Hasil penjualannya dikelola oleh masing masing  kelompok sebagian disisihkan untuk biaya perawatan tanaman,  budidaya tanaman yang baru, membeli media tanam, dan perawatan penyangga tanaman apabila rusak.

" Kami berusaha semaksimal mungkin agar cita cita kami menjadi Desa Wisata Sayuran Organik ini bisa terwujud" katanya bersemangat.  Tapi kendala yang selama ini dihadapi selalu ada. Mutaqin menjelaskan ada dua kendala,  yang pertama munculnya rasa bosan pengelola pada saat proses tanam, perawatan dan pemanenan,  kurangnya kekompakan warga serta kelangkaan pupuk.  Kendala yang kedua sifatnya umum yakni menumpuknya sampah setelah kunjungan wisatawan, tempat parkir yang belum maksimal serta homestay yang menjadi prioritas perhatian pengelola.

" Tolong diinformasikan ke rekan atau saudara ya pak, bahwa desa kami siap untuk kunjungan wisata, " kata Mutaqin sedikit promosi.  Kami sangat bangga jika kelak desa Blederan ini menjadi wakil di tingkat nasional sebagai desa percontohan. (hendro)

 

sam

No comment

Leave a Response