Diskriminasi Agama Di Perusahaan Mobil Amerika

 

Matamatanews.com, AMERIKA SERIKAT – Sekitar enam belas pria muslim menuntut pimpinan perusahaan pemasok mobil Amerika Serikat (AS), Brose Jefferson. Mereka merasa didiskriminasi karena agama yang mereka anut yakni Islam. Enam belas karyawan yang bekerja di perusahaan itu disuruh memilih antara agama dan pekerjaan mereka.

Secara tidak langsung, Brose meminta mereka mengundurkan diri karena lebih memilih menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Awal dari permasalahan ini terjadi ketika karyawan muslim meminta perubahan waktu istirahat selama bulan Ramadhan.

Para karyawan yang beragama Islam meminta agar jam makan mereka dimundurkan, dari pukul 19.00 menjadi 21.00, bertepatan dengan waktu buka puasa, usulan tersebut disampaikan oleh karyawan yang kebetulan mendapat jam kerja dari pukul 14.00 sampai 22.00 waktu setempat.

Namun, Permohonan perubahan jam istirahat itu ditolak oleh perusahaan. Justru karyawan yang mengusulkan hal tersebut diminta menentukan mana yang lebih penting, agama atau pekerjaan mereka. Maka mereka pun memilih mengundurkan diri.

Minggu (30/07/2017), Dilansir dari Independent, Cary McGehe, salah satu kuasa hukum yang mewakili karyawan mengatakan, “Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan disebutkan dengan jelas bahwa seorang atasan memiliki kewajiban untuk mengakomodasi permintaan karyawan, selama itu masuk akal. Terlebih jika itu berkaitan dengan keyakinan mereka. Namun Brose gagal melakukan hal itu,” ujarnya.

“Dari penyelidikan dan diskusi dengan klien kami, tidak ada perbedaan dalam kebutuhan produksi perusahaan pada tahun ini jika pihak perusahaan mengabulkan permintaan tersebut,” tandasnya.

Meski demikian, pihak Jefferson tetap mengelak telah mengintimidasi karyawannya. Pihaknya mengatakan bahwa setiap permintaan dari karyawan pasti dipertimbangkan secara hati-hati.

Perusahaan tersebut menyatakan bahwa, perusahaan itu adalah satu-satunya tempat yang menerima keberagaman ras, etnis, gender, generasi dan agama para karyawannya.

“Sayangnya, tahun ini sekelompok pria Muslim tidak puas dengan akomodasi yang dijalankan perusahaan dan memilih hengkang daripada mendiskusikan masalah ini lebih lanjut. Brose tidak berniat membawa kasus ini ke ranah media, tetapi fakta-fakta yang dicantumkan dalam siaran pers mantan karyawan kami tidak benar,” lanjut pernyataan tersebut. [Did/Md/Berbagai Sumber]

sam

No comment

Leave a Response