Glaukoma, Penyebab Kebutaan Terbesar Setelah Katarak

 

Matamatanews.com, JAKARTA – Glukoma merupakan gangguan penglihatan yang ditandai dengan adanya kerusakan pada saraf optik yang disebabkan oleh tekanan di dalam mata. Menurut data yang didapat oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), glaukoma menjadi penyebab masalah kebutaan terbesar di dunia setelah penyakit katarak.

Penyebab glaukoma       

Terjadi peningkatan tekanan di dalam mata (tekanan intraokular), hal tersebut disebabkan karena produksi cairan mata yang berlebihan maupun karena terhalangnya saluran pembuangan cairan tersebut. Tekanan tersebut dapat merusak jaringan saraf yang melapisi bagian belakang mata (serabut saraf retina) dan saraf optik yang menghubungkan mata ke otak.

Cairan mata (aqueous humour) merupakan zat yang penting dan terdapat didalam mata, zat tersebut menghasilkan tekanan yang digunakan untuk menjaga bentuk mata. Zat tersebut diproduksi dan dialirkan secara konstan dari mata ke aliran darah melalui saluran drainase yang disebut dengan trabecular meshwork.

Pada mata normal, cairan mata mengalir dengan stabil dan tekanan terjadi pada batas yang aman, sedangkan untuk penderita glaukoma, aliran dari cairan mata akan terganggu dan tekanan dalam mata akan mengalami peningkatan.

Gejala-gejala dari glaukoma itu sendiri dapat berupa nyeri pada mata, mata merah, mata berkabut, melihat bayangan lingkaran di sekeliling cahaya, sakit kepala dan penglihatan yang semakin mengalami penyempitan sampai akhirnya tidak dapat melihat objek.

Jenis-jenis glaukoma

Terdapat dua jenis glaukoma yang paling umum di temukan yakni glaukoma sudut tertutup dan glaukoma sudut terbuka. Selain itu, terdapat jenis glaukoma lain yang jarang ditemukan yakni glaukoma sekunder dan glaukoma kongenital.

Pada glaukoma sudut tertutup, tekanan terjadi di dalam mata karena drainase yang buruk akibat dari kanal pembuangan yang tertutup oleh sempitnya sudut antara kornea dan iris. Penyakit tersebut banyak ditemukan di wilayah-wilayah asia.

Kemudian pada glaukoma sudut terbuka terjadi karena cairan mata tidak mengalir dengan baik. Hal tersebut disebabkan karena terjadi permasalahan di dalam saluran mata yang disebut dengan trabecular meshwork.

Sedangkan untuk glaukoma sekunder disebabkan oleh peradangan yang terjadi pada lapisan tengah mata (uveitis) atau cidera pada mata. Sementara untuk glaukoma kongenital terjadi karena kelainan pada mata (kondisi bawaan sejak lahir) dan terjadi pada anak-anak.

Pengobatan yang dapat dilakukan

Kerusakan mata yang diakibatkan oleh penyakit glaukoma tidak dapat diobati secara total, namun pengobatan tersebut dilakukan untuk mengurangi tekanan intraokular pada mata dan juga untuk mencegah meluasnya kerusakan pada mata. Glaukoma dapat diobati dengan menggunakan obat tetes mata, pengobatan laser, obat minum dan operasi.

Pada umumnya, dokter akan menyarankan menggunakan obat tetes mata untuk melakukan penanganan pertama pada penderita. Terdapat beberapa jenis obat tetes mata yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit glaukoma, yakni Alpha–adrenergic agonists (brimonidine), Beta-blockers (levobunolol hydrochloride dan betaxolol hydrochloride), Prostaglandin analogue (travoprost, bimatoprost), Carbonic anhydrase inhibitors (dorzolamide), Cholinergic agents (pilocarpine) dan Sympathomimetics (brimonidine tartrate).

Sementara itu, untuk melengkapi kinerja obat tetes mata, dapat dibarengi dengan menggunakan obat minum seperti Carbonic anhydrase inhibitors. Obat tersebut mempunyai efek samping sakit perut, jari tangan atau kaki kesemutan, batu ginjal, sering buang air kecil dan depresi.

Pengobatan dengan menggunakan laser terdiri dari tiga teknik yakni Trabeculoplasty, Iridotomy dan Cyclodiode Laser Treatment. Kemudian untuk pengobatan dengan cara operasi terdapat beberapa prosedur yakni Trabeculectomy, Aqueous shunt implant, Viscocanalostomy dan Sclerectomy dalam. (Atep/ad/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response