JIFARA, Sniper Mujahidah Suriah Sang Pembunuh dalam Kesunyian

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Sejak pertama kali dibentuk, sniper atau lebih dikenal dengan sebutan “Penembak Jitu” telah menjadi sebuah mesin perang andalan yang menakutkan. Tidak terlihat, senyap, namun sangat mematikan merupakan karakter utama dari para sniper. Keefektifan dalam membidik,keahlian menyamar, dan ketenangan dalam melakukan itu semua menjadikan mereka memiliki citra yang mengerikan seperti kematian itu sendiri.

Di antara sekian banyak kisah heroik para sniper dunia, salah satunya adalah kisah seorang perempuan Suriah yang dikenal dengan nama “Jifara” yang menjadi andalan pemberontak di kota barat laut Suriah untuk melawan tentara rezim Bashar  al-Assad. Penembak jitu itu berusia 36 tahun, dan di kalangan pemberontak dikenal dengan sebutan Guevara, mengadopsi nama tokoh revolusioner asal  Argentina, Ernestioa “Che” Guevara.

Di masa damai, Guevara adalah seorang guru bahasa Inggris yang duduk di dalam sebuah kelas di Aleppo, Suriah. Namun, kini dengan mengenakan jaket, celana panjang berwarna hijau, tetap mengenakan jilbab, Guevara duduk di reruntuhan bangunan, menunggu munculnya pasukan pemerintah, sebelum dia melepaskan tembakan.
Perempuan lembut yang pernah menjadi guru itu akhirnya berubah 180 derajat menjadi seorang pejuang yang siap membunuh siapa pun,kapan pun, dan dimana pun.Guevara, yang keberatan menyebut nama aslinya itu termotivasi kematian kedua anaknya hingga memutuskan menjadi penembak jitu dan menjadi momok menakutkan bagi para prajurit perang lainya di Suriah.

Kedua anaknya itu, seorang putri berusia 10 tahun dan putra berusia 7 tahun, tewas saat serangan udara pasukan pemerintah menghantam kediaman keluarga Guevara. Kehilangan kedua buah hatinya membuat Guevara menyimpan bara amarah. Kini, dia merasa lega setiap kali peluru yang dilepaskannya membunuh seorang prajurit pasukan pemerintah.

"Pekerjaan" barunya ini, kata Guevara, membutuhkan kesabaran, kecepatan, dan kecerdasan. Tak jarang dia harus duduk berjam-jam menunggu jalanan kosong dari warga sipil yang kemudian digantikan pasukan pemerintah.Jika tiba saatnya harus menembak, maka Guevara mengatakan dia memiliki target membunuh empat atau lima anggota pasukan Pemerintah Suriah dalam sehari.

"Menembak mereka membuat saya merasa lega. Setiap kali saya bisa mengenai satu tentara, saya selalu berteriak 'yes!'," katanya. Sejauh ini memang tidak ada yang tahu identitas rinci tentang perempuan bernama Guevara ini, ia hanya dikenal sebagai seorang mantan guru yang kini berubah menjadi singa betina di medan pertempuran di Suriah. Jifara sendiri merupakan  julukan yang diberikan kepada  wanita ini oleh atasannya. Jifara adalah dialek Arab dari nama Guevara.

Darah Palestina
Memiliki darah Palestina, si penembak jitu itu kepada harian Telegraph mengatakan, perkenalan pertamanya dengan senjata adalah di kamp pelatihan militer di Lebanon yang dikelola kelompok militan Palestina, Hamas. Bahkan jauh sebelum pemberontakan terhadap rezim Bashar al-Assad pecah pada musim semi 2011, Guevara mengatakan dia sudah menentang Assad dengan menerbitkan surat kabar oposisi saat kuliah di Universitas Aleppo.Dia bahkan menjadi anggota organisasi politik bawah tanah untuk warga Palestina yang terus merencanakan penggulingan rezim Assad.

Pernikahan pertamanya kandas karena suaminya bukanlah seorang revolusioner seperti dirinya. Saat sang suami mencegahnya berjuang, Guevara bahkan mengancam akan meninggalkan suaminya dan menikahi komandan pemberontak.Meski kini menjadi seorang sniper, Guevara tetaplah seorang perempuan.

Dia mengatakan kerap terjaga di tengah malam dan menangisi kematian kedua buah hatinya dan semua kekerasan yang telah dia saksikan. Satu-satunya kebahagiaannya kini adalah pekerjaan berbahaya yang dilakukannya sekarang. "Saya suka bertempur. Saat saya melihat satu teman dalam divisi saya tewas, maka saya harus membalaskan dendamnya," ujar Guevara.

Sniper merupakan momok, teror mengerikan yang terus menghantui setiap  orang yang turun dalam medan pertempuran. Bahkan saking menakutkannya, pada masa perang Kemerdekaan Amerika, para jenderal dan perwira Inggris  rela melepaskan berbagai tanda kepangkatannya agar  terbebas dari bidikan para sniper prajurit kemerdekaan Amerika. Dan kini Jifara pun melakukan hal serupa terhadap para tentara rezim Bashar al-Assad di medan pertempuran, dor...dor... * (bar/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response