Kapal Perang Inggris Merapat Di Laut Cina Selatan

 

Matamatanews.com, SYDNEY – Kamis (27/07/2017), Menteri Pertahanan Inggris, Michael Fallon menyampaikan bahwa, Inggris berencana mengirimkan kapal perang ke Laut Cina Selatan pada tahun depan, untuk melakukan latihan kebebasan navigasi. Namun pernyataan Fallon tersebut justru memicu kemarahan Cina.

Laut Cina Selatan yang kaya akan sumber daya itu diklaim oleh Cina, hal serupa juga dilakukan Brunei, Taiwan, Filipina, Malaysia dan Vietnam yang juga mengklain wilayah tersebut.

Fallon juga mengungkapkan, setelah mengirim empat pesawat tempur untuk menggelar latihan gabungan dengan Jepang pada tahun lalu, kini Inggris akan memperkuat kehadirannya diwilayah perairan Laut Cina Selatan dengan menghadirkan kapal perang.

 “Kami berharap, pada tahun depan bisa mengirimkan sebuah kapal perang ke wilayah. Kami pun belum menentukan dimana persisnya akan mengirim kapal, namun kami tidak menginginkan Cina membatasi kapal kami untuk berlayar di Laut Cina Selatan”, kata Fallon.

Rencana kehadiran kapal perang Inggris di Laut Cina Selatan dapat meningkatkan ketegangan diwilayah yang sedang memanas itu, apalagi dengan sikap angkatan laut Cina yang kian agresif.

Meski dikecam oleh dunia internasional, untuk membatasi pergerakan bebas dan memperluas jangkauan strategis, Cina telah membangun pulau buatan dan fasilitas militer di wilayah Laut Cina Selatan. Pergerakan Inggris ini pun dapat memperburuk hubungannya dengan Beijing, apalagi kedua negara itu menyebut hubungan mereka saat ini pada “era emas” dimana saat ini Inggris dalam proses keluar dari Uni Eropa (UE).

“Kami menerbangkan RAF Typhoon di Laut Cina Selatan pada Oktober silam, dan kami akan menggunakan hak itu kapan pun kami memiliki peluang melakukannya, kapan saja kami memiliki kapal atau pesawat di kawasan itu,” tandas Fallon.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) memperkirakan Beijing telah menambahkan lebih dari 1.300 hektar di tujuh titik di Laut China Selatan dalam tiga tahun terakhir, termasuk membangun landasan pacu, pelabuhan, hangar pesawat, dan peralatan komunikasi. 

Untuk menghadapi agresi Cina, AS menggelar latihan kebebasan navigasi yang membuat Cina marah. Awal bulan ini AS telah mengirimkan dua pesawat bomber ke wilayah Laut Cina Selatan, hanya beberapa bulan setelah mengirim satu kapal perang untuk menggelar latihan manuver, yang jaraknya hanya 12 mil dari pulau buatan Cina.

Cina telah berkali-kali mengecam negara-negara yang berusaha untuk terlibat dalam sengketa Laut Cina Selatan. Isu Laut Cina Selatan, diperkirakan akan menjadi perbincangan dalam pertemuan kemanan regional di Manila pekan depan, dimana Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi akan bertemu para Menteri Luar Negeri dari negara-negara anggota Asosiasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Rabu (26/07/2017), Dalam pertemuan ASEAN di Beijin, Wang Yi mengatakan,”Kedua belah pihak harus mengesampingkan perselisihan dalam isu Laut Cina Selatan dan mempertahankan momentum yang positif.” ujarnya.

Sementara itu, awal pekan ini Duterte menyatakan pemerintahannya sedang berunding dengan China terkait kerja sama pengeboran sumber daya alam di laut sengketa. Langkah tersebut meredam beberapa tahun ketegangan sebelumnya antara Manila dan Beijing.

Meski Duterte telah mengungkapkan rencana itu, namun Menteri Luar Negeri (Menlu) Filipina Alan Peter Cayetano kemarin menegaskan, negaranya akan berkonsultasi dengan sembilan negara anggota ASEAN tentang rencana tersebut. 

“Ini tidak akan menjadi aksi sepihak dari Filipina, karena tujuan Presiden adalah perdamaian dan stabilitas, serta aksi sepihak oleh siapa pun memicu kekacauan,” kata dia.

“Di sana juga akan ada konsultasi dengan seluruh anggota ASEAN karena kami ingin menjaga stabilitas di sana,” lanjut Alan.

Duterte meredam konflik maritim dengan Cina, karena mendapat imbalan investasi dan perdagangan dari Beijing bernilai miliaran dolar. Dia juga menolak menggunakan keputusan pengadilan internasional tahun lalu yang memojokkan klaim Beijing atas sebagian besar wilayah maritim tersebut.

Pendahulunya, Benigno Aquino, mengajukan gugatan ke pengadilan internasional dan pada 2015 menghentikan aktivitas eksplorasi Filipina di Reed Bank, tempat Manila dan Beijing memiliki klaim wilayah yang sama. [Did/Berbagai Sumber]

sam

No comment

Leave a Response