Kegaduhan Demokrasi Para Garong Duit Negara

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Ruang publik lagi-lagi disuguhi dagelan konyol dipanggung pengadilan. Saksi dan terdakwa kasus korupsi kerap dengan enteng dan mudah melontarkan jurus tidak tahu, tidak ingat,tidak kenal dan lupa guna menghindar dari jerat hukum. Di bagian lain, dia atas bis kota, para preman berkedok pengamen mengancam dengan alasan baru keluar dari penjara dan butuh uang makan. Seribu atau dua ribu tidak akan membuat ibu-bapak miskin,teriak mereka dengan nada mengancam.

Bukan itu saja, masih ingat ketika angkutan  kota pun ada juga yang telah dijadikan tempat untuk melampiaskan nafsu : memerkosa mahasiswi dan pedagang sayur pada tahun 2012 lalu?. Selain  itu ada juga premanisme yang dikemas atas nama organisasi kemasyarakatan (Ormas), mereka bersaing menawarkan jasa pengamanan atau penagihan utang (debt collector). Bahkan tidak jarang mereka ada yang menjadi tukang pukul kalangan berduit untuk menakuti dan menindas kalangan tidak mampu.

Kejahatan yang bersumber dari kebodohan biasanya sangat menjengkelkan hati dan menghimpit perasaan. Akan tetapi yang membuat darah mendidih dan membangunkan daya juang tertinggi adalah kejahatan yang diselenggarakan oleh kepandaian. Kita dikepung oleh terlalu banyak kejahatan, baik dalam sentuhan sehari-hari di lingkaran kecil pergaulan kita, maupun dalam skala besar kenegaraan.

Kita sudah tidak terkejut oleh banyaknya kriminalitas,keanehan kejadian dalam masyarakat, hancurnya logika dalam politik dan birokrasi atau mentradisinya korupsi atau kolektif dan ‘jamaah’ kolusi. Itu semua membengkak dan semakin menumpuk dari hari ke hari, sehingga kita tenggelam di dalamnya.

Wajah masa depan negeri ini untuk sebagian sungguh ditentukan oleh kemampuan negara mengatasi persoalan besar yang kita hadapi hari ini. Kegagalan mengatasi persoalan hari ini akan membawa persoalan yang jauh lebih besar lagi di masa mendatang. Kini emosi publik semakin tercabik dan diaduk oleh sikap pemerintah dan para politisi di DPR.

Kini publik seolah dipaksakan dengan berbagai kegaduhan yang menggelikan,kekanak-kanakkan dan berlebihan seakan para petinggi hukum keok oleh akal bulus para garong uang negara. Ganyang mafia ternyata tidak sekedar akselerasi perang terhadap korupsi,akan tetapi lebih dari itu adalah pengakuan bahwa kita sesungguhnya kalah dalam berperang melawan para bandit ,garong dan mafia korupsi.

Bangsa ini, kini mengalami kejadian-kejadian yang besar yang termuat di dalamnya kejahatan-kejahatan.itu berlangsung secara berkala,terus-menerus dan tidak bisa diyakini akan berakhir. Maling-maling kecil kita tumpas langsung, maling-maling besar kita ributkan beberapa saat kemudian kita lupakan, dan esoknya kita ekspos besar-besaran di berbagai media untuk penampilan barunya yang marketable bagi hitungan ekonomi berita sambil kita hapus utang-utang besarnya di hari kemarin kepada bangsa ini.

Kini kita mengakui dijajah mafia korupsi,preman dan politisi busuk, tetapi pikiran dan konstruksi penegak hukum masih terpaku pada konstruksi prosedural. Dan terkutuk bagi seorang mafia bila mau meninggalkan buktinya berceceran dimana-mana. Karena bagi mafia,selain mampu berkelit dan mengeduk keuntungan, dia juga harus pandai berbohong. Dan untuk mengungkap dan membongkar kebohongan para mafia adalah tugas polisi. Mafia,preman,koruptor serta politisi busuk bisa diberantas bila ada keberanian untuk menggunakan kekerasan hukum yang di dasari nurani, akal sehat dan perilaku yang lurus,sehingga kita bisa terhindar dari tudingan miring bahwa kita sesungguhnya juga kapan-kapan bisa sah dan berani membiarkan orang mencuri,karena diam-diam kita juga ingin diizinkan untuk sewaktu-waktu mencuri. (samar)

sam

No comment

Leave a Response