Lagi, Notaris Dijadikan Tersangka

 

Matamatanews.com, TANGERANG—Lagi seorang notaris dijadikan tersangka dan berujung di Pengadilan, dengan tuduhan penggelapan dan pemalsuan.Sebagai notaris, Muhammad Irsan,SH sedikitpun tidak menyangka bahwa dirinya akan tersandung masalah dan didakwa  sebagai pelaku penggelapan.

“Mending kalau saya yang melakukan, saya siap bertanggung jawab bang,” kata pria yang akrab disapa Irsan ini ketika ditemui diruang kerjanya, Selasa (02/10/2018),kemarin. Kini dugaan kriminalisasi terhadap profesi notaris  kembali terulang setelah notaris Theresia Pontoh yang sempat menghebohkan itu menggelar unjuk rasa di depan gedung Mahkamah Agung dan Istana Negara pada 2014 silam.

Kini kasus dugaan penggelapan dan pemalsuan terhadap notaris Muhammad Irsan ,SH men jadi sorotan banyak pihak lantaran berujung di pengadilan. Padahal seperti diakui Irsan, ia sama sekali tidak menikmati dan melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan.

Perkara  No:PDM-74/TNG/3/2018 yang ditujukan terhadap Irsan sebenarnya bisa diurai dan diselesaikan,,karena para saksi korban telah menerima pembayaran entah sebagai uang muka maupun pembayaran bertahap sebesar Rp 1 miliar yang dikirim melalui rekening Bank BCA  oleh saksi Rivan dan dari Hartawan Wijaya. Meski transaksi atah tanah SHM No.1157 Gandaria utara masih berupa  akta pengikatan jual beli seperti yang tertera dalam pembelaannya.

Dalam persidangan, Irsan memperlihatkan  minuta Akta Pengikatan jual beli  No.36 tanggal 29 September 2017 antara RM. Ardhanariswara –Budhi Nugraha sebagai penjual dengan saksi Rivan Putra Yuwono sebagai pihak pembeli termasukmemperlihatkan surat asli berupa KTP, KK, dan akta cerai dari RM.Ardhana  Riswara –Budhi Nugraha .

"Selain itu, sebelum pengikatan jual beli dilakukan dihadapan Irsan,saksi Rivan sebelum membeli  melakukan pengecekkan fisik lokasi bangunan yang akan dibeli," jelas Irsan. Semua itu diterima Irsan saat penandatanganan Akta Pengikatan Jual Beli di Kantor HW Property di ruko Cordoba  Pantai Indah Kapuk milik Hartawan Wijaya seperti yang dituliskan Irsan dalam pledoiinya.

Irsan mengaku sama sekali belum pernah  bertemu dengan saksi korban sebelumnya, hanya berupa berkas yang diterima itupun oleh karyawannya yang bernama  Ari Trijaya. Kemudian lanjut Irsan melalui Nadya sertifikat No.1157 Gandaria Utara tersebut dititipkan untuk dilakukan pengecekan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Berdasarkan ciri fisik orang, penjual yang sudah dilihat sendiri maupun copy fisik dokumen asli dianggap telah cocok maka akta pengikatan jual beli dibuat.Kemudian dilakukan penandatanganan akta Pengikatan Jual Beli." Sebagai Notaris tentunya saya menyerahkan sertifikat asli Kepada  Rivan sebagai pembeli karena sudah ditanda tangani," terang Irsan.

Dengan munculnya pengaduan dari kakak korban Ardhanariswara, yaitu Meliantha akhirnya menimbulkan permasalahan baru."Bagaimana mungkin saksi korban palsu,karena jelas ciri fisik dari Ardanariswara," kata Irsan.Lucunya, dalam persidangan, Ardhanariswara mengaku telah menerima uang pembayaran dari jual beli tanah SHM No.1157 Gandaria Utara dari saksi Rivan Putra Yuwono yang dikuatkan dengan bukti transfer Bank BCA atas nama saksi korban, meski saksi korban mengakui belum lunas. Selain itu sertifikat asli No.1157 Gandaria Utara disita polisi dari tangan Rivan Putra Yuwono. Artinya sudah terjadi jual beli yang sah.

Perlahan tapi pasti dugaan rekayasa kriminalisasi terhadap notaris  Muhammad Irsan,SH ,semakin menemukan titik terang. Muncul kesan kuat perkara yang ditimpakan kepada Muhammad Irsan itu dipaksakan.Dari sejumlah sumber  yang ditemui menilai bahwa kasus pidana yang menimpa notaris Muhammad Irsan,SH seharusnya cepat diselesaikan dan diprioritaskan penanganannya agar perkara ini tidak bergulir kesana-kemari.

Bila memang bersalah segara siapkan pembuktian yang kuat termasuk pernyataan dan hasil survey kelayakan dari berbagai instansi terutama yang berhubungan dengan hukum.”Ini menyangkut nasib orang dan profesi lho,kalau bersalah dan dibidik dengan pasal pidana harus dilengkapi dengan pembuktian yang kuat, bukan asumsi dan tangkap dulu,urusan belakangan. Dan bila notaris itu sudah tidak imun lagi dan dilindungi undang-undang ya harus dibuatkan pengukuhannya,jangan main bidik.Karena tersangka pun harus dipenuhi hak-haknya sebagai tersangka,” jelas pengamat dunia Islam dan pegiat bisnis untuk Timur Tengah dan eropa, Imbang Jaya dimintai pendapatnya.

Akankah kasus ini berakhir happy ending seperti yang diinginkan Muhammad Irsan? Entahlah, yang jelas dia berharap kasusnya tidak dijadikan bulan-bulanan oleh segelintir pihak hanya demi kepentingan sesaat. (Togun/samar)

sam

No comment

Leave a Response