Lomba Kokok Merdu Ayam Pelung Segera Digelar

 

Matamatanews.com, BANYUMAS -Lomba menikmati Kokok Merdu Ayam Pelung rencananya akan diadakan pada pada hari Minggu (22/09/19) mulai pukul 08.00 - selesai di Desa Pancurendang Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Selain itu Kongber peternak dan penggemar ayam pelung akan bertemu dan berdiskusi tentang tata cara pemeliharaan ayam pelung agar dihasilkan  suara yang maksimal saat lomba.

"Acara dilanjutkan dengan latihan lomba untuk persiapan lomba tingkat nasional dengan mendatangkan juri Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Nusantara (HIPPAPN) dari Cianjur," kata Ka.Dept.Humas Pengurus Pusat KAUNSOED (Keluarga Alumni Unsoed) Alief Einstein setelah mendapat informasi dari panitia.

Dalam perbincangan antara Einstein dengan alumni Fakultas Peternakan Unsoed Agus Triyanto mengungkapkan bahwa ayam pelung adalah ayam endemik asli Indonesia tepatnya di Jawa Barat. 

"Irama yang khas membuat siapa yang pertama mendengar akan terheran-heran apalagi kalau terdengar kokok pada dini hari. Postur besar, kaki hitam, mata hitam tajam, serta pial (jeber) lebar menjulang tegak keatas merupakan ciri khas dari fisik ayam pelung yang menjadikan ayam ini terlihat gagah, " papar Agus.

Agus Triyanto yang juga Ketua Panitia Kongber menjelaskan bahwa dirinya bersama komunitas di wilayah BARLINGMASCAKEB (Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Purbalingga) menggalang acara KONGBER ke 6 untuk memperkenalkan Ayam Pelung di Wilayah tersebut. Agus menambahkan acara sebelumnya digelar di Desa Piasa Wetan Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara dan sukses diadakan dengan 2 Kelas dan 3 Kategori. Atas dasar suksesnya acara di Banjarbegara tersebut, selanjutnya diadakan lagi acara serupa pada hari Minggu tanggal 22 September 2019 tepatnya di Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas dengan tema “Ayam Itu Dinikmati Merdu Suaranya, Bukan Diadu Ketangkasannya”.

Menurut Agus ANIMAL WELFARE atau kesejahteraan satwa berdasarkan UU No 18 Tahun 2009 adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. 

"Berdasarkan undang undang tersebut, Komunitas Ayam Pelung yang dinaungi oleh HIPPAPN merasa apa yang kami senangi ini tidak melanggar undang-undang, karena kami menyayangi ayam kami dan bukan mencederai atau bahkan mengadu dengan ketangkasannya, "jelas Agus yang juga Kasi Pemerintahan Desa Pancurendang Kec. Ajibarang Kab.Banyumas.

Pria kelahiran Banyumas 13 Agustus 1993 ini menambahkan, Kongber Ayam Pelung atau kata lain adalah "ngumpul" penggemar dan bernilai (dilombakan) dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenalkan ayam pelung di daerah Jawa Tengah khususnya Ajibarang Banyumas. Kategori yang dinilai atau dilombakan adalah :

1. Kategori Suara,

2. Kategori Penampilan,

3. Kategori Bobot.

Kategori Suara merupakan kategori utama dari perlombaan Ayam pelung, ini dinilai berdasarkan dasar suara, nada/irama yang dihasilkan, dan keserasian bunyi yang dilantunkan oleh ayam-ayam peserta, untuk penilaian ini panitia mendatangkan seorang Juri Nasional yang kebetulan pengamat pelung asli Banyumas, kategori suara yang diambil adalah peringkat 1-10.

Kategori kedua adalah Penampilan, kategori ini adalah menilai dari postur, bulu, dan keserasian tubuh ayam yang disesuaikan dengan ciri-ciri khas ayam pelung. Kategori ini memperebutkan juara 1-3.Kemudian terakhir adalah kategori bobot dimana 3 bobot ayam paling tinggi yang diambil menjadi juara 1 sampai 3.

"Tujuan lain dari acara ini adalah untuk silaturahim, bincang-bincang mengenai ayam pelung mulai dari harga pasaran, kualitas ayam pelung, sampai tata cara pemeliharaan ayam pelung agar ayam tetap sehat apalagi menghadapi perubahan musim yang menjadi "momok" bagi para peternak, " imbuhnya.

 Agus berharap acara-acara seperti ini dapat dikerjasamakan dengan dinas-dinas terkait dan perguruan tinggi. Bila dapat bekerjasama dengan dinas-dinas terkait dan perguruan tinggi diharapkan dapat bersama-sama mengembangkan Ayam Pelung secara murni atau pemurnian gen sehingga ayam pelung yang dihasilkan akan berkualitas. 

Adapun kriteria ayam secara keseluruhan yang bisa ikut di lombakan menurutnya adalah ayam yang belum pernah juara baik tingkat "LATBER" sampai Kontes Besar. Hal ini bertujuan untuk melatih mental ayam ayam muda yang potensial untuk kontes yang lebih besar lagi. Kontes besar itu sendiri rutin di laksanakan di seluruh Indonesia misalnya pada tanggal 29 September 2019 di Sukabumi Jawa Barat dan pada bulan Oktober 2019 di Jogja. Dengan dilaksanakan Kongber seperti ini diharapkan dari Banyumas dan sekitarnya dapat berpartisipasi di kancah yang lebih besar.

Berikut daftar acara Komunitas Ayam Pelung :

a. Kongkur yakni "ngumpul-ngumpul" sesama penggemar ayam pelung diisi acara silaturahim dan bertukar fikiran tentang ayam pelung,

b. Kongber acaranya sama dengan kongkur tetapi mendatangkan juri nasional untuk menilai latihan lomba. Dalam pelaksaan Kongber, komunitas membuat panitia kecil untuk mempersiapkan hadiah/piala serta sertifikat.

c. Latber artinya adalah Latian bernilai, "event" ini bisa mengundang peserta lomba dari luar daerah.

d. Kontes Besar yakni kontes ayam pelung yang jadwalnya sudah di tentukan di Pusat HIPPAPN dan diurutkan dari masing-masing daerah.

e. Kontes Utama /Nasional disebut  MAMADJARKASIH "event" tahunan atau "event" paling tinggi / paling bergengsi.

Harga Ayam Pelung

Harga ayam pelung saat ini bervariasi. Di daerah Banyumas dan sekitarnya anakan ayam pelung umur 0 - 1 bulan biasa di patok harga 100 ribu rupiah per pasang, umur 2 - 3 bulan 250 sampai 300 ribu rupiah per pasang. Untuk ayam yang sudah "kokok" harga ditentukan dari kualitas kokok. Ayam yang kokoknya biasa harga antara 300 - 500 ribu rupiah per ekor akan tetapi ayam yang suaranya bagus antara 750.000 sampai 1.500.000 rupiah, dan ayam yang sudah punya sertifikat atau pernah juara harganya 1.500.000 rupiah ke atas. Bahkan ada yang sampai 17 juta rupiah untuk se ekor ayam pelung.

Agus Triyanto Peduli Ayam Pelung

Awal mula Agus menyukai ayam pelung yaitu pada saat kuliah di Fapet Unsoed mengikuti farm visit yang diadakan UKM UP3 Fapet Unsoed ketika mengunjungi peternakan Ayam Pelung di Cianjur (tahun 2014). Agus berusaha untuk mengenal komunitas ayam pelung dengan cara mencari di sosial media. Ternyata ada komunitas di Barlingmascakeb dan saat itu dia mulai silaturahmi ke penggemar ayam pelung. 

Agus bercerita saat kecil memang suka beternak ayam, tetapi ketika itu ia pelihara ayam kampung biasa tetapi hasilnya tidak menutup modal. Hasil silaturahmi tersebut membuahkan hasil yakni seringnya berdiskusi dengan komunitas ayam pelung, akhirnya Agus memiliki rasa senang dan teman-temannya juga menunjukkan empatinya. Sebagai puncak kepedulianya Agus mulai ikut acara kongber di Piasa.

Kontes pertama yang dia ikuti adalah di Cirebon, walaupun saat itu Agus belum mempunyai ayam pelung, tetapi berangkat bersama komunitas rasanya senang. Puncaknya Banyumas ditunjuk menjadi tuan rumah Satria Pelung Nusantara bulan Nobember 2018. Setelah itu dia berangkat ke Bandung dan Klaten. Di Bandung, Agus mendaparkan materi ayam pelung dari Pusat Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Nusantara (HIPPAPN) sehingga membuatnya semakin suka dengan ayam pelung.

Saat ini ayam pelung  hasil ternaknya terdiri dari 3 ayam betina, 2 ayam jantan, 3 jejangkar (jejangkar yakni ayam muda yang baru belajar kokok), dan anakan. Agus berharap semua ayam pelung yang diternakkan "pas berkokok" saat dilombakan, memiliki suara yang masuk ke dalam kategori ayam pelung untuk kontes.*(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response