Mahasiswa Fakultas Pertanian Unsoed Kembangkan Sambung Cirung

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO—Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, terdiri dari Anis Inarotul Fuadah, Rifa Azzahro, dan Riany Aulia  tengah mencoba mencari solusi terhadap busuk akar terong dengan cara memanfaatkan Cimongkak atau terong pipit. Cimongkak atau bahasa latinnya Solanum Toryum adalah tanaman liar yang masih satu jenis dengan terong.

Tanaman ini memiliki perakaran yang tahan terhadap penyakit busuk akar. Karakter perakaran cimongkak kemudian dimanfaatkan Anis, Rifa, dan Riany guna memperkuat perakaran terong dengan cara menyambung bibit terong dengan bibit Cimongkak dengan tekhnik dua kaki yang disebut Cirung akronim dari Cimongkak-Terung.

Terung atau lazim disebut terong adalah tanaman yang rentan terkena penyakit  busuk  akar, dan penyakit ini biasanya disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum yang tergolong masih bakteri tular tanah dan mampu bertahan di tanah dalam kurun yang lama. Selain itu, bakteri ini juga bisa menyerang sebagian besar tanaman lain dari geus solanum.

Pengolahan tanah maupun pergantian tanaman tidak dapat mengurangi penyebaran penyakit ini pada lahan budidaya terung. Cirung adalah hasil inovasi di bidang pertanian terutama pada budidaya terung yang rawan terkena busuk akar. Untuk itu, hadirnya Cirung diharapkan mampu mengatasi permasalahan busuk akar pada budidaya terung hingga mampu meningkatkan produksi.

Kementerian Riset,Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi sendiri mengapresiasi gagasan Cirung ini dalam bentuk fasilitas penelitian Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada Skim PKM-PE  yang diketuai Anis Inarotul Fuadah, mahasiswa Program Studi Agrotekhnologi angkatan 2014 dengan dosen pendamping Dyah Susanti,SP,MP (dosen fakultas pertanian Unsoed).

Meski masih dalam tahap penelitian, penyambungan antar spesies dengan cara menggunakan hormon alami dari air kelapa dan bawang merah ini cukup besar presentase keberhasilannya, bahkan mulai memasuki fase pembungaan. Inovasi ini diharapkan menjadi sumbangsih Unsoed bagi petani dan pengusaha hortikultura, serta menjadi karya nyata generasi muda pertanian Indonesia.

Dosen pendamping, Dyah Susanti,SP,MP yang juga menjabat sebagai peneliti produksi tanaman di lahan marginal Fakultas Pertanian Unsoed,mengatakan dari penelitian sebelumnya interspecific grafting tekhnik dua kaki ini cukup efektif digunakan pada beberapa tanaman yang masih satu jenis. Salah satu contohnya adalah pada penyambungan tanaman cengkeh dengan pucuk merah.

Teknik interspecific grafting (penyambungan antar dua spesies) dua kaki pada kedua tanaman ini telah terbukti mampu mengatasi permasalahan perakaran pada cengkeh zanzibar di Pulau Bintan Kepulauan Riau yang memiliki jenis tanah podzolik merah kuning. Reaksi masam serta kondisi miskin hara pada tanah ini mengakibatkan cengkeh zanzibar berproduksi rendah dan lama berproduksi.

Dengan teknik sambung dua kaki ini, grafting cengkeh zanzibar-mampu berproduksi lebih tinggi dan lebih cepat dapat dipanen. Keberhasilan pada cengkeh tersebut memberikan keyakinan tim peneliti dan pendamping bahwa teknik sambung dua kaki pada cimongkak – terung ini juga akan mampu meningkatkan produksi terung sekaligus mengantisipasi terjadinya penurunan hasil akibat busuk akar. (cam)

sam

No comment

Leave a Response