Mampukah kaum Milenial Memiliki Rumah di Ibukota?

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Generasi X dikenal sebagai istilah Generasi Milenial atau Gen Y juga sering disebut sebagai generation me atau echo boomers sedang hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat mulai dari segi pendidikan, perkembangan teknologi, budaya maupun moral. Atau bisa dikatakan Generasi penerus bangsa yang akan menggantikan generasi sebelumnya atau baby boomers.

Tapi meski mereka digadang-gadang sebagai bunga bangsa, apakah mereka mempunyai potensi untuk memiliki atap untuk berteduh dikemudian hari dengan kondisi  harga properti yang terus melonjak tak sebanding dengan pendapatan dan gaya hidup  mereka saat ini. 

Komposisi penduduk milenial di Indonesia cukup besar yaitu 90 juta jiwa dari 240 jiwa total penduduk atau sepertiga dari jumlah penduduk. Angka yang cukup dominan, bukan? Tidak jauh berbeda jumlah milenial di Ibu Kota mendominasi sekitar 30% mereka bertempat tinggal dan mempunyai kehidupan di sini.

Generasi muda sudah berhasil mengubah dunia baik dari Indonesia maupun dunia. Contohnya seperti yang dikatakan Michael H. Hart seorang penulis Barat yang terkenal dalam bukunya "The 100 a Ranking of The Most Influential Persons in History" menuliskan bahwa Nabi Muhammad sebagai pemimpin yang paling berpengaruh di dunia.  Atau contoh dari  dalam dalam negeri,  Nadiem Makarin sebagai Co-Founder & CEO GO-JEK yang membuat inovasi bidang transportasi online.

Generasi Milenial adalah generasi yang paling dahsyat terdampak Globalisasi. Kita bisa berkomunikasi tanpa batas dari jarak yang hampir dikatakan tidak mungkin. Seperti yang dikatakan Fukuyama hal tersebut bisa menjadi salah satu gangguan yang harus dihadapi oleh kaum Milenial. 

Globalisasi membawa dampak turunan salah satunya dari sisi bisnis, orang dengan gampangnya meeting melalui video call. Sedangkan dari sisi konsumsi, efek sosialnya adalah orang menjadi lebih konsumtif karena kemudahan untuk membeli. Mereka lebih mementingkan perjalanan hidupnya karena akan menjadi topik pembicaraan saat mereka hangout. Menurut Doglas Boneparth kaum milenial  tidak punya tujuan finansial yang jelas, umumnya berpenghasilan besar  tapi banyak yang gagal dalam mengelola keuangan.

Lantas, mampukah Generasi ini membeli hunian nyaman di Jakarta? Jawabannya adalah  bisa  mereka akan tinggal di Apartemen. Di beberapa kota di negara lain sudah terjadi dan berhasil. Kondisi ini menjadi salah satu solusi  bagi pemerintah dan para pengembang. 

Pola pikir manusia lah yang harus diubah, terutama bagi Milenial yang sedang merintis dan membangun keluarga demi melanjutkan kehidupan lebih sejahtera. Milenial bisa mempunyai rumah dengan atap tetapi tidak di Jakarta, melainkan di daerah pinghiran. Pola pikir yang harus dirubah yaitu Milenial tidak harus mempunyai hunian dan pekerjaan di Jakarta, seperti mereka kerja di Ujung Berung dan memiliki rumah di Jakarta. Melainkan, Milenial dicarikan kerja di tempat lain dan memulai kehidupan  di lingkungan tersebut dengan membeli rumah yang masih di ring satu di area itu.(Syahnun Ayu Rasady, mahasiswi London School of Public Relations, Jakarta,jurusan Public Relation/hen)

 

sam

No comment

Leave a Response