Mengejar Potensi Pasca Covid-19

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Amerika Serikat menjadi salah satu contoh negara yang terdampak atas kekhawatiran pandemi penyakit virus corona 2019 (Covid-19). Angka pengangguran tercatat sebagai lonjakan tertinggi sepanjang sejarah Amerika Serikat, padai April 2020 telah mencapai 20,5 juta orang. 

"Langkah pemerintah AS mengunci wilayah (lockdown) untuk memerangi virus corona berdampak besar pada perekonomian dan berimbas kepada lapangan pekerjaan, " ungkap Tim Promosi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Ir.Alief Einstein,M.Hum. usai bincang-bincang dengan alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed Rudi Sutanto, SE., MBA.

Apa yang kemudian dilakukan oleh Amerika Serikat? Menurut Rudi Sutanto yang juga praktisi profesional,  pemerintah menandatangani RUU paket stimulus untuk memulihkan ekonomi akibat pandemi virus Covid-19, pada tanggal 27 April 2020. Jumlahnya mencapai US$ 2 Triliun atau setara Rp 30 ribu triliun, dan menjadi paket stimulus terbesar sepanjang sejarah, totalnya mencapai >10% dari PDB. 

Kondisi yang sama, menurut Rudi juga dilakukan lebih dari 190 negara, di antaranya: 

•Australia dan Singapore 10,9 % terhadap PDB

•Malaysia 10% terhadap PDB

• sedangkan Indonesia baru menganggarkan 2,5% terhadap PDB.

Rudi menjelaskan bahwa dalam situasi pandemi Covid-19, peran pemerintah menjadi "faktor utama dalam menopang kegiatan ekonomi". Berikut pemaparannya tentang Penggunaan Anggaran, Mengapa Dilakukan, Fragile, New Landscape dan New Landscaping, kemudian Peluang dan Peran Civitas Academica, serta Perguruan Tinggi.

1. Penggunaan Anggaran

Secara umum, anggaran untuk memulihkan ekonomi digunakan untuk:

a. Social safety net (pelayanan publik, bantuan tunai, penanganan covid-19),

b. Fasilitas pinjaman-moratorium utang-kredit dan hibah untuk UMKM,

c. Penyelamatan perusahaan,

d. Pembelian obligasi pemerintah pusat dan daerah,

e. Kelonggaran pajak,

f.  Penurunan suku bunga,

g. Subsidi,

h. Upah cegah PHK.

2. Mengapa Dilakukan

a. Untuk menjaga tetap berputarnya roda ekonomi “sebagai "guarantee the level of household consumption",

b. Menjaga daya beli masyarakat agar tidak runtuh, pada saatnya cepat  melakukan recovery ibarat menjaga “tanur baja supaya tetap menyala”.

3. Fragile

Dimana para korporasi raksasa, konglomerasi dan para taipan" ?, ternyata tidak dapat berbuat banyak, alias fragile

4. New Landscape dan New Landsaping

Anggaran Rp 405 triliun, masih terfokus untuk  social safety net, belum menyasar secara masif. Misal iklim usaha UMKM, saat PSBB kondisinya porak-poranda, posisi pinjaman mencapai Rp1.035 triliun (Sept 2019, BI). Terdapat kurang lebih 64 juta unit UMKM yang cenderung "distress", dan sektor terbesarnya adalah Pertanian-Kehutanan-Perikanan dengan jumlah 38,1 juta orang, di samping sektor perdagangan dan industri pengolahan.

Rudi menegaskan, apa mungkin meningkat anggarannya ?.

a. New Landscape

Situasi saat ini, memperlihatkan “ekosistem publik dan ekonomi” cenderung berubah membentuk New Landscape tatanan dunia baru :

1) Structural environmental yang berbeda,

2) Hubungan antar manusia menuju - momentum perimbangan secara lebih terhormat,

3) Memperbaiki inner balance (masyarakat yang lebih bersosialisasi),

4) Kepedulian akan hidup sehat,

5) Rantai pasokan akan cenderung  terdiferensiasi secara lebih merata,

6) Pertemuan ruang publik menjadi selektif,

7) Meningkatnya nilai keluarga.

b. New landsaping

New landsaping cenderung mengubah tatanan ekonomi dan perilaku bisnis :

1) Menurunnya denominasi kaum kapitalis, dan perekonomian rakyat menuju equilibrium kesetaraan usaha,

2) Meningkatnya kebutuhan komunikasi daring, termasuk berkembangnya e’commerce e’business, dan lainnya,

3) Meningkatnya kepedulian publik terhadap sesama.

5. Peluang dan Peran Civitas Academica Pasca-Covid-19

Dengan memperhatikan PERPPU 1/20 dan POJK Nomor 11/POJK.03/2020, peluang dan peran apakah yang dapat dilakukan civitas academica yang mencakup perguruan tinggi dan alumninya setelah Covid-19 berakhir ?.

 

a. Diperlukan peran secara riil  dan pro-aktif  "straight ahead" untuk mengejar potensi, atau  cukup puas menunggu sebagai  follower, atau sekedar sebagai penonton saja?.

b. Padahal, negara, dunia bisnis, dan masyarakat sangat membutuhkan:

1) Integrasi seluruh potensi yang ada, apapun fakultas dan kepentingannya  sudah saatnya berkolaborasi, bersedia  menjadi  "a small part of the component" untuk berjuang  bersama, dengan strategi yang lebih baik.

2) Membantu dan mempersiapkan UMKM, Koperasi bidang Pertanian (menyeluruh) , untuk melakukan re-strukturisasi utang (pre dan post strukturisasi),  mempersiapkan proses merger peleburan,  konversi ekuitas (hibrid instrumen),

3) Menyusun "shift in business model",  dengan teknologi terapan yang handal, link dengan e’bisnis dan platform yang sesuai, serta  memiliki kemampuan akses "funding", menstruktur sistem kelembagaan yang mapan (sustainable), dan menjadikan UMKM, Koperasi yang solid dan valueable.

6. Kenapa Perguruan Tinggi ?

a. Perguruan tinggi merupakan lembaga terpercaya, independen,  tatanan "full disclosure" dan tidak memiliki benturan kepentingan.

b. UMKM, Koperasi, industri menengah, membutuhkan campur tangan ahli: bidang hukum, pertanian, kesehatan, teknologi informasi, biologi, peternakan, ekonomi, teknis dan semua aspek dari civitas academica lainnya untuk berkolaborasi dan terintegrasi memainkan orkestra tanah air agar Indonesia Bangkit.(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response