Menguak Penembakan Presiden Mesir Anwar Sadat

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Selasa, 6 Oktober 1981, sebuah parade militer dilangsungkan dihadapan Presiden Mesir Anwar el Sadat dan Wakil Presiden Hosni Mubarak. Tepat pukul 9.00 waktu setempat, aba-aba parade militer diberikan. Suasana berubah gemuruh mesin-mesin perang dan derap sepatu lars tentara, pecah oleh datangnya sebuah truk yang hanya berjarak 40 yard dari mimbar sang presiden.

Letnan Khalid Al-Islambuli, perwira muda berusia 24 tahun memerintahkan sang sopir untuk turun dari truk. Khalid kemudian melemparkan granat untuk menimbulkan kekacauan pada parade.

Sersan Atha Thayyal Hamidah juga ikut melemparkan granat di antara truk dan mimbar presiden. Seorang penambak jitu, Hasan Abbad Muhammad, menjadi eksekutor yang membidik tepat dada Anwar el-Sadat dan langsung menewaskannya. Para eskekutor dengan lantang menyatakan bahwa mereka telah berhasil membunuh thagut (setan) dan menganggap penembakan tersebut sebagai jihad demi kejayaan Islam.

“Saya memohon kepada Allah Subhanallahu Ta’ala agar diberi kehormatan untuk membuat diktator itu membayar dosa-dosanya. Saya tidak benci terhadapnya. Saya seorang muslim, saya mengerjakan sholat. Saya berbuat demikian hanya demi kejayaan Islam.” Kata Abbas Muhammad.

“Saya membunuh Anwar Sadat,, tapi saya tidak bersalah. Saya telah melakukan perbuatan itu dengan niat jihad demi agama dan demi negeri saya.” Jelas Khalid Al-Islambuli

Khalid Pendengar Setia Khotbah Faraj

Khalid Al-Islambuli adalah jamaah dari Abdussalam Faraj, seorang petinggi dan sosok penting di dalam Tanzim Jama’ah Jihad Mesir. Khalid adalah seorang pendengar setia khotbah-khotbah Faraj. Intensitas pertemuan yang tinggi membuat Khalid berkenalan dan bergabung dalam kelompok Abdussalam Faraj.

Kebencian kepada Sadat telah dimulai sejak 1974, ketika Sadat mengubah arah kebijakan ekonomi Mesir peninggalan Gamal Abdul Nasser, yang sebelumnya antikapitalis menjadi terbuka kepada ekonomi liberal barat. Tujuannya untuk mengundang masuk investor asing ke negeri puncak peradaban itu. Kekacauan kemudian terjadi ketika pada 1977, Sadat dengan sengaja membatalkan subsidi kepada rakyat miskin, terutama pada sektor pangan.

Hal ini sejalan dengan prinsip nonsubsidi yang dianut pada sistem liberal. Bonus dan kenaikan gaji juga dibatalkan sepihak oleh Sadat. Mendadak, penghapusan subsidi ini menimbulkan kemarahan rakyat yang berujung kepada revolusi dan menewaskan ratusan orang di Mesir.

Demi  mempertimbangkan kerusakan besar akibat pembakaran berbagai gedung dan fasilitas negara oleh rakyat yang murka, akhirnya Sadat menghentikan program penghapusan subsidi tersebut. Situasi pun dapat dikendalikan.

Namun, kedekatan Sadat kepada Amerika Serikat dan Israel semakin memperuncing jarak dirinya dengan para penentang imperialis Yahudi dan Amerika Serikat. Pada tahun 1981, puncak kekesalan mujahidin (orang yang berjuang demi membela agama) kepada presiden Anwar Sadat tidak terbendung lagi dengan pengakuan Mesir terhadap kemerdekaan negara Israel di atas tanah rakyat Palestina.

Inilah yang  membuat para ulama Rabbani dan Jihadis geram sehingga Syaikh Umar Abdurrahman mengeluarkan fatwa mati terhadap Anwar Sadat.  Di antara pihak-pihak yang membenci persekutuan Sadat dengan Israel adalah Abdulsalam Faraj. Letnan Khalid  Al-Islambuli mengusulkan ide pembunuhan terhadap Anwar Sadat kepada Abdulsalam Faraj. Pada awalnya, Faraj ragu untuk menyetujui. Faraj khawatir kalau hal itu akan menyingkap gerakan tersebut.

Abud Az-Zumar, penasihat militer Faraj yang berpengalaman pada masalah intelijen menolak operasi itu karena dapat membongkar  gerakan mereka. Tapi, Khalid tetap mendesak untuk memanfaatkan momentum parade militer untuk membunuh Anwar Sadat dan menjamin para eksekutor akan terbunuh secara bergiliran. Khalid mengatakan, “ Mereka akan membunuh kami. Untuk selanjutnya, gerakan ini tidak akan terungkap.” * (cam/konspirasi dunia/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response