Merasa Tak Memenuhi Rasa keadilan,PPAK Sepakat Tunda Kenaikan Pembayaran Retribusi

 

Matamatanews.com, BUKITTINGGI—Akhirnya Pengurus Persatuan Pedagang Aur Kuning (PPAK) Bukittinggi, Sumatera Barat sepakat menunda pembayaran retribusi sebesar Rp 60.000 per meter yang dicanangkan Pemerintah Kota ({Pemkot). Menurut para pedagang, kenaikan retribusi yang ditetapkan Pemkot Bukittinggi sebesar Rp 60.000 per meter sangat memberatkan dan tidak menyentuh rasa keadilan. Biasanya retribusi yang berlaku bagi pedagang di pasar Aur Kuning sebesar Rp 10.000 per meter.

Pada prinsipnya para pedagang tidak keberatan dengan kebijakan yang dikeluarkan pihak pemerintah kota Bukittinggi sejauh kebijakan maupun peraturan tersebut tidak memberatkan. Mereka menyayangkan,bahwa peraturan maupun  kebijakan yang dicanangkan Pemkot Bukittinggi tidak melalui mekanisme musyawarah dan mufakat. Atas dasar itulah kemudian para pedagang meminta  pengurus PPAK menggelar rapat untuk menyikapi adanya surat pemberitahuan Kepala Dinas Koperasi, UKM dan perdagangan kota Bukittinggi No.007/165/DKUKMDP/BPP/II/2019 tentang pembayaran retribusi.

“Kenaikan tersebut sangat tidak masuk diakal dan sangat memberatkan bagi pedagang di Pasar Aur Kuning sehingga  pengurus sepakat untuk menunda pembayaran  kenaikan retribusi  yang ditetapkan oleh pemerintah kota Bukittinggi. Kenaikan tersebut terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan kondisi pasar saat ini, karena  daya beli masyarakat yang semakin menurun sehingga dengan adanya penerapan kenaikan retribusi tersebut sangart mencekik leher  pedagang,” ungkap Aldian Riyadi salah seorang pengurus PPAK Bukittinggi sekaligus pedagang di Pasar Aur Kuning kepada Matamatanews.com via telepon , pada Jum’at (22/2/2019) sore.

Dibagian lain Ketua PPAK Hanafi mengatakan bahwa keputusan untuk menunda pembayaran retribusi itu bukan keputusan sepihak maupun tergesa-gesa,tetapi sudah melalui proses panjang antara para pedagang dengan pengurus.Keputusan untuk menunda pembayaran retribusi sebenarnya tidak akan terjadi sejauh pihak pemerintah kota Bukittinggi mendengar dan menanggapi keluhan para pedagang.

“Sejauh ini kami sudah melakukan pendekatan keberbagai instansi terkait s eperti Kepala Dinas Koperasi,UKM dan perdagangan kota Bukittinggi, dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) bahkan kami juga telah berkirim surat ke Walikota,namun hingga kini belum ditanggapi.Kami hanya meminta pihak pemerintah kota Bukittinggi untuk meninjau ulang kebijakan kenaikan retribusi sebesar Rp 60.000 per meter tersebut,” jelas  Maisir, pengurus PPAK  merangkap pedagang di Pasar Aur Kuning.

Menanggapi keresahan kenaikan retribusi sebesar Rp 60.000 per meter oleh Pemkot Bukittinggi, pengamat dunia Islam sekaligus Ketua Lembaga Ekonomi Islam (LEI) Imbang Djaja mengatakan, sudah selayaknya aspirasi masyarakat pedagang di Pasar Aur Kuning menanggapi secara arif dan bijaksana,bukan sebaliknya  menimbulkan gejolak sosial di wilayah Bukittinggi.

“Sudah selayaknya kebijakan yang dikeluarkan itu memenuhi rasa keadilan masyarakat sehingga ketika digulirkan dan diterapkan tidak menimbulkan gejolak sosial yang tidak perlu. Dan bila persoalan ini ditanggapi dengan arogansi pejabat maka dikhawatirkan akan menurunkan wibawa dan kredibilitas pemerintah kota itu sendiri. Dan kami yakin para pedagang  bisa diajak musyawarah  untuk mufakat dalam mengatasi persoalan ini. Dan permintaan mereka sangat masuk akal dan tidak berlebihan, meminta peninjauan ulang terhadap kebijakan kenaikan retribusi yang dianggap tidak masuk akal dan memenuhi rasa keadilan,” cetus Imbang Djaja,serius.

Akankah permintaan para pedagang untuk meninjau ulang kebijakan kenaikan retribusi sebesar rp 60.000 per meter dipenuhi pihak Pemerintah Kota (Pemkot) seperti keinginan mereka? Atau sebaliknya bersikap pasip dan cuek menunggu  adanya aksi unjukrasa besar-besaran para pedagang terkait kebijakan yang dianggap kurang memenuhi rasa keadilan tersebut? Entahlah, yang aneh dalam persoalan yang cukup menghebohkan ini para  wakil rakyat di DPRD di Bukittinggi seakan belum terusik dan berminat untuk menengahi  terlebih berdiri membela kepentingan para pedagang di Pasar Aur Kuning. (cam)

 

 

 

 

sam

No comment

Leave a Response