Meski Brexit Ditolak, PM Theresa May Lolos dari Mosi Tak Percaya

 

Matamatanews.com, LONDON—Akhirnya Perdana Menteri Inggris Theresa May berhasil lolos dari mosi tidak percaya di parlemen Inggris pada Rabu (16/1/2018) kemarin, setelah sebelumnya anggota House of Commons dengan selisih suara besar tidak meloloskan renana pemisahan Inggris dari Uni Eropa yang lazim disebut Brexit.

Jeremy Corbin pemimpin oposisi utama dari Partai Buruh, mengumumkan dia telah mengajukan sebuah mosi tidak percaya terhadap pemerintah pimpinan Theresa May segera setelah hasil pemungutan suara Selasa diumumkan.Seandainya, Theresa May kalah, Inggris harus menyelenggarakan pemilihan umum.

Namun, Theresa May berhasil lolos dari mosi tidak percaya dan mempertahankan kekuasaannya. Partai Irlandia Utara yang berperan penting dalam mempertahankan pemerintahan May telah mengatakan, akan mendukung kepemimpinan May sepenuhnya.

Pemungutan suara Selasa (15/1) merupakan kekalahan terbesar untuk pemerintah, termasuk 100 anggota Partai Konservatif yang memberontak, menolak untuk mendukung persetujuan Brexit. Kekalahan yang diderita pemerintah menyebabkan perceraian Inggris dari Uni Eropa yang dijadwalkan pada 29 Maret akan menjadi kacau.

Perunding Uni Eropa Michel Barnier Rabu mengatakan, setelah penolakan parlemen Inggris, risiko perceraian tanpa rencana sangat besar.

Pemungutan suara di House of Commons atas draft persetujuan Brexit itu kini berakibat seluruh proyek Brexit menjadi tidak menentu, dan pertanyaan-pertanyaan penting tentang kapan, bagaimana, dan apakah Inggris masih akan keluar dari EU belum terjawab.

Hanya 202 anggota parlemen mendukung kesepakatan yang dihasilkan Theresa May, sementara 432 menentangnya. Theresa May punya waktu sampai Senin depan untuk menawarkan sebuah proposal baru kepada House of Commons, tetapi tidak jelas, apa yang akan dia usulkan.

Pemimpin-pemimpin Uni Eropa menolak kemungkinan untuk merundingkan kembali Brexit.Tetapi setelah kekalahan pada Selasa, pejabat Inggris berharap Brussels akan menawarkan konsesi yang bisa mengamankan dukungan dari parlemen Inggris.Bila itu terselenggara maka pemungutan suara ulang akan dilakukan atas sebuah persetujuan yang telah diamandemen.

Pemungutan suara Selasa (15/1) merupakan kekalahan terbesar untuk pemerintah, termasuk 100 anggota Partai Konservatif yang memberontak, menolak untuk mendukung persetujuan Brexit. Kekalahan yang diderita pemerintah menyebabkan perceraian Inggris dari Uni Eropa yang dijadwalkan pada 29 Maret akan menjadi kacau.

Perunding Uni Eropa Michel Barnier Rabu mengatakan, setelah penolakan parlemen Inggris, risiko perceraian tanpa rencana sangat besar.Pemungutan suara di House of Commons atas draft persetujuan Brexit itu kini berakibat seluruh proyek Brexit menjadi tidak menentu, dan pertanyaan-pertanyaan penting tentang kapan, bagaimana, dan apakah Inggris masih akan keluar dari EU belum terjawab.

Hanya 202 anggota parlemen mendukung kesepakatan yang dihasilkan Theresa May, sementara 432 menentangnya. Theresa May punya waktu sampai Senin depan untuk menawarkan sebuah proposal baru kepada House of Commons, tetapi tidak jelas, apa yang akan dia usulkan.

Pemimpin-pemimpin Uni Eropa menolak kemungkinan untuk merundingkan kembali Brexit.Tetapi setelah kekalahan pada Selasa, pejabat Inggris berharap Brussels akan menawarkan konsesi yang bisa mengamankan dukungan dari parlemen Inggris.Bila itu terselenggara maka pemungutan suara ulang akan dilakukan atas sebuah persetujuan yang telah diamandemen.(cam/voa/kj/afp)

 

 

sam

No comment

Leave a Response