Motif Peristiwa Malari 1974 Hingga Kini Misterius

 

Matamatanews.com,JAKARTA— Pada peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari), sebanyak 800 lebih mobil dan 187 sepeda motor hangus terbakar menyatu dengan kepulan asap yang membumbung di langit Jakarta. Sebanyak 11 orang tewas, 300 orang luka-luka, dan 775 orang terpaksa ditahan.

Tanggal 15 Januari 1974 menjadi hari paling buram dan memalukan bagi Presiden Soeharto. Betapa tidak, tepat saat kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta, ribuan demonstran bergerak liar membakar, melukai, bahkan membunuh. Motifnya, demonstransi antikapitalisme  Jepang di Indonesia.

Sentimen kekejaman tentara Jepang pada masa pendudukan tahun 1942 hingga 1945 mencuat menjadi isu sentral yang membakar emosi para demonstrans. Mobil dan motor buatan Jepang dibakar dimana-mana. Sedikitnya 800 lebih mobil  dan 187 sepeda motor hangus terbabakar dengan asap membumbung di langit Jakarta. Sebanyak  11 orang tewas, 300 orang luka-luka, dan 775 orang ditahan. Jumlah bangunan yang rusak 144 unit dan terjadi penjarahan massal mengakibatkan 160 kg emas raib dirampok penjarah.

Presiden Soeharto malu luar biasa dan spontan menginstruksikan tindakan keras. Sebagian sejarawan ada yang berpendapat bahwa sejak peristiwa inilah dimulai era tangan besi rezim Soeharto. Karena, ia tidak ingin terjadi lagi ada orang-orang sekitarnya yang bisa membuat dirinya malu atau membahayakn  posisinya sebagai penguasa.

Banyak orang yang menduga bahwa motif antimodal Jepang adalah pengalihan apa yang sebenarnya terjadi dalam elit militer di lingkaran satu Presiden Soeharto. Diduga terjadi perpecahan yang sangat tajam dari dua orang terdekat Soeharto, yaitu Jenderal Soemitro dan kelompok Ali Moertopo. Pertentangan ini dalam pandangan para pengamat sudah sedemikian tajam. Oleh sebab itu,muncul kecurigaan bahwa Jenderal Soemitro diisukan akan menggulingkan  rezim Soeharto. Perseteruan ini juga menginginkan agar Soemitro jatuh dari kursi Pangkopkamtib yang memiliki kekuasan militer sangat besar. Termasuk menangkapsiapa saja orang-orang yang dicurigai dapat membahayakn pemerintah,, tanpa melalui proses persidangan.

Setelah peristiwa Malari, Soeharto marah dan segera memberhentikan Jenderal Soemitro sebagai Pangkopkamtib. Kemudian mengambil alih langsung jabatan tersebut. Kepala Intelijen Negara (BAKIN-Badan Koordinasi Intelijen Negara) pun dicopot dari Soetopo Juwono dan menarik Yoga Sugomo dari New York untuk menjabat jabatan strategis tersebut. Karena peristiwa ini sangat memalukan, dalam buku Otobiografi Soeharto peristiwa Malari ini tidak disinggung sama sekali.Cukup aneh memang,mengingat yang’lebih kecil’ Petrus (Penembak Misterius) justru diceritakan di dalam biografi tersebut.

Dalam biografi Yoga (1990), peristiwa Malari tidak sepenuhnya akibat sentimen anti Jepang. Ia mengisahkan bahwa di berbagai kampus telah terjadi pematangan situasi yang diduga telah disusupi oleh kelompok Ali Moertopo untuk menjatuhkan kredibilitas Jenderal Soemitro. Hal ini tersirat dalam buku-buku yang ditulis oleh saksi sejarah, Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998). Dalam buku tersebut terlihat kecenderungan Soemitro menyalahkan Ali Moertopo yang membina orang-orang bekas Darul Islam untuk bergerak memanaskan situasi Jakarta. Disebut-sebut bahwa demonstran pada hari itu didatangkan dari wilayah Banten dengan mengerahkan preman dan tukang becak yang dibayar. Setelah peristiwa ini berakhir dengan kekalahan pada kubu Soemitro, isu antimodal atau kapitalisme Jepang pun menguap begitu saja. Tidak ada tanda-tanda kebencian terhadap kekuasan ekonomi dan tekhnologi Jepang di Indonesia. Tentu ini menjadi keanehan  yang bisa membenarkan kecurigaan bahwa memang peristiwa Malari memiliki motif tersembunyi. (samar/konspirasi dunia)

sam

No comment

Leave a Response