Nasib Petani Dan Peternak Lokal Akibat Impor Pemerintah

 

Matamatanews.com, JAKARTA – Beberapa pekan terakhir, pemerintah menyatakan bahwa Indonesia akan mengimpor beras, namun kebijakan tersebut dikeluarkan saat petani akan menghadapi panen raya. Tak ayal kebijakan itu mendapat kritikkan dari beberapa pihak serta kekecewaan dari kelompok tani. Kebijakan impor beras tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Kementerian Pertanian yang menyatakan bahwa stok beras mencukupi .

Kini peternak Indonesia kembali dirisaukan oleh rencana Bulog yang akan mengimpor daging kerbau dari India. Sejumlah peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) menolak rencana tersebut. PPSKI menilai bahwa kebijakan impor 100 ribu ton daging kerbau dari India untuk tahun 2018 tidak berpihak pada peternak lokal.

Senin (22/01/2018), Ketua Umum DPP PPSKI, Teguh Boediyana mengatakan, “Telah terbukti bahwa kebijakan impor daging kerbau di tahun lalu bagi peternak rakyat lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya,” ujarnya.

Teguh menilai pemerintah juga harus menerapkan kebijakan yang sama untuk komoditas pangan yang lainnya seperti beras dan jagung,  jika menganggap impor daging kerbau dilakukan karena melihat harga yang jauh lebih murah. Karena harga beras dan jagung di Negara tetangga pun lebih murah.

PPSKI menilai bahwa, pemerintah telah gagal mewujudkan program swasembada daging sapi pada tahun 2010 dan 2014.

“Sangat tidak adil kegagalan pemerintah sekarang ditimpakan kepada peternak sapi dan kerbau lokal dengan mengimpor daging yang murah,” ujar Teguh. 

Sementara, dengan rencana impor daging sebanyak 100 ribu ton, Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti mengatakan bahwa impor dilakukan untuk mengantisipasi kenaikkan harga daging pada bulan Ramadhan dan jelang Idul Fitri yang jatuh pada pertengahan tahun ini. Menanggapi hal tersebut, PPSKI meminta pemerintah malakukan kajian kembali atas rencana impor daging di tahun ini. [Did/Rpk/Berbagai Sumber]

sam

No comment

Leave a Response