Negeri Gaduh Para Koruptor

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Kini ,hampir  tidak ada perkara yang tidak mengundang keributan.Kekerasan, kebrutalan dan kerusuhan itu tanda paling nyata masyarakat telah kehilangan kesabaran dan akal sehatnya.Kini bangsa dan  masyarakat kita,bagaikan belum pernah beranjak dari masa silamnya , dari bakat amarah dan amuknya yang sewaktu-waktu bisa meledak.Masyarakat kita seperti mengidap temporary insinity yang menakutkan.

Kini yang banyak dipamerkan ialah emosi dan senjata. Yang diagungkan ialah kehendak dan ego menang sendiri bahkan terkadang dengan cara membunuh. Masih ingat Kerusuhan di Ogan Komiri Ilir,Sumatera Selatan beberapa waktu lalu ? Itu merupakan potret keterpurukan masyarakat dan  bangsa ini. Kini bangsa ini menjadi bangsa pemberang dan anarkis. Setiap kejadian, sekecil apapun,selalu menyimpan misterinya sendiri yang belum tentu akan bisa kita ungkapkan. Apa yang terjadi di Tarakan,Kalimantan Timur,Buol ,Sulawesi Selatan,Mesuji, dan Ogan Komering Ilir,Sumatera Selatan tidak benar-benar kita ketahui apa dan bagaimana persisnya.

Konflik  di Ogan Ilir adalah potret kelam minimnya peran masing-masing pihak dalam mengatur tensi emosi.Padahal, bukan kali pertama  peristiwa bentrokan  mencuat kepermukaan. Banyak  pengalaman konflik antar etnik, tetapi kita seolah tidak belajar dari pengalaman itu. Banyak yang menyalahkan kehiruk-pikukan ini. Demokrasi dan kebebasan yang kebablasan dianggap sebagai biang kerok yang mengakibatkan semua orang bisa berbicara dan memperdebatkan apa saja sesuka hatinya. Tetapi,terkadang kita lupa bahwa riuh rendah perdebatan di alam demokrasi harus berpedoman pada nilai dan prinsip kedaulatan hukum.Artinya,peraturan hukum, selama itu ada,harus menjadi acuan dan harus dibela dan ditegakkan.

Konflik lahan paling mutakhir terjadi antara warga Danau Lancang,Tapung Hulu ,Kampar,Riau dan PT Riau Agung Karya Abadi (RAKA) ,pada 29 Juli 2015 lalu, warga membakar 70 rumah karyawan dan kantor perusahaan. Sebelumnya ,konflik lahan juga terjadi antara warga Limbang Jaya,Tanjung Laut,Ogan Ilir,Sumatera Selatan dan PT Perkebunan Nusantara VII Cinta Manis. Bocah  berusia 12 tahun bernama Angga bin Darmawan tewas mengenaskan dan lima orang lainnya luka-luka akibat bentrokan.

Kasus Kampar dan Ogan Ilir  hanya dua dari 8.000 lebih kasus  sengketa lahan antara perusahaan perkebunan dan pertambangan dengan warga.  Dan ketika  sengketa berubah menjadi konflik,korbannya selalu di pihak warga.Dari catatan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), dari Januari hingga Juli 2015 terdapat 23 korban meninggal terkena tembakan. Dan celakanya, dalam setiap konflik polisi cenderung berpihak kepada perusahaan. Padahal, semestinya Polri melayani dan melindungi rakyat.

Pangkal persoalan sebenarnya ialah kegagalan negara melaksanakan reformasi agraria. Kegagalan itu tampak dari ketidakadilan distribusi lahan. Ada sekitar 20 juta petani saat ini yang tidak memiliki tanah sejengkal pun, namun segelintir pengusaha menguasai jutaan hektar lahan. Kalau boleh berterus terang, dalam banyak hal,kita semua bangsa Indonesia sedang dikepung oleh terlalu banyaknya kejahatan, baik dalam sentuhan sehari-hari dilingkungan kecil pergaulan kita, maupun dalam skala besar kenegaraan.

Kini kita sudah tidak kaget lagi oleh derasnya kriminalitas, hancurnya logika dalam politik dan birokrasi, atau mentradisinya korupsi kolektif dan jamaah kolusi. Itu semua membengkak dan kian menumpuk dari hari ke hari sehingga kita tenggelam di dalamnya. Kini kita tenggelam dalam habitat kejahatan dalam jangka waktu yang melampaui ambang kepasitas alamiah manusia dan masyarakat, membuat kita semakin tidak mampu memelihara objektifitas terhadap kadar kejahatan itu.

Maling kecil kita tumpas,maling besar kita ributkan beberapa saat kemudian kita lupakan dan esoknya kita ekspos besar-besaran di koran dan televisi untuk penampilan barunya yang marketable bagi hitungan ekonomi berita sambil kita hapus utang besarnya pada hari kemarin pada bangsa ini. Kejahatan yang bersumber dari kebodohan , biasanya sangat menjengkelkan hati dan menghimpit perasaan. Akan tetapi yang membuat darah mendidih dan membangunkan daya juang tertinggi ialah kejahatan yang diselenggarakan oleh kepandaian.

Wajah masa depan negeri ini untuk sebagian  sungguh ditentukan oleh kemampuan negara mengatasi persoalan besar yang kita hadapi hari ini. Kegagalan mengatasi persoalan hari ini akan membawa persoalan yang jauh lebih besar lagi di masa mendatang. Kini kita mengaku dijajah mafia korupsi,preman dan politisi busuk, tetapi pikiran dan konstruksi hukum masih terpaku pada konstruksi prosedural.

Untuk membongkar kebohongan para mafia ialah tugas polisi. Mafia,preman,koruptor serta politisi busuk bisa diberantas bila ada keberanian untuk menggunakan kekerasan hukum yang didasari nurani,akal sehat dan prilaku yang lurus, sehingga kita bisa terhindar dari tudingan miring bahwa kita sesungguhnya juga kapan-kapan bisa sah dan berani membiarkan orang mencuri, karena diam-diam kita juga ingin diizinkan untuk sewaktu-waktu mencuri. (SM Akbar)

sam

No comment

Leave a Response