Noriega Mantan Diktator dan Permainan Kotor CIA di Panama (Bagian II)

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Brigadir Jenderal Omar Torrijos Herrera berhasil mengkonsolidasikan kekuasan di Panama. Seperti juga para penguasa militer lainnya di Argentina, Brazil dan Peru di tahun 1960 an, Torrijos mengesampingkan demokrasi. Untuk mendapat simpati,ia gembar-gembor menumpas kalangan politisi yang korupsi selama kekuasaan sipil sebelumnya.

Tetapi lambat laun kalangan militer yang berkuasa sama saja rakusnya. Rakyat Panama, ibarat jatuh dari mulut buaya ke mulut singa. Untuk mengetahui rakyat, pemimpin tertinggi Pengawal Nasional Panama ini tetap memperhatikan gaya hidup sederhana. Tinggal di sebuah rumah kelas menengah di kota Panama.

Brigjen Torrijos semakin kaya sejak uang sogok dan komisi jadai bagian dari kehidupan para pejabat militer. Para personil Pengawal Nasional Panama sring dibayar, atau jadi pelindung bisnis yang sebenarnya ilegal. Para perwira yang setia kepada Torrijos, diberi anugrah khusus menguasai bisnis pelacuran, atau perdagangan obat bius.  Tidak jarang terjdi, fasilitas milik Pengawal Nasional Panama digunakan untuk kepentingan penyelundupan narkotika.

Di mata usahawan kelas menengah Panama, korupsi itu perbuatan yang biasa. Mereka dibiasakan untuk membayar uang pelicin dan uang uang lainnya guna melancarkan usaha. Pada gilirannya, uang sogok semacam itu dianggap bagian dari bisnis mereka. Semua yang terjadi, ytidak saja dibiarkan oleh kalangan Intelijen Amerika serikat di Panama.Bahkan, didorong agar bertambah subur dan semakin menjadi-jadi.

Menjelang akhir tahun 1960 an, Dinas Intelijen (Angkatan Darat) ke 470 mengalami sedikit perubahan personil dengan datagnya sejumlah orangbrekrutan yang memiliki pendidikan kolese. Bagi rekrutan bafru ini, Dinas Intelijen ke-470 memegang peranan penting dalam kerja mata-mata di Panama, daibanding dinas intelijen lainnya, seperti CIA (Central Intellegence of America).

Salah seorang yang memegang kunci penting dalam setiap operasi Dinas Intelijen ke-470 adalah William H.Espinosa. waktu itu, baru dua tahun lulus dari Universitas Harvard, kemudian ia menjadi jaksa di Washington. Espinosa yang lancar berbahasa Spanyol menjadi agen penting dalam Dinas Intelijen ke-470. Karena ia menangani langsung berbagai laporan dan komunikasi langsung berbagai laporan dan komunikasi intelijen, dengan segera tahu bahwa Torrijos dan kaki tangannya telah “ditangani” para perwira Amerika yang waktu itu menjalani masa pensiun, namun dijadikan pengawal sipil Dinas Intelijen ke-470.

Torrijops misalnya, merasa menyimpan jasa kepada Efrain Angueira, karena saat kudeta dilakukannya tahun 1968, Angueira terlibat langsung dalam perencanaannya. Bahkan, menyelamatkan anak dan istri Torrijos, ditempatkan di sebuah rumah di Zona Terusan. Sebagai balasa jasa, Torrijos menunjuk Angueira sebagai penghubungnya dengan dinas intelijen militer Amerika Serikat.

Torrijos di mata kalangan intelijen militer Amerika, sahabat lama yang baik. Karena, bisa diajak kompromi, minum-minum dengan para konconya selain orang-orang Panama, juga orang Amerika. Pemimpin tertinggi militer Panama, juga orang Amerika. Pemimpin tertinggi militer Panama itu, enjoy menikmati kehidupan damalam di distrik lampu merah Panama, atau di kota Meksiko.

Tetapi, seperti yang Espinosa ketahui tidak setiap orang sependapat dengan Torrijos dalam soal kebijakan militer.Paling tidak dibuktikan kemudian, munculnya sekelompok kecil tentara Panama yang bekerja sama dengan CIA. Espinosa mengetahui bahwa menjelang tutup tahun 1969 ada persekongkolan antara Kolonel Amado Sanjur dengan CIA. Ketika itu, Kolonel Amado menjadi Wakil Kastaf Angkatan Bersenjata Panama (Pengawal Nasional Panama).

CIA berani membayar US$ 100 ribu dolar kepada Kolonel Amado asalkan ia menggulingkan dan merebut kekuasaan Brigjen Torrijos. Latar belakang keputusan CIA yang memanfaatkan ketidakpuasan anak buah Torrijos, adalah hubungan akrab tentara Torrijos dengan komunis.

Ada dugaan kuat, Brigjen Torrijos ketika itu melakukan hubungan sangar akrab dengan pemimpin Kuba, Fidel Castro. Tetapi ada sebab lain, sebagaimna diungkapkan Espinosa, “Masalah bagi CIA yang sesunggguhnya, karena Torrijos terlalu dekat intelijen militer Amerika Serikat,”

Sesungguhnya memang antara CIA dan Dinas Intelijen (Angkatan Darat) ke-470 seperti yang telah diungkapkan, saling berlomba menanamkan pengaruhnya di Panama. Kebetulan, Dinas Intelijen ke-470 lebih mencengkeram pengaruhnya ketimbang CIA. Sanjur waktu itu berusia 37 tahun, merupakan orang kuat  ketiga dalam jajaran Pengawal Nasional Panama.

Dia kenyataannya, telah menerima uang suap cukup banyak selama bertahun-tahun dari kalangan intelijen CIA. Semula , Sanjur menolak melakukan aksinya. Tetapi.setelah didesak-desak ia akhirnya melakukannya juga. Maka, pada 14 Desember 1969,Kolonel Sanjur bersama komplotan militernya merebut kekuasaan dari Torrijos yang sedang berada di kota Meksiko.

Komplotan ini, menyatakan tirani di Panama telah digulingkan. Tanpa sadar, tangan kanan Torrijos yang juga punya pengikut, yaitu Letnan Manuel Antonio Noreiga. Dialah yang akan menyelamatkan kekuasaan Torrijos. (s/mp/ndang/bersambung)

 

 

 

sam

No comment

Leave a Response