Operasi Teladan Menguak Dana Revolusi Berujung Misteri

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Semua orang tahu bahwa Soekarno wafat dalam kemiskinan. Jauh dari penghormatan dan penghargaan yang pantas ia terima sebagai seorang pahlawan yang memerdekaan negeri ini. Namun demikian, kepergiannya meninggalkan satu pertanyaan yang masih belum terjawab hingga hari ini. Benarkah ada simpanan emas permata yang menjadi dana revolusi? Dimana sebenarnya harta karun itu berada?

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu ) No.19 Tahun 1960 yang dikeluarkan oleh Bung Karno, menjadi dasar hukum kolektivitas  sumbangan dana sebesar 5 persen dari setiap perusahaan negara Indonesia sebagai himpunan cadangan dana darurat.

Seorang saksi pelaku langsung,Brigjen (Purn) Suhardiman,ketika itu bersaksi bahwa ia sendiri selaku Direktur Utama PT Jaya Bhakti (Perusahaan negara dalam tubuh Angkatan Darat) yang secara rutin menyetorkan 5 persen keuntungan perusahaan yang dipimpinnya.

Ia tahu persis ,bukan perusahaannya saja yang melakukan itu,tetapi juga seluruh perusahaan negara,termasuk para perusahaan Belanda yang telah dinasionalisasi pemerintah. Jumlahnya,mencapai miliaran dolar. Ada dugaan dana berupa sertifikat dan emas batangan itu tersimpan di Barclay’s International Bank London dan The Guyerzeller Zurmont Bank,Swiss.

Soebandrio, yang selalu menjadi orang dekat Bung Karno, pada Pebruari 1986 pernah berkirim surat kepada Presiden Soeharto untuk menjelaskan bahwa ia memiliki simpanan US$ 650 juta di Union Bank of Switzerland, US$ 450 di Bank Daiwa Securities Company, emas batangan senilai 225 juta Poundsterling, dan emas senilai US$ 150 juta di The Guyerzeller Zumont Bank.

Soeharto tanggap dan segera membentuk Tim Operasi Teladan untuk menelusuri jejak harta tersebut. Namun, penelusuran gagal total. Seluruh bank yang diduga menjadi tempat penyimpanan harta itu tutup mulut dan tidak mau menjawab dengan alasan kerahasiaan nasabah.Mereka juga beralasan sulit melacaknya.Karena,tidak jelas informasi mengenai  di kantor mana harta tersebut dimasukkan.

Perburuan tidak juga sepenuhnya gagal.karena pada 1987, tim berhasil menyelamatkan aset negara. Misalnya,Bank Indonesia telah menerima dari dana tersebut sekitar US$ 550 ribu dan Rp 1,5 miliar. Selain itu, US$ 250 ribu di Bank Guyerzeller Zumont dan US$ 250 ribu di Bank Daiwa Securities.Menurut Moerdiono, orang yang ditugaskan soeharto melacak dana revolusi itu, hanya itu yang bisa diselematkan.

Anehnya, belakangan ketika Soebandrio bebas karena pemberian grasi (pengampunan) dari Presiden Soeharto, justru ia mengatakan telah salah memberikan informasi mengenai keberadaan harta itu. Dan hal itu menimbulkan pertanyaan besar bagi banyak orang.Kecurigaan pun berkembang,mengaitkan pembebasan Soebandrio sebagai tukar guling dengan harta karun revolusi yang tersimpan atas namanya. Meski Soebandrio menganggap itu fitnah,namun teori sudah telanjur berkembang bahwa pemerintahan Soeharto sempat mencairkan dana tersebut.Benarkah dana revolusi itu ada, dan sempat dicairkan pada era Soeharto? Entahlah, hanya Tuhan dan mereka yang tahu. (samar/Konspirasi dunia)

 

sam

No comment

Leave a Response