Oposisi Sebut, Suriah Tak Akan Aman di Bawah Rezim Assad

 

Matamatanews.com, JEDDAH—Seperti dilansir Arab News pada Ahad (8/7/2018) kemarin, pihak oposisi mengatakan negara Suriah tidak akan pernah aman di bawah pimpinan Presiden Bashar al-Assad , meski ribuan orang kembali dari pengungsian setelah kesepakatan gencatan senjata di wilayah selatan Daraa telah ditandatangani. Seperti diketahui rezim Bashar al-Assad secara ofensif telah merebut kembali Daraa dari para pemberontak sejak 19 Juni lalu  hingga menelantarkan sekitar 30 ribu orang.

Sebelum kesepakatan ditandatangani banyak yang menolak para pengungsi menyeberangi perbatasan menuju Yordania, hingga kesepakatan yang diprakarsai koordinator kemanusiaan PBB Anders Pedersen asal Rusia disepakati.Anders Andersen, pada Minggu kemarin mengatakan bahwa warga Suriah yang menyeberang ke Yordania hanya berkisar 150 hingga 200 orang.”Sejauh yang kami ketahui kesemuanya laki-laki,”.

Meski gencatan senjata yang meliputi wilayah Suriah selatan telah disepakati, namun serangan sporadis pada minggu kemarin tetap dilakukan  pasukan rezim Assad  terhadap  desa Al-Mayadeen  sebelah utara yang berbatasan dengan Naseeb hingga diprotes kelompok oposisi.Selain itu pasukan rezim juga menangkap penduduk desa dan para pejuang oposisi.

"Terlepas dari kembalinya para pengungsi ke rumah mereka, warga Suriah tidak akan pernah merasa aman di bawah kekuasaan dan kebrutalan rezim Assad," kata juru bicara oposisi Suriah Yahya Al-Aridi kepada Arab News.

“Pada saat yang sama, ini bukan kemenangan bagi rezim karena hanya berpartisipasi dalam nama saja. Setelah Rusia dan milisi Iran menyelesaikan pekerjaan mereka, Anda akan melihat perwira rezim Suriah datang di depan kamera televisi. Inilah yang terjadi."

Meskipun kelompok-kelompok oposisi utama di bagian timur provinsi Daraa telah setuju untuk menyerahkan senjata mereka sebagai bagian penyerahan diri, namun sebagian lain bersumpah untuk melanjutkan pertempuran di bagian barat Daraa dan daerah Quneitra yang berdekatan Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel.

“Mereka yang telah kehilangan keluarga,dan  orangtua yang anaknya dibunuh oleh rezim tidak akan menerima Assad dan keberadaan rezimnya, kelangsungan hidup dan kekuasaan,” kata seorang aktivis oposisi Suriah sekaligus pendiri Rumah Suriah,Bahia Mardini seperti dikutip Arab News.

 “Meskipun kurangnya keinginan internasional untuk aksi militer, selama rezim tetap berkuasa, saya berharap bahwa aksi militer akan terus berlanjut. Selama ada terorisme dan kediktatoran, akan tetap ada oposisi Suriah yang mencari demokrasi dan hak asasi manusia untuk rakyat Suriah. Mereka akan terus menemukan mekanisme baru untuk bekerja dan berhasil meskipun mengalami kesulitan. Selama ada kasus untuk demokrasi, akan ada oposisi Suriah. Kami menginginkan keadilan, hak asasi manusia, kebebasan dan demokrasi dan kami tidak akan menyerah sampai itu menjadi kenyataan bagi generasi berikutnya, ”kata Bahia Mardini.

Lebih lanjut Bahia menegaskan, bahwa solusi demokratis yang didukuung komunitas internasional sangata dibutuhkan dan penting.

“sel militer di Suriah akan tetap ada, meski beberapa di antaranya tidak aktif dan internasional tetap berdiam diri. Mereka akan memperbaruai aksi militer mereka  jika tidak ada proses demokratis yang memuaskan bagi orang-orang yang memberontak maupun semua pihak. Itu sebabnya solusi demokratis yang didukung internasional sangat penting.”* (bar)

sam

No comment

Leave a Response