Para Aktivis Bongkar Berita Palsu Terkait Perang di Suriah

 

Matamatanews.com, BEIRUT—Suara ledakan bom, siraman peluru dan raungan suara pesawat terbang yang disertai rentetan mesiu  kini masih terdengar sesekali di Suriah, meski gencatan senjata dan perundingan telah disepakati kedua belah pihak, yakni antara pemerintah rezim bashar Al-Assad dengan kelompok opisisi yang biasa disebut kaum pemberontak.

Benarkah perang yang berkecamuk di Suriah yang selama ini diklaim rezim  Assad hanya dimenangi pihak pemerintah dan tidak sekejam yang dibayangkan publik maupun komunitas internasional? Pada kenyataannya perang di Suriah bukan saja menghasilkan para pengungsi dan penderitaan panjang pada rakyatnya, tapi juga banyak berbagai peristiwa perang itu sendiri yang dipalsukan dan diplintir kebenarannya.

Di Twitter,kini para aktivis memposting screenshot dari berbagai kisah baru yang menyesatkan yang kemudian diberi tanda ”X” merah tebal, sedangkan untuk versi yang benar diberi tanda centang biru. Selain itu para anggota tim juga dapat melihat berbagai foto lama dan rekaman video baru eca langsung.

Berbagai gambar lama, film fiksi, bahkan video game semuanya telah digunakan untuk menyebarkan berita palsu di Suriah yang dilanda perang hingga membuat banyak media sibuk untuk membantahnya.Konflik kekerasan terjadi di Suriah dimulai pada tahun 2012 itu sebenarnya bisa diredam dan ditangani secara maksimal, namun ternyata diluar itu ada aliran ”berita” yang sengaja dibuat-buat,termasuk didalamnya campur tangan media sosial yang ikut mempecepat situasi memanas hingga kebablasan sampai sekarang.

Untuk menyajikan fakta dan kebenaran perang yang kini semakin kompleks di Suriah, aktivis sekaligus wartawan, Ahmad primo, 32, mendirikan Verify-sy, sebuah flatform elektronik yang bisa memantau dan memeriksa fakta cerita tentang konflik tersebut secara gamblang.

“Sebagai wartawan , dan aktivis kami punya tanggung jawab,” kata Primo seperti diungkapkan kepada AFP. “Dan apa yang terjadi hari ini akan ditulis sebagai sejarah, dan kami tidak ingin hal  itu menjadi sejarah palsu.”

Beberapa tahun lalu, Primo pernah ambil bagian dalam protes di kota utara Aleppo dan bekerja disalah satu situs web yang  beritanya memuat tentan gerakan rakyat.Setelah ditangkap tiga kali oleh pasukan rezim Assad, ia pindah ke wilayah yang dikuasai oposisi di Suriah utara sebelum akhirnya pergi ke Turki.

"Saya ditangkap karena mempublikasikan kebenaran tentang apa yang terjadi (di wilayah rezim), dan ketika saya pindah ke daerah oposisi, saya melihat mereka mengutak-atik kebenaran juga," kata Primo.

“Reaksi saya adalah saya tidak biasa diam sampai kita seleai dengan penindas ini, dan di suriah kini banyak penindas,” jelas Primo. Di Twitter, Primo memposting screenshot berbagai kisah baru, yang dianggap menyesatkan diberi tanda “X” merah tebal, sedangkan versi benarnya diberi centang hijau.

“Kami menganggap setiap gambar atau berita yang dipublikasikan secara luas menjadi sesuatu yang harus kami pantau dan diverifikasi,” kata Primo. Meski tim Primo kerap menggunakan alat canggih, namun mereka tetap menggunakan metode tradisonal, seperti reporter untuk mengecek  sumber mereka dilapangan.

Selain menggunakan alat yang dimiliki dan reporter dilapangan, mereka juga kadang menggunakan pencarian gambar terbalik melalui Google untuk menentukan apakah gambar yang terlihat itu sebagai sebagai peristiwa sebenarnya atau tidak, seperti tanggal yang berbeda contohnya.

Terkadang, anggota tim juga dapat melihat berbagai foto dan rekaman video langsung guna memudahkan pekerjaan dilapangan dengan cara membuat halaman tersendiri di Facebook sehingga wajah orang dicurigai akan lebih mudah untuk periksa keasliannya. (bar/AFP/Arab News)

 

 

sam

No comment

Leave a Response