Pemanfaatan Tumbuhan Berbunga Untuk Menunjang Pertanian Organik

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO—Menurut Dosen Agrotekhnologi Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Ir Mujiono, MS bahwa metode pengendalian hama tanaman yang dianjurkan sesuai UU No. 2 Tahun. 2012 adalah Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Komponen utama PHT adalah pengendalian hayati, yang salah satu tekhniknya adalah konservasi musuh alami, sehingga tercipta ekosistem pertanian yang stabil dan lestari.

Musuh alami adalah organisme yang memusuhi hama. Terdapat tiga golongan musuh alami, yaitu golongan parasitoid, predator, dan patogen serangga (entomopatogenik).  Parasitoid merupakan golongan musuh alami dari klas insekta (serangga) yang mempunyai inang juga dari klas insekta.

Parasitoid biasanya tubuhnya lebih kecil dari inangnya dan fase larva (magot) melangsungkan hidupnya dengan menumpang pada atau di dalam tubuh inangnya, sedangkan fase dewasa parasitoid hidup bebas di alam di luar tubuh inangnya.

Jika fase larva parasitoid hidup dan menyerang tubuh hama dari luar disebut ekto parasitoid dan jika hidup dalam tubuh inang disebut endoparasitoid. Tubuh inang dapat diserang oleh banyak individu parasitoid (disebut parasitoid gregarius), juga dapat diserang oleh satu individu parasitoid (disebut parasitoid soliter).

Dalam menerapkan pengendalian hayati membutuhkan lingkungan biotik maupun abiotik yang optimal. Hal tersebut dapat ditempuh dengan menanam “tumbuhan refugia” yang merupakan tumbuhan yang tumbuh di sekitar tanaman yang dibudidayakan yang berpotensi sebagai mikro habitat bagi musuh alami (parasitoid maupun predator).

Sebetulnya banyak tumbuhan liar sebagai sumber pakan langsung bagi alami (menyediakan nektar dan polen), dan secara tidak langsung menyediakan mangsa dan inang, di samping mengelola iklim mikro yang sesuai dengan kebutuhan hidup musuh alami. Musuh alami (parasitoid dan predator) yang memanfaatkan nektar dan polen tumbuhan tersebut akan meningkat fekunditasnya, sehingga telur yang dihasilkan lebih banyak, sehingga populasinya meningkat pula. 

Dengan demikian potensi sebagai pengendali alami hama tanaman akan meningkat pula, akibatnya populasi hama tanaman dapat ditekan sampai batas keseimbangan umum. Hal tersebut dapat diibaratkan kita membangun suatu “pos polisi” untuk mengundang para polisi menjaga lahannya. 

Tarjoko dan Mujiono (2016) melaporkan bahwa tumbuhan liar berbunga  Rorripa indica (caisin liar) yang ditanam di pinggiran tanaman kubis dapat meningkatkan populasi parasitoid Diadegma semiclausum danAphanteles sp., sehingga serangan hama ulat kubis (Plutella xylostella) dan hama jantung kubis (Crocidolomia pavonana) dapat ditekan. 

Demikian juga hasil demplot tahun 2017 di Desa Karangkendal Kec. Papetakan Cirebon, tumbuhan  berbunga di sekitar pematang sawah dapat mengurangi serangan hama wereng batang padi coklat dan penggerak batang padi. Suhari, 2012 dalam Kurniawati dan Martono (2015) melaporkan bahwa pada perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah, tumbuhan berbunga Turnera subulata diketahui menyebabkan kehadiran beberapa parasitoid spesies Hymenoptera.

Enam spesies di antaranya hadir dengan jumlah lebih dari 30 ekor dalam 30 hari pengamatan. Halley dan Hogue,1990 dalam Kurniawati dan Martono (2015) juga membuktikan bahwa penambahan tumbuhan berbunga di sekitar perkebunan apel dapat menurunkan populasi hama, khususnya kutu afid.  Dengan demikan manipulasi habitat seperti ini secara tidak langsung dapat mengurangi jumlah serangga hama. 

Menurut Kurniawati dan Martono (2015) upaya paling penting untuk mempertahankan keberadaan musuh alami di ekosistem pertanian adalah dengan meningkatkan, atau minimal mempertahankan, keragaman tumbuhan yang dapat berperan sebagai (1)shelter atau refugee, sekaligus sebagai (2) sumber pakan musuh alami.

Keberadaan beragam musuh alami sebagai salah satu komponen ekosistem pertanian diharapkan dapat mempertahankan kelengkapan komponen rantai makanan, sehingga mampu pula menciptakan kestabilan ekosistem.

Fungsi lain tumbuhan berbunga di sekitar tanaman yang dibudidayakan adalah sebagai pakan (sumber protein) bagi serangga penyerbuk (polinator). Menurut Widhiono dan Sudiana , 2016 dalam Widhiono (2017) bahwa penambahan 15% tumbuhan liar berbunga dengan 4 spesies mampu meningkatkan keragaman dan populasi serangga penyerbuk.

Selain pada lahan pertanian, keragaman tumbuhan liar berbunga di lahan sekitar pertanian juga sangat penting bagi kehadiran serangga penyebuk, yaitu terutama berperan sebagai sumber pakan pada saat lahan pertanian baru penanaman atau setelah musim berubah, sehingga tidak tersedia bunga sebagai sumber pakan (Wihiono, 2017).

Kendala yang sering ditemui di lapangan antara lain masih rendahnya pengetahuan petani terhadap peran tumbuhan liar berbunga yang ada disekitar lahan sebagai penyeimbang alami di agroekosistem, sehingga kerap kali mereka menyemprot tumbuhan liar berbunga tersebut dengan herbisida. Selain itu mereka beranggapan bahwa semua serangga adalah hama, sehingga penggunaan insketisida kimia sintetis dilakukan secara intensif.

Widhiono (2017) menawarkan model rekayasa ekosistem yang dapat diterapkan sebagai berikut: 1). Menyediakan lahan untuk tumbuhan liar berbunga dengan cara tidak melakukan penyemprotan herbisida di luar lahan pertanian, 2).

Membiarkan batasan lahan dan tepian jalan untuk ditumbuhi tumbuhan liar berbunga. Lebih lanjut Menurut Widhiono (2017) bahwa keberhasilan penerapan model rekayasa ekosistem tersebut sangat tergantung kepada peran petani dan dinas pertanian tanaman pangan, karena tidak akan berhasil jika dilakukan secara individu, tetapi harus dilakukan secara komunal.

Beberapa jenis golongan tumbuhan berbunga (refugia) yang dianjurkan ditanam di sekitar pertanaman pertanian antara lain: caisin liar (Rorhipa indica), kacang tanah liar (Arachis pinktui), kemangi, tembelkan, bunga matahari (Helianthus annus L.), bunga kertas, terung (Solanummelongena), Tagetes, rumput Sudan (Sorghum bicolor) dan lain-lain,  sedangkan tanaman yang dianjurkan ditanam di tepian jalan dan di luar lahan pertanian, antara lain: Teprosia (Teprosia diversiola), kaliandra, kipait (Tithonia sp.), lamtoro dan lain-lain.

Beberapa tumbuhan berbunga(refugia) di atas telah ditanam di Exfarm (Experimental Farm / Kebun Percobaan) Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto, yang berfungsi antara lain sebagai: a). Sarana pembelajaran mahasiswa, b). Sumber plasma nutfah, c). Edu wisata, dan d). Mikrohabitat (rumah) musuh alami (parasiotoid dan predator) yang dapat mengundang berbagai jenis serangga berguna (parasitoid, predator dan polinator).

Program pemanfaatan tanaman refugia dalam waktu dekat akan dilakukanbersamaan dengan program penerapaan TTG Budidaya Padi Murni Organik berbasis POC (Pupuk Organik Cair) dan Pestisida Nabati di beberapa tempat, yaitu di Ponpes Al Hikmah 2 Benda Sirampog, BrebesJawa Tengah, Desa Windujaya Kec. Kedungbanteng Kab.Banyumas, Jawa Tengah, dan Desa Karangkendal Papetakan Cirebon Jawa Barat. *(Alief/ hen)

 

sam

No comment

Leave a Response