Pemberhentian Wakil Rektor Trisakti Menyisakan Luka Bagi Dunia Pendidikan

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Perlahan tapi pasti  pemberhentian Wakil rektor I Bidang Akademik Universitas Trisakti Prof.Dr.Yuswar Zainul Basri,Ak,MBA oleh Menteri Riset,tekhnologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir pada 2017 melalui Kepmen Nomor 458/M/KPT/KPT.KP/2017 tanggal 3 November lalu berujung gugatan semakin menemukan titik terang.

Muncul kesan kuat perkara pemberhentian  yang ditimpakan kepada Yuswar Zainul Basri itu dipaksakan. Bukti-bukti mutlak yang dibutuhkan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum tampaknya akan berjalan penuh liku dan terjal. Melalui kuasa hukumnya, Yusril Ihza Mahendra menggugat keputusan tersebut pada Desember 2017 lalu dan kini tengah menunggu putusan akhir.

Menurut Yusril, dari keterangan saksi fakta dan saksi ahli selama proses persidangan menguatkan gugatan yang mereka  ajukan,bahwa Menristekdikti bukanlah pejabat yang berwenang atau ototritas yang bisa memberhentikan pembantu rektor Universitas Trisakti, Yuswar Zainul Basri.

Meski ada masalah internal  di tubuh Universitas Trisakti dan Menristekdikti telah menunjuk salah satu Dirjen untuk menjadi pejabat sementara rektor Universitas Trisakti, tapi bukan berarti para pejabat lain di jabatan struktural di kampus tersebut diangkat dan diberhentikan oleh Menristekdikti.

“Walaupun sebenarnya pengangkatan rektor itu memang dapat dianggap merupakan jalan keluar mengatasi konflik yang ada disana, tetapi tidak berarti bahwa kemudian dapat memberhentikan job-job lain termasuk Prof Yuswar yang menjadi pembantu rektor di Universitas Trisakti,” jelas Yusril.

Yuswar Zainul Basri adalah pria kelahiran Kotapinang, 18 September 1943, mantan Guru Besar Universitas Trisakti Jakarta sekaligus Wakil rektor I Bidang Akademik Universitas Trisakti yang dicopot jabatannya  oleh Menristekdikti setelah mengabdi selama 46 tahun.

Ketika ditemui dikediamannya,pada Senin  (2/4/2018) lalu Yuswar mengaku masih tidak mengerti mengapa seorang menteri bisa mengeluarkan Kepmen untuk memberhentikan wakil rektor perguruan tinggi swasta. Seharusnya pencopotan jabatan wakil rektor itu ditentukan oleh mekanisme kampus yang melibatkan senat.

“Alasan pemberhentian itu sendiri sampai hari ini bagi saya tidak jelas, dan hal itulah yang kemudian membuat saya memperjuangkan keadilan dan mengugat ke Menristekdikti. Permintaan saya sederhana sekali, nama saya dipulihkan dan dikembalikan seperti semula,”jelas Yuswar.

Selain itu, Yuswar juga mengugat pejabat sementara (pjs) rektor Universitas Trisakti ,Ali Ghufron Mukti yang memberhentikan dirinya atas dasar Kepmen. Yuswar mengaku, sejak kasusnya pertama kali disidangkan pada 31 Januari 2018  lalu hingga sidang ke delapan, ia selalu hadir.

“Karena saya orang yang paling tahu sejarah Trisakti dan saya tidak ingin orang-orang yang tidak pernah berkontribusi kepada Trisakti justru merusak dengan kepentingan-kepentingan yang dibawanya,”katanya.

Dn perlu diketahui, Yuswar memang merupakan salah satu orang yang membesarkan Universitas Trisakti. Ia pertama kali menjejakkan kakinya di Universitas tersebut pada tahun 1971 dengan menjadi pengajar di Fakultas Ekonomi. Jika dihitung hingga tahun 2017 kemarin, ia telah mengabdi di kampus “Reformasi” itu selama 46 tahun. Dan ditahun 2019 mendatang, pria yang memiliki gelar Prof.Dr.H.Yuswar Zainul Basri,Ak,MBA itu akan pensiun, tapi sayang ia kini harus disibukan dengan permasalahan yang tidak mendasar.

Yuswar mengaku hanya ingin nama baiknya dipulihkan dan dapat pensiun dengan tenang, selain itu ia berharap sepeninggalannya, Universitas Trisakti bebas dari berbagai kepentingan yang dapat merusak marwahnya sebagai lembaga pendidik.

Menanggapi pemberhentian yang terjadi terhadap Yuswar Zainul Basri sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Trisakti oleh Kepmen Menritekdikti tersebut, pengamat dunia Islam sekaligus pegiat bisnis untuk urusan Timur tengah dan Eropa, Imbang Jaya merasa prihatin dan heran.

Menurut  Imbang pemberhentian itu terdengar lucu dan aneh, ada seorang wakil rektor diberhentikan oleh keputusan menteri.” Pemberhentian itu selayaknya harus berdasarkan pertimbangan dan mendengarkan masukan dari dewan wali amanah, civitas akademi, dan senat kampus. Sebelum diberhentikan,harus dilayangkan surat peringatan terlebih dahulu disertai pemberitahuan kesalahannya, bukan main keluarkan keputusan dan langsung diberhentikan,” kata Imbang.

“ Pemberhentian atau pencopotan seorang dosen apalagi wakil rektor itu hanya bisa dilakukan oleh rektor, dan wali amanah kampus serta pertimbangan senat kampus itu sendiri. Rektor pun hanya bisa memecat seorang dosen bila perguruan tinggi tersebut negeri, bukan swasta.Kalau Trisakti saja bisa diperlakukan seperti itu, tidak menutup kemungkinan kampus atau perguruan tinggi lainnya bisa mengalami nasib serupa,bersiap-siap saja dan tunggu giliran,” lanjut Imbang dengan nada heran.

Diceritakan Yuswar, meski pemecatan dirinya sebagai  wakil rektor I Usakti tidak bisa dilakukan Kemendikti, namun pencopotan tersebut tetap bergulir. Yuswar diberhentikan sebagai wakil rektor I Trisakti dengan SK Nomor 535/usakti/skr/XI/2017, dan keputusan tersebut dinilai bertentangan dengan pasal 31 ayat 1 dan 2 PP 4 tahun 2014 tentang penyelenggaraan pendidikan tinggi dan pengelolaan perguruan tinggi.

Dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 maupun PP Nomor 4 tahun 2014 menyebutkan, menteri ristek hanya memiliki kewenangan terbatas, yakni pengaturan,perencanaan, pengawasan, pembinaan dan koordinasi.

Meski kesibukannya kini banyak dilalui bersama keluarga, namun dirinya mengaku tidak akan berhenti untuk memperjuangkan keadilan dan menggugat keputusan pencopotan tersebut ke ke pengadilan, meski harus mengorbankan banyak waktu dan tenaga.

 “ Ini menyangkut nasib orang,nama baik dan martabat lho, kalau bersalah tunjukkan dimana kesalahannya dan dibidik dengan pasal apa harus dilengkapi dengan pembuktian yang kuat, bukan asumsi dan main copot urusan belakangan. Bila seorang wakil rektor saja bisa diberhentikan sewenang-wenang, apalagi dosen biasa. Tersangka saja harus dipenuhi hak-haknya sebagai tersangka, lha ini seorang pendidik yang sudah lama mengabdi dilingkungannya, justu main copot,” tandas Imbang. (icam)

 

sam

No comment

Leave a Response