Pemilu Bangladesh Diwarnai Aksi Berdarah

 

Matamatanews.com, DHAKA—Dua belas orang dikabarkan tewas dalam bentrokan berdarah pada pemilihan umum di Bangladesh pada Minggu (30/12/2018) kemarin.Insiden tersebut terjadi setelah kampanye berdarah dibayangi tindakan keras terhadap oposisi Perdana Menteri Sheikh Hasina yang diprediksi akan memenangi masa jabatanya yang keempat sebagai Perdana Menteri namun memantik kontroversial.

Pihak kepolisian mengatakan tiga orang ditembak, sementara delapan lainnya tewas dalam bentrokan antara aktivis dari Partai Liga Awami yang berkuasa dan oposisi Partai Nasionalis Bangladesh (BNP). Seorang polisi juga dikabarkan tewas setelah diserang aktivis oposisi yang dipersenjatai dengan senjata dan tongkat.

Voting yang berakhir pada pukul 16.00 waktu setempat, diadakan di bawah pengamanan ketat. Jajak pendapat telah memperkirakan bahwa Hasina akan meraih masa jabatan ketiga berturut-turut dan mencatat secara keseluruhan keempat.

Para kritikus menuduh Hasina otoriter dan telah melumpuhkan oposisi, termasuk saingan berat dirinya, Khaleda Zia. Untuk mempertahankan kekuasaannya, Hasina menjerumuskan Khaleda ke penjara selama 17 tahun penjara dengan tuduhan korupsi.Kampanye pemilihan diwarnai kekerasan antara pendukung Liga Awami Hasina dan BNP Zia. Sekitar 600 ribupersonel keamanan dike-rahkan di seluruh negara Asia Selatan, termasuk di 40 ribu TPS.

Pihak berwenang memerintahkan operator seluler untuk menutup layanan 3G dan 4G hingga tengah malam pada hari Minggu untuk mencegah penyebaran desas-desus yang dapat memicu keresahan.

Polisi mengatakan mereka bertindak membela diri di kota selatan Bashkhali, ketika mereka menembaki pendukung oposisi yang berusaha menyerbu tempat pemungutan suara, menewaskan satu.Dalam insiden terpisah, seorang pria ditembak polisi setelah dia mencoba mencuri kotak suara.

Pihak oposisi mengatakan lebih dari 15 ribu aktivisnya telah ditahan selama kampanye selama berminggu-minggu, menghancurkan kemampuannya untuk memobilisasi dukungan akar rumput.

“Kami mendapat laporan yang mengganggu di luar Dhaka bahwa pemilihan semalam dilakukan secara ilegal,” kata Kamal Hossain, arsitek konstitusi Bangladesh berusia 82 tahun yang memimpin koalisi oposisi.Petugas ketua di tempat pemungutan suara di seluruh Dhaka melaporkan tingkat partisipasi yang rendah.

Human Rights Watch dan kelompok internasional lainnya mengecam tindakan keras itu, dengan mengatakan tindakan itu menciptakan iklim ketakutan yang dapat mencegah pendukung oposisi melakukan pemilihan.
Amerika Serikat telah menyuarakan keprihatinan tentang kredibilitas pemilihan Bangladesh, sedangkan PBB menyerukan upaya agar pemilihan itu berlangsung jujur dan adil.

Tujuh belas kandidat oposisi telah dita­han, sedangkan 17 lainnya didiskualifikasi dari pengadilan, yang menurut lawan-lawan Hasina dikendalikan pemerintah yang berkuasa.

“Ini bukan pemilihan yang bebas dan adil. Ini lebih merupakan pemilihan ter­kendali,” kata seorang diplomat Barat.Kepemimpinan Bangladesh telah berganti-ganti antara Hasina dan Zia, sekutu yang berubah menjadi musuh, selama tiga dekade terakhir. Hasina menolak tuduhan bahwa dirinya otoriter, tetapi analis mengatakan dia melakukan tindakan keras atas kekhawatiran bahwa pemilih muda akan menyerahkan kemenangan kepada BNP. *

 

sam

No comment

Leave a Response