Perjalanan Haji Ketua Takmir Masjid Agung Baitussalam Purwokerto (2)

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO—Dalam perbincangan langsung antara Humas Takmir Masjid Agung Baitussalam (MAB) Purwokerto Ir.H.Alief Einstein,M.Hum, dengan Ketua Takmir MAB Dr.H.Muh.Hizbul Muflihin,BA.M.Pd (56 tahun) yang tengah membimbing jamaah haji di Saudi Arabia, diceritakan ada berbagai kegiatan jelang puncak ibadah haji ke Arofah, Muzdalifah, dan Lempar jumrah di Mina.

Kegiatan itu di antaranya Shalat Fardhu, Persiapan Puncak Ibadah Haji, Peneguhan jamaah haji dalam menjaga dan mengawal NKRI, ajak jamaah jalan-jalan di Zam Zam Tower, dan Silaturahmi dengan Duta Besar RI di Saudi Arabia.Hisbul Muflihin menceritakan, berhubung jarak hotel dengan lokasi shalat fardhu di Masjidil Haram jauh, maka khusus bagi jamaah haji yang sehat saja yang ke sana. 

"Jamaah dapat memilih dua jalur untuk ke Masjidil Haram yaitu naik bus sholawat di depan tower 2 dan di daerah Jarwal sektor 10 berjarak tempuh sekitar 45 menit atau bisa jalan kaki ke arah kiri dari hotel dengan jarak tempuh sekitar 30 menit. Rata-rata jamaah calon haji memilih waktu shubuh, berangkat dari hotel pukul 02.30 dan sore hari berangkat pukul 16.30 untuk bisa jamaah sholat Maghrib dan Isya. Jarang jamaah sholat dhuhur di Masjidil Haram, sebab udara di sekitar Masjidil Haram siang hari mencapai 40 derajat celcius.  Sedangkan bagi jamaah haji yang tua - tua atau yang "kurang sehat" sholat fardhu jamaah di masjid sekitar hotel yakni di Masjid Palestin dan Masjid Sudan dengan jarak tempuh dari hotel sekitar 500 m, " ceritanya.

"Suasana sholat di masjid sekitar hotel, Alhamdulillah nyaman selain bersih,  segar juga dilengkapi kursi duduk yang "empuk", sehingga menjadi suasana jamaah "betah" untuk melakukan aktivitas sholat, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Khusus untuk jamaah yang sholat hanya di hotel terutama untuk kaum wanita dan lansia, usai sholat mendapatkan siraman rohani dan pemantapan manasik haji secara bertahap.  Sampai dengan hari ini semua jamaah dalam keadaan sehat, " katanya.

Disela - sela jamaah calon haji mengisi kegiatan harian dan dalam rangka menunggu puncak ibadah haji, Dosen IAIN Purwokerto ini beserta calon jamaah haji dari berbagai kota di Jawa Tengah sempatkan hadiri acara penguatan mental ideologi kebangsaan dan  wawasan cinta tanah air dalam bingkai penguatan  Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) pada 7 Agustus 2019. Secara berturut-turut disampaikan oleh beberapa narasumber diantaranya mantan pimpinan KPK Dr.H.Busyro Muqoddas, Imam besar salah satu Masjid di USA Dr.Syamsi Ali, dan Dr.H.Anwar Abas. Acara tersebut berlangsung di di Ruang Public Relation At- Taeseer Fanduk Tower 2. 

Hisbul menambahkan, dalam orasinya Dr. Busyro Muqoddas menegaskan bahwa sebagai umat Islam pasca berhaji harus bisa menjadi orang yang mulia dihadapan Allah dengan dimanifestasikan dalam perilaku sehari-hari yang baik. Sedangkan dimensi kebaikan itu jika bisa diwujudkan secara baik maka akan menumbuhkan keikhlasan dan ketaatan dalam beribadah kepada Allah Swt. 

Sementara itu Dr. Syamsi Ali menegaskan bahwa Islam yang damai yang kini terus mengalami penguatan bagi kaum muda marga Amerika Serikat dengan banyaknya mereka mendatangi halaqoh-halaqoh.

Sementara itu pemantapan ibadah haji yang dilaksanakan di "loby" hotel disampaikan langsung oleh Ketua Takmir MAB Dr.H.M. Hizbul Muflihin. M.Pd, yang juga Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Banyumas. Adapun materinya terdiri hal-hal teknis di Mina Arofah Muzdalifah dan Jumrah, dari soal bagaimana mengantarkan jamaah nenuju Jamarot dengan baik dan selamat pulang-pergi. Juga materi soal penyiapan peralatan saat bersurvival, menjaga  kesehatan, keutuhan regu dan rombongan. 

"Alhamdulillah rangkaian kegiatan menjelang puncak haji di ARMINA bisa berlangsung dengan baik dan jamaah secara umum sudah siap untuk mengikuti rangkaian kegiatan ARMINA, " terang Hisbul.

Hisbul menambahkan, Zam-Zam Tower (ZZT) atau Hotel Makkah Royal Clock Tower letaknya di depan Masjidil Haram, hanya 1,5 m dari halaman depan Masjidil Haram. ZZT merupakan tempat menginap jamaah haji eksklusif. 

"ZZT mempunyai ketinggian 601 m berupa bangunan menara jam terbesar di dunia dan bangunan kedua tertinggi di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai, " ungkapnya.

Hisbul menjelaskan pukul 03.00 dini hari Rabu (31/08/19) dirinya bersama sebagian jamaah berangat ke Masjidil Haram melakukan penelusuran jalan. Ada beberapa alasan hal ini dilakukan  pertama, dia dapat memberi informasi kepada jamaah yang ingin melihat dari dekat gedung ZAM ZAM Tower yang selama ini memancing penasaran para jamaah calon haji. Kedua, sekaligus dia mencari rute jalan kaki untuk pulang dari Zam Zam Tower ke arah maktab / hotel tempat para jamaah menginap sebagai antisipasi jika nanti tersesat saat pulang dari ifadhoh. Setelah Hizbul turun dari bus sholawat, dia berjalan kaki menuju Masjidil Haram, kemudian untuk sampai di Marwa bagian luar maka dia menemukan pancang besi 1 m warna merah. 

“Kami terus berjalan sampai melihat jembatan layang,  selanjutnya jalan terus akhirnya sampai pelataran luar sisi depan Marwa. Kira-kira 100 m sebelum masuk pintu Marwa saya menemukan jembatan besi warna merah, disitu ada dua yang atas untuk masuk lantai dua Marwa, " katanya. 

Hizbul menambahkan dia dan jamaah mengambil  jembatan bawah  kemudian jalan kaki mengelilingi sisi kiri Masjidil Haram dan sampailah di pintu King Abdul Aziz. Berikutnya Hizbul masuk dan mengambil arah ke kiri, sampailah di lantai dasar Masjidil Haram yang nyaman. 

"Di tempat itu kami bisa duduk di karpet yang tebal halus dan tentu bisa melihat Ka'bah dari jarak dekat. Tepat pukul 03.45 saya memilih sholat tahajud dan membaca Al Qur an sampai tiba adzan awal. Setelah adzan subuh berkumandang tentu saja sholat qabliyah 2 roka' at dan berdoa. Berdo'a di tempat itu sudah tepat, karena disamping waktunya yang makbul  di depan Ka'bah. Usai sholat subuh kami menunggu kira-kira 30 menit untuk keluar agar tidak berdesak - desakan, sebab saat berdesakan biasanya akan memicu terjadinya pencurian tas yang digendong, " ceritanya.

Setelah keluar Hizbul penasaran dengan gedung spectakuler Zam Zam Tower. Dia mendekat dan menghitung Zam Zam Tower, ternyata terdiri dari dua bagian utama. Bagian dasar terdapat 26 lantai, sedangkan bagian atas terdapat 43 lantai. 

"Zam Zam Tower sendiri terdiri tiga bangunan.  Bangunan kanan dan kiri dan tengah gedung merupaka inti tower tersebut. Kami akhirnya bisa masuk ke Zam Zam Tower. Ternyata untuk sampai di lantai di atas kami melewati lift dua kali. Artinya lift pertama berjalan melewati bagian bawah ZZT, setelah sampai di bagian atas kemudian naik lift lagi menuju ke atas lantai 21. Alhamdulillah setelah sampai lantai 21 bagian kedua dari ZZT atas ijin Allah Swt saya bertemu dengan saudara, " kata Hisbul.

Selain menanyakan kabar keluarga Hizbul juga menanyakan berapa biaya haji untuk menginap di ZZT yang hanya berjarak beberapa meter dari Masjidil Haram. 

"Info yang didapat dari saudara saya bahwa ZZT untuk haji plus biayanya sekitar 150 juta dengan masa tinggal 25 hari, " tambahnya.

Hisbul menjelaskan setelah dirasa cukup selanjutnya pulang ke hotel dengan melewati halaman depan King Abdul Aziz Gate. Di sini dia dengan sebagian jamaah yang dia pimpin memilih pulang jalan kaki untuk sampai ke Hotel AtnThaeser Tower 2. Dia dan rombongan berjalan ke arah kiri melewati King Abdulloh Gate dan kemudian ke kanan sedikit kemudian ke kiri lagi mengikuti jalan keluar kawasan sisi kiri Masjidil Haram. 

"Akhirnya kami sampai di kawasan pertokoan ujung jalan Jarwal. Kami terus berjalan ke arah kiri, akhirnya sampai juga di hotel maktab tempat kami menginap dengan jarak tempuh sekitar 30 sampai 45 menit, " tandasnya.

Selama di Mekaah Hizbul menambahkan, dia sempatkan silaturahmi dengan Duta Besar RI di Saudi Arabia Agus Maftuh. 

"Saat itu Pak Dubes sedang menghadiri acara silaturahim antara Menteri Agama RI dengan jamaah haji Indonesia dalam rangka peninjauan dan pembinaan jamaah haji untuk persiapan kegiatan Mina Arofah Muzdalifah, dan kegiatan lempar jumrah. Selain itu kegiatan peneguhan jamaah haji dalam menjaga dan mengawal NKRI, " ungkapnya.

Perlu diketahui Dosen IAIN Purwokerto Hizbul Muflihin dan Duta Besar RI untuk Saudi Arabia adalah satu angkatan saat mereka kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1982 dan lulus tahun 1989. 

"Pak Duta besar alumni Fak. Syariah sedangkan saya Alumni Fak. Tarbiyah, " pungkasnya. *(hen/berbagai sumber)

 

 

redaksi

No comment

Leave a Response