Perjalanan Religi Menuju Ampunan Sang Khalik

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Inilah barangkali perjalanan paling mendebarkan sekaligus penuh haru. Mendebarkan karena bukan perjalanan biasa seperti lazimnya orang berwisata menikmati panorama,berasyik masyuk, menginap di hotel sambil sesekali menikmati kuliner lokal dengan bekal yang telah dipersiapkan  berupa uang misalnya.

Penuh haru, karena inlah perjalanan kali pertama menuju ‘Baitulloh’ untuk memenuhi panggilan Sang Khalik  sebagai ‘Tamu Alloh’  berupa Umroh. Memang perjalanan Umroh ini tidak langsung menuju  Makkah Al Munawaroh, Arab Saudi seperti perkiraan banyak orang, tetapi kami transit terlebih dahulu di Istanbul, Turki negara  Presiden Recep Tayyip Erdoğan yang dikenal peduli terhadap penderitaan kaum muslimin di berbagai belahan dunia.

Meski jarak tempuh Jakarta – Istanbul sejauh 9.457 km, namun perjalanan tersebut tidak membuat kami was-was ataupun panik mengisi kekosongan selama perjalanan, bahkan sebaliknya menikmati keheningan ruangan sejuk pesawat dengan membasahi bibir dengan lantunan zikir dan tasbih tiada henti penuh khidmat.Subhanallah...Allohu Akbar.

Ahad, 28 Januari hingga Selasa, 6 Pebruari 2018 merupakan skejul yang harus dipatuhi dan dilalui oleh seluruh peserta Umroh dari  Biro Perjalanan Umroh Elharamain Wisata . Dari Elharamain Wisata diwakili ustadz Badru Islam yang ditunjuk sebagai kepala rombongan merangkap pembimbing jama’ah umroh, baik ketika di tanah air, Turki, Madinah maupun di kota suci Makkah.

Rupanya selain ustadz Badru Islam, masih ada ustadz  Shobirin lulusan S2 Madinah yang juga tunjuk pihak Elharamain Wisata sebagai pemandu ibadah umroh, juga untuk membawa para jama’ah menjelajahi berbagai tempat bernilai sejarah religi dan komersial  baik di Madinah maupun di Mekkah,seperti Jabal Uhud, (gunung Uhud), Jabal Rahmah (gunung kasih sayang), museum sejarah, museum pribadi Alamoudi di Mekkah, peternakan onta hingga pasar kurma yang harganya cukup mahal.

Melihat Sisa Pertempuran  Al Fatih Lewat Diorama

Sebelum kami sampai di kota Madinah, Turki menjadi negara pertama yang kami singgahi sebagai tempat transit untuk berkeliling  ke beberapa tempat yang memiliki nilai sejarah, seperti  benteng pertempuran Muhammad Al Fatih 1453 H, dan Hippodrome, tempat orang-orang Romawi zaman dulu menyaksikan pacuan kuda. Hippodrome dibangun  pada masa kekaisaran Romawi Byzantium arena ini kemudian direnovasi oleh kaisar Constantine yang saat itu memimpin Konstantinopel.

Di Turki,terutama di Istanbul kami juga berkeliling ke tempat pasar murah yang dijajakan beberapa orang lokal dengan menggunakan bahasa Indonesia yang terdengar agak lucu dan menggelikan, seperti kata murah, seratus ribu tiga dan lima puluh ribu dua. Kalimat tersebut diucapkan dengan gaya khas Turki, tapi intinya mereka cepat meniru dan memperagakan  gaya orang-orang Indonesia yang datang dan mereka cukup ramah.

Meski orang Turki tidak mau disebut sebagai orang Eropa tapi tidak bisa diingkari bahwa postur dan gaya berpakaian mereka boleh dibilang menyerupai orang Eropa. “ Kami bukan orang Eropa, tapi orang Turki dan delapan puluh persen penduduk Turki adalah Muslim. Kami lebih suka disebut orang Turki saja, bukan Eropa,” jelas Borju, wanita pemandu asal Turki yang menemani kami berkeliling ke berbagi tempat bernilai sejarah, pasar murah sampai diorama pertempuran hebat antara pasukan Konstantinopel dengan Muhammad Al Fatih.

Borju adalah satu dari sekian ribu wanita muslimah Turki yang mengaku belajar bahasa Indonesia hanya sebulan di Yogyakarta. “ Ketika saya menjelaskan dengan bahasa Inggris banyak turis Indonesia tidak megerti, akhirnya saya belajar bahasa Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia dan mereka mengerti itu,” cerita perempuan yang mengaku sedang mengumpulkan uang untuk menikah.

Sebagai seorang muslim rasanya sangat keterlaluan bila ke Istanbul tidak mengunjungi dan melihat langsung benteng sisa-sisa pertempuran hebat antara pasukan Romawi dan Sultan Muhammad Al Fatih. Selain benteng, kami juga mengunjungi museum yang didalamnya terdapat diorama pertempuran pasukan muslim dengan tentara konstantinopel. Disini pengunjung seakan berada di medan pertempuran asli,suara gemerincing pedang, letusan senjata dan mesiu dan siraman peluru serta tubuh yang lunglai tertembus senjata ada dihadapan kita.

Selain itu masih ada Hagia Sophia yang dulunya gereja orthodox, tapi setelah Istanbul jatuh di bawah pemerintahan kaisar Ottoman, gereja orthodox itu di ubah menjadi masjid. Disini kami menjumpai dua gaya bangunan yaitu gaya bangunan gereja dan masjid. Tetapi, setelah Istanbul membangun ‘masjid biru’ atau Blue Mosque, Hagia Sophia yang terletak di dekat masjid tersebut diubah menjadi museum. Kini Hagia Sophia bukan lagi sebuah masjid atau gereja melainkan sebuah museum yang menyimpan banyak sejarah Turki.

Di Istanbul kami tidak memiliki banyak waktu, dan pukul 19.30 lebih waktu setempat kami harus terbang menuju kota Madinah untuk menunaikan ibadah Umroh secara total penuh keikhlasan. Meski kami masih dikawasan bandara, namun cuaca esktrem Istanbul yang menonjok tulang membuat seluruh rombongan terpaksa memakai kupluk, jaket maupun mantel yang telah disiapkan dari Jakarta.

Menatap Ka’bah dalam Keharuan

Kota Madinah, terutama masjid Nabawi yang selama ini kami bayangkan dan kami rindukan dari tanah air, pada akhirnya sudah berdiri tegak dihadapan. Lidah seakan kelu untuk berkata-kata, menahan rasa haru yang membuncah dada, dan ini manusiawi sekali. Di Madinah kami menjalani rutinas ibadah sebagaimana jamaah umroh lainnya yang saling berbaur di masjid Nabawi. Disini kami hanya tiga hari,selepas itu menuju kota Mekkah.

Labbaikallahumma Labbaik Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik Innalhamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulk Laa Syarikalak... “Aku memenuhi panggilanMu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milikMu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu”.

Seruan talbiyah pada akhirnya membuat kami tersungkur dan meratap,menerabas masa-masa jahiliyah yang pernah dilakukan. Seruan talbiyah membuat kita sadar bahwa sesungguhnya kita bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apa dihadapanNYA. Kita ibarat segenggam debu yang diterpa angin nun jauh disana.

Seruan talbiyah yang terus menggema sepanjang perjalanan dari Madinah menuju Mekkah  tanpa terasa kami sudah memasuki Mekkah, dan langsung menuju penginapan Swissotel yang jaraknya hanya beberapa meter dari Baitulloh (Ka’bah). Tanpa membuang waktu, kami oleh ustadz Shobirin yang ditunjuk Elharamain Wisata sebagai pembimbing ibadah Umroh langsung menuju Baitulloh guna melaksanakan Umroh seperti yang diniatkan dari tanah air.

Dihadapan Baitulloh saya hanya mampu tertunduk , merenung semua kesalahan,khilaf dan dosa di masa lalu.Keangkuhan, kesombongan,kepintaran,kekayaan,harta,jabatan dan segudang label dunia lainnya disini  tercerabut dengan sendirinya. Disini hanya ada keharuan,rasa bersalah, permohonan ampun, permohonan maghfiroh, dan pengharapan ampunan atas kesalahan dan dosa yag telah dilakukan di masa-masa jahiliyah lalu, terutama dosa dan khilaf terhadap kedua orangtua.

Umroh yang kata banyak orang cukup melelahkan dan harus menahan segala  hawa nafsu, pada akhirnya berjalan laksana air mengalir tanpa hambatan. Dan kesemua itu bukan karena semata daya tahan tubuh kita yang kuat dan sehat, melainkan adanya pertolongan Alloh yang senantiasa melindungi dan menjaga hambanya setiap saat.

“Ya Allah, berilah kemampuan bagi sahabat-sahabat kami, saudara-saudara kami, kaum kerabat kami,

untuk datang ke Mekah dan Madinah. Berkahilah mereka agar dapat berkunjung ke rumahMu,

Ka’bah, dan pusara RasulMu yang suci dengan kasih sayangMu wahai yang Maha Pengasih.”.

Itulah harapan dan do’a yang bisa kami panjatkan kepada sang Khalik agar kiranya rekan,saudara,maupun orang yang kita cintai bisa mengikuti jejak kami untuk berkunjung ke Baitulloh dan pusara Rasul kesayangan Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. (Sam)

 

 

 

 

 

sam

No comment

Leave a Response