Pol Pot Sang Revolusioner Kamboja

 

Matamatanews.com, JAKARTA – Tahun 1975 menandai runtuhnya rezim Marsekal Lon Nol akibat digulingkan Pol Pot, penganut sejati politik komunisme radikal. Para sejarawan berpendapat, Pol Pot lebih komunis dari pada bapak komunis di Uni Sovyet dan Cina. Hal tersebut di sebabkan karena ia mengubah ideologi negara secara radikal, ia menyebut revolusi Khmer Merah (nama baru kamboja) sabagai tahun nol atau semua dimulai dari awal kembali.

Sistem perekonomian diarahkan secara total pada paham agrarianisme (pertanian) dan proletar (buruh), penduduk muda dijadikan tentara sosialisasi sedangkan yang tua di jadikan buruh dan petani. Selama Pol Pot berkuasa banyak kebijakan-kebijakan yang ia buat, diantaranya mata uang dihapuskan, pelayanan pos di hentikan, dan negara di isolasi dari dunia luar. Akibat kebijakan tersebut, negara Kamboja dilanda kemiskinan, kebodohan dan rakyatnya menjadi kelaparan.

Para pengungsi yang berhasil melarikan diri ke Thailand menceritakan bagaimana kekejaman kelompok Khmer Merah ini. Mereka menghukum mati anak-anak yang tidak dilahirkan dari keluarga petani. Kemudian orang-orang yang berasal dari keturunan Vietnam dan Cina serta orang-orang yang berasal dari keluarga pedagang ikut diteror dan dibunuh dengan cara dipukuli hingga mati.

Mantan-mantan menteri bekas Lon Nol, guru, dosen, profesor dan orang-orang yang dianggap berintelektual di kumpulkan kemudian di bunuh secara kejam menggunakan alat-alat tradisional (bambu, pacul, kayu) sebagai simbol kebangkitan revolusi para petani dan buruh. Jasad-jasad korban pembantaian kemudian diberi cairan kimia untuk menutupi jejak, namun bekas-bekas noda darah pada cabikan pakaian dan tulang-tulang masih ada hingga kini.

Diantara ladang-ladang pembantaian yang berjumlah sekitar 343 ladang yang tersebar di seluruh wilayah Kamboja, terdapat satu ladang yang paling terkenal yakni Choeung EK. Ladang tersebut menjadi terkenal karena sebagian besar korban yang dieksekusi disana ialah para Intelektual dari Phnom Penh. Diantara korban-korban tersebut terdapat Mantan Menteri Informasi Hou Nim, Profesor ilmu hukum Phorng Ton dan sembilan warga barat termasuk David Lioy Scott dari Australia. Sebelum dieksekusi, sebagian besar korban diinterogasi dan didokumentasikan di kamp penyiksaan Tuol Sleng.

Penjara S-21 atau Tuol Sleng merupakan organ rezim Khmer Merah yang paling rahasia, pada tahun 1962 penjara S-21 merupakan sebuah bangunan sekolah SMA yang bernama Ponhea Yat. Tuol Sleng yang berlokasi di subdistrik Toul Svay Prey, sebelah selatan Phnom Penh dengan luas wilayah 600x400 meter. Setelah phnom Penh jatuh ke tangan Khmer Merah, kemudian sekolah tersebut beralih fungsi menjadi tempat interogasi dan penyiksaan terhadap para tahanan yang dianggap sebagai musuh politik. Di ladang pembantaian inilah para intelektual diinterogasi agar menyebutkan nama-nama kerabat yang dianggap berpendidikan, satu tahanan diwajibkan menyebutkan 15 orang yang dianggap berintelektual.

Kuku-kuku mereka akan dicabut jika tidak dapat menyebutkan nama-nama tersebut, selain itu mereka disiksa dengan cara di tenggelamkan ke bak air atau disetrum. Mereka akan diinterogasi selama 2-4 bulan sebelum di eksekusi mati di Choeung Ek, akan tetepi untuk para tahanan yang dianggap penting, mereka akan diinterogasi lebih lama yakni selama 6-7 bulan.

Pada tanggal 25 Desember 1978, setelah banyaknya pelanggaran yang terjadi di perbatasan antara Kamboja dan Vietnam, akhirnya tentara Vietnam melakukan invasi ke Kamboja. Kemudian pada tanggal 7 Januari 1979, pasukan Vietnam berhasil menduduki Phnom penh dan berhasil menggulingkan rezim pemerintahan Pol Pot. Setelah itu, Heng Samrin mantan anggota Khmer Merah yang membelot ke Vietnam membentuk pemerintahan boneka di Kamboja, sayangnya pemerintahan ini tidak diakui oleh negara-negara barat. Pol Pot dan para pengikut setianya berhasil melarikan diri ke dalam hutan-hutan, kemudian ia kembali melakukan taktik gerilya dan aksi teror. Akhirnya pada tahun 15 April 1998, Pol Pot yang memiliki nama asli Saloth Sar meninggal di dalam hutan akibat terkena serangan jantung. (Atep/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response