Problem Stunting di Indonesia Timur Lebih Komplek di Jawa Faktor Gaya Hidup

 

Matamatanews.com, BREBESStunting atau gangguan pertumbuhan yang memengaruhi tinggi dan berat badan pada anak di Indonesia cukup tinggi. Kasusnya di tiap daerah berbeda bukan karena kekurangan gizi semata, namun ada faktor lain yang mempengaruhinya. Untuk wilayah Indonesia Timur permasalahannya lebih komplek, baik faktor SDM, pendidikan,pertumbuhan ekonomi rendah serta angka kemiskinanya tinggi. 

Hal diungkapkan Direktorat Jendral Daerah Tertinggal , Samsul Widodo, kepada Matamatanews.com usai kegiatan  perayaan Hari Pendidikan Nasional , Gerakan Kembali Bersekolah yang juga dihadiri Fleur Davies, Minister Counselor dari Kedutaan Besar Australia, di halaman SDN 04 Wanatirta Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, Selasa (08/05/2018) lalu.

Menurut Samsul untuk wilayah Jawa kasusnya cukup menarik dan aneh, mengingat dilihat dari catatan statistik stunting terjadi di daerah lumbung pangan.  " ini kan aneh daerah lumbung pangan, seperti Indramayu, Kerawang,  Purwakarta , namun tingkat stuntingnya tinggi. Itu apakah karena kekurangan nutrisi karena miskin atau  gaya hidup " ungkap Samsul. 

Yang dikhawatirkan tambah dia , penetrasi makanan makanan instan bayi dikasih mie instan biar tidak nangis, dan ini pola makan yang tidak sehat. Jadi kesimpulan nya kasus stunting karena gaya hidup " jelasnya .Pihaknya mengharap semua bergerak sadar akan pentingnya hidup sehat  mulai dari kabupaten kecamatan  maupun desa berkordinasi , konsolidasi menggunakan potensi yang ada menanggulangi stunting.

"Lakukan penyuluhan, beri makanan tambahan ke posyandu, semua harus bergerak. Bila hanya mengambil dari dana desa tidak akan cukup. harus melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten "tegas Samsul. Sementara Fleur Davies, Minister Counselor dari Kedutaan Besar Australia menjelaskan Pemerintah Australia melalui program bilateral KOMPAK ( Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan Untuk Kesejahteraan ) turut mendukung sejumlah kegiatan terkait insentif GKB - Gerakan Kembali Bersekolah Kompak merupakan program kemitraan antara Pemerintah Australia dan Indonesia yang berfokus pada peningkatan layanan dasar dan peluang ekonomi bagi masyarakat miskin .

"Kedatangan kami memantau perkembangan serta membahas langkah selanjutnya dalam mendukung prioritas program Pemerintah Kabupaten Brebes terkait upaya pengentasan kemiskinan" papar Fleur Davies. (Purwanto )

 

sam

No comment

Leave a Response