Radikalisme Islam di Kalangan Mahasiswa, Analisis Sosio Historis Menurut Prof.Dr. Abdul Basit, M.Ag

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO—Salah satu materi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Abdul Basit, M.Ag pada orasi ilmiah Sidang Senat Terbuka IAIN Purwokerto adalah Radikalisme  Islam di Kalangan Mahasiswa. Kata radikalisme menurut Abdul Basit adalah paham yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis, sikap ekstrem dalam aliran politik.  Dari arti tersebut radikalisme bermakna positif. Seseorang beragama secara radikal bisa dibenarkan apabila  maknanya berpegang teguh pada hal yang prinsip atau mendasar.

Menurutnya kata, radikalisme memiliki makna yang beda ketika dipicu  tragedi WTC (9/11/2001), dimana orang beragama (Islam) melakukan tindakan kekerasan.  Pada saat  ini gelombang deras kalangan ilmuawan, gerakan sosial mulai mengkaji gerakan aktivis Islam radikal. Mereka mulai membangun landasan teori baru di tengah perdebatan tersebut.  Meski ada sebagian ilmuawan mencoba menarik gerakan radikalisme agama dari munculnya kelompok Khawarij pada zaman Ali Bin Abi Thalib dan peristiwa  Mihnah, gerakan Wahabi dan revolusi Iran.

Wacana radikal Islam semakin mencuat empat tahun setelah tragedi WTC, pada saat munculnya Islamic State of Iraq and  Al-Sham (ISIS).  Kemunculannya menimbulkan pertanyaan besar dari kalangan luar Islam dan umat Islam sendiri. Mengapa orang yang beragama  (umat Islam) melakukan tindakan semacam itu, apakah ajarannya yang memerintahkan tindakan kekerasan ataukah kekeliruan dalam pemahaman ajaran Islam?

Menurut pendapat Abdul Basit banyak faktor yang menyebabkan tindakan radikalisme, diantaranya faktor ekonomi, lemahnya pemahaman agama, kondisi sosio - psikologis pelaku, politik global dan sebagainya.  Para peneliti menyimpulkan bahwa radikalisme dikembangkan oleh kelompok baik yang mengatasnamakan  ISIS, Al-Qaedah, Jamaah Islamiyah atau yang lainnya. Mereka berpedoman pada idiologi Jihadiyah yang dipahaminya.

Dalam konteks Indonesia gerakan radikalisme  Islam dikaitkan dengan munculnya Darul Islam (DI) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (1907-1962).  Ajarannya memiliki banyak kesamaan dengan kelompok Salafy Jihadisme yang dianut kelompok radikal di Indonesia yang bersumber dari pejuang Afghanistan.

Setelah DI/TII mengalami kemunduran munculah Negara Islam Indonesia (NII). Disinilah mahasiswa  mulai direkrut dengan pendekatan dakwah antar individu. Faktor utama bangkitnya NII adalah maraknya dekadensi moral terutama di Aceh, aksi represif dari keamanan terhadap anggota  DI, dan kuatnya idiologi paham Tauhid rububiyah - mulkiyah - uluhiyah yang melahirkan sikap mengkafirkan orang-orang yang tidak bergabung dengan DI.

Pada era ini faham fundalisme mewarnai gerakan dakwah kampus dengan ciri-ciri memiliki interprestasi liberal terhadap kitab suci agama,  memiliki sikap fanatisme, eksklusifme, intoleran, radikalisme dan militanisme,  memiliki penekanan kepada pembersihan agama dari modernisasi, liberalisme dan humanisme,  kaum fundalisme mendakwahkan diri sebagai penafsir agama  yang benar.Faham fundalisme ini dikembangkan terutama oleh kelompok-kelompok jama'ah tarbiyah, NII, dan hizbut tahrir yang mewarnai kegiatan dakwah di kampus.

Menurut ilmuawan ada empat pola rekrutmen oleh organisasi radikal pertama, pandangan yang mengatakan bahwa orang bisa  direkrut karena individu mahasiswa  yang kurang memiliki pemahaman mendalam terhadap ajaran agama, kurang memiliki sikap kritis, kondisi sosio-psikologis yang kurang berkembang.Kedua, seseorang yang direkrut oleh organisasi radikal Islam karena adanya jaringan personal akibat pertemanan. Ketiga, lingkungan sosial politik yang tidak baik (Islami) dapat memicu seorang masuk dalam organisasi radikal. Keempat, media komunikasi menjadi pendorong seseorang terlibat dalam organisasi radikal seperti ISIS dan kelompok Al-Qaeda yang merekrut melalui media internet. *(hen)

 

sam

No comment

Leave a Response