Raees,Potret Kelam Perjalanan Hidup Penyelundup Minuman

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Meski Shah Rukh Khan mengatakan bahwa tokoh Raees yang diperannya merupakan fiksi,namun sejumlah kalangan di Gujarat meyakini bahwa film Raees diangkat berdasarkan kehidupan pribadi Abdul Latief,seorang penyelundup minuman di Gujarat yang kemudian menjadi politikus. Raees  terbilang film yang memiliki sandungan cukup banyak meski kini menangguk box office dalam peredarannya.

Sejak awal film ini selalu menjadi kontroversi,pertama mengalami masalah dalam jadwal perilisan filmnya.Lalu mendadak peredarannya bentrok dengan skejul film Sultan yang dimainkan aktor Salman Khan pada Juli 2016,akhirnya Raees diulang  peredarannya menjadi 26 januari 2017. Usai dengan Salman Khan, kini Raees  bentrok peredarannya dengan Kaabil yang dimainkan Hrithik Roshan pada 26 Januari 2017,namun kemudian disatukan menjadi 25 Januari ,dan hasilnya kedua film tersebut meraih hits box office.

Raees masih terus dirundung masalah,kali ini artis utamanya Mahira Khan asal Pakistan,akibat teror di Uri,Jammu-Kashmir,pemerintah India melalui partai MNS melarang artis Pakistan bermain di film Bollywood.Tetapi urusan cepat selesai karena Shah Rukh Khan bertemu langsung dengan Ketua MNS,Raj Thackeray,hingga masalah dianggap selasai. Namun, diluar dugaan Mahira Khan bikin ulah,ketika kembali ke Pakistan ia mengatakan kepada media bahwa dirinya tidak menghargai industri perfilman Bollywood. Lagi-lagi urusan selesai.

Dan sandungan muncul kembali,ketika parlemen Gujarat dari Vishwa Hindu Parishad (VHP) dan Shiv Sena meminta film Raees dilarang diputar di Gujarat.Alasan pelarangan,karena film Raees dianggap film yang sepenuhnya mengangkat kehidupan kriminal ,sehingga kurang pantas bila difilmkan layaknya seorang pahlawan.

Film Raees sendiri bercerita tentang seorang pembuat minuman bernama Raees yang menjalani hidupnya secara sederhana,namun keras dan serius dalam bisnis.Dia membangun kerajaan bisnisnya di wilayah Gujarat dari tangan kosong tanpa modal. Masa kecilnya dilalui dengan keras penuh cobaan. Raees pernah dihukum gurunya hanya karena matanya rabun hingga tak bisa membaca tulisan yang terpampang dimuka kelas .Untuk tidak membebani ibunya untuk membeli kacamata,Raees nekad mencuri kacamata yang dipasangkan di patung pendiri India Mahatma Gandhi dihalaman kantor pemerintah.

Raaes yang dibesarkan dilingkungan keras pada akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri,yaitu menjadi penyelundup minuman keras.Berkat pendekatan dan hubungannya yang supel keberbagai orang penting, usaha Raees berkembang pesat dan banyak ditakuti pihak lawan. Seiring dengan waktu,Raees akhirnya menikah dengan Aasiya (Mahira Khan) hingga dikarunia satu orang anak.

Raees mulai resah ketika  seorang polisi ACP Ghulam Pate (Nawazuddin Siddiqui) mengejarnya dengan beragam tuduhan,dari penyelundup minuman keras hingga pembunuhan terhadap lawan-lawan bisnisnya. Film ini selain mengambil setting Gujarat pada tahun 1980-an juga menonjolkan kritikan terhadap larangan minuman keras (alkohol),pelacuran, dan obat-obatan terlarang di Gujarat.Meski film ini ditangani Rahul Dholakia selaku sutradara dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian,namun penggambaran tokoh Raees sebagai penganut Syi’ah tidak bisa disembunyikan dari naskah cerita yang ditulis Rahul Dholakia, Harit Mehta, Ashish Vashi, dan Niraj Shukla, sehingga wajar bila tokoh film ini disebut sebagai penganut Syi’ah.Dan layaknya film yang diangkat berdasarkan kisah nyata,film ini pun menyodorkan dua pilihan kepada penontonnya: hidup atau mati dipenghujung cerita.

Film yang diproduseri istri Shah Rukh Khan yaitu Gauri Khan dibawah bendera Red Chillie  Entertainment dan Excel Entertainment ini rasanya sulit disejajarakan dengan film biasa yang hanya sekedar menghibur semata. Raees meski ditaburi dialog ,akting dan lagu yang cukup menarik,namun tidak mampu menghilangkan esensi utamanya bahwa kejahatan tidak bisa dibenarkan meski dibalut dengan cinta dan kemanusiaan.

Kelemahan film ini adalah Rahul Dholakia menggunakan citra agama sebagai salah satu pondasi  paling menarik untuk membangun cerita,dan kebetulan yang ditonjolkan disini penjahatnya seorang muslim penganut Syi’ah.Coba lihat bagaimana seorang Raees dengan serius memainkan pisaunya untuk menyiksa diri dalam acara Muharam atau disini disebut Hari Assura’ sementara ia dikenal sebagai penjahat berdarah dingin.Di bagian lain ditampilkan,Raees memberikan notebook kepada sejumlah anak sekolah yang kurang mampu dari hasil kejahatan terselubungnya.

Potret hitam putih perilaku Raees mengaduk logika penonton,seakan tindakan kotor dan culas merupakan pembenaran dari kelicikan dan tindakan jahat rekan bisnisnya. Shah Rukh Khan meski pernah memerankan tokoh antagonis seperti dalam Baazigar dan Darr,namun perannya kali ini sebagai Raees rasanya kurang pantas untuk disebut sebagai ‘pahlawan’ karena aroma kriminalnya jauh lebih kental. (samar)

 

 

sam

No comment

Leave a Response