Raja Yordania, Kabulkan Pengunduran Diri PM Hani Mulki

 

Matamatanews.com,  AMMAN—Akhirnya  Raja Yordania  Abdullah II kemarin mengabulkan permintaan pengunduran diri Perdana Menteri Hani al-Mulki dari  jabatannya, hal itu dilakukan sang Raja untuk menenangkan kemarahan rakyat terhadap kebijakan ekonomi kontroversial dinegaranya, seperti kenaikan pajak, listrik dan bahan bakar.

Seperti diketahui Mulki diangkat sebagai Perdana Menteri pada Mei 2016 lalu, dia diberitanggungjawab untuk memperbaiki perekonomian  Yordania dari keterpurukan. Selama ini Mulki dikenal sebagai seorang politisi yang supel dan mampu melakukan pendekatan kesemua pihak, terutama para pebisnis di Yordania.

Kemarahan rakyat sebenarnya merupakan akumulasi dari kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Mulki, persisnya sejak pemerintah yang didukung IMF menaikan pajak penjualan umum yang tidak wajar pada  awal tahun ini. Sebenarnya, kemarahan utama rakyat itu adalah penghapusan subsidi roti yang merupakan makanan pokok bagi warga miskin di negara tersebut.

Dengan mundurnya Mulki dari tampuk Perdana  Menteri bukan jaminan negara tersebut  keluar dari kemelut ekonomi yang membelutnya, demikian diungkapkan sejumlah pengamat ekonomi di Amman. “ Kemarahan rakyat sebenarnya bukan saja bertumpu pada masalah  kenaikan pajak, listrik maupun bahan bakar,  tapi juga dipicu  penghapusan subsidi roti yang menjadi makanan pokok bagi warga miskin, lalu dipicu dengan berbagai kebijakan lainnya hingga kemarahan rakyat tak terbendung lagi,” jelas  sumber ini kepada  Matamatanews.com, Selasa (4/6/2018) di Yordania, kemarin.

Pihak pemerintah  menyatakan kebijakan itu diambil karena negara sedang membutuhkan banyak dana untuk layanan publik. Menurut, pemerintah, perubahan tagihan pajak akan mengurangi kesenjangan sosial dengan menempatkan beban yang lebih berat kepada orang-orang yang berpenghasilan tinggi.

Meski pemerintah Yordania telah memberikan klarifikasi terkait kenaikan tagihan pajak , namun para pengunjuk rasa  tetap mengecam kebijakan tersebut. Bahkan dalam aksinya para pengunjuk rasa mengkritik para politikus  yang dianggap telah menghambur-hamburkan uang publik dan korupsi.

“ Tuntutan kami sah. Katakan tidak terhadaop korupsi,” teriak para pengunjuk rasa yang meminta Raja Abdullah II untuk mengusut dan menindak kejahatan korupsi. Raja Abdullah II  akhirnya memerintahkan untuk menunda keputusan untuk menaikkan harga bahan bakar mobil, sambil menunggu situasi ketegangan reda dan rakyat  kembali tenang. (bar/ Reuters/Arab News/ al Arabiya)

 

sam

No comment

Leave a Response