Rakyat Palestina Marah Atas keputusan Amerika

 

Matamatanews.com, RAMALLAH—Keputusan pemerintah Amerika Serikat untuk memindahkan kedutaan besarnya ke Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem pada 14 Mei 2018 mendatang dituding sebagai tindakan provokasi.

Keputusan Washington telah melukai dan memprovokasi kemarahan bangsa Arab serta umat Muslim dan kristen di seluruh dunia, bahkan membuat rakyat Palestina marah.Seperti diketahui Palestina memang sudah lama berkeinginan untuk menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara mereka.

Seperti dilaporkan Reuters,Sabtu (24/2/2018) bahwa juru runding Palestina Saeb Erekat mengecam langkah yang dilakukan Amerika Serikat. Dalam pernyataannya, Erekat mengatakan Amerika menunjukan tekad untuk melanggar hukum internasional.

.”Itu menunjukkan tekad untuk melanggar hukum internasional, menghancurkan solusi dua negara dan memprovokasi perasaan rakyat Palestina dan juga semua orang Arab, Muslim dan Kristen di seluruh dunia,” kata Sueb Erekat.

Presiden AS Donald Trump beberapa waktu lalu mengumumkan keputusan sepihak, di mana AS secara resmi mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Dalam pengumumannya kala itu, Trump juga memerintahkan pemindahan kedubes AS di Israel dari Tel Aviv ke kota suci Yerusalem.

”Ini adalah langkah yang tidak dapat diterima. Langkah sepihak tidak akan memberikan legitimasi kepada siapapun dan akan menjadi hambatan bagi upaya untuk menciptakan perdamaian di wilayah ini,” kata juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Nabil Abu Rdainah.

Abbas telah menolak upaya perdamaian Timur Tengah yang dipimpin AS, sejak Trump membuat pengumuman yang tidak bisa diterima rakyat Palestina.

Abu Rdainah mengatakan satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian, keamanan dan stabilitas adalah proposal Abbas yang disampaikan dalam sebuah pidato di depan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada hari Selasa lalu. Proposal itu berisi seruan konferensi internasional untuk memulai proses perdamaian, termasuk “mekanisme multilateral” sebagai permulaannya.

Menurut Abu Rdaineh, Abbas masih berada di AS setelah menjalani pemeriksaan kesehatan di Baltimore pada hari Kamis. Namun, dia akan pulang pada hari Sabtu. Di Gaza, seorang pejabat Hamas, Sami Abu Zuhri, mengatakan keputusan AS kali ini akan memicu perang.

”Memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem adalah sebuah deklarasi perang melawan negara Arab dan Muslim, dan pemerintahan AS harus mempertimbangkan kembali rencana pemindahannya,” katanya. (cam/reuters/snd/berbagai sumber)

 

sam

No comment

Leave a Response