Ribuan Orang Tuntut Perubahan di Aljazair

 

Matamatanews.com, ALJAZAIR—Sehari setelah Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika yang tengah terbaring sakit menolak memperpanjang masa jabatannya yang kelima, Selasa (12/3/2019) kemarin ribuan orang melakukan unjukrasa menuntut diperubahan di Aljazair dipercepat.Seperti dilaporkan Ennahar TV, para pekerja dibeberapa kota mulai berkerumun dan melakukan aksi mogok hingga seluruh operasional di pelabuhan Mediterania di Bajaia lumpuh total.

Pada akhirnya Bouteflika,82 ,tunduk dan memenuhi tuntutan para demonstrans dan menjanjikan transisi kepemimpinan baru, namun ia menunda pemilihan yang dijadwalkan pada April mendatang.Seperti diketahui kekuasaan Bouteflika selama 20 tahun telah menimbulkan beberapa kritik tajam dari berbagai kalangan,baik politisi maupun masyarakat. Senin (11/3/2019) lalu, pada akhirnya Bouteflika menjanjikan transisi kepemimpinan baru guna meredam para pengunjukrasa yang meminta dirinya segera mundur dari jabatannya sebagai Presiden Aljazair.

Dengan ditundanya jadwal pemilihan umum pada April mendatang seperti disampaikan Bouteflika,sebenarnya ia  tengah berusaha menyiasati perpanjangan masa kekuasaannya sebagai Presiden, namun hal itu disambut perpanjangan demontrasi  para pekerja hingga melumpuhkan pelabuhan dan sejumlah tempat strategis lainnya. Kini mantan diplomat Aljazair Lakhdar Brahimi seperti diungkapkan sumber pemerintah kepada Reuters pada Selasa (11/3/2019) kemarin, akan bergabung dengan berbagai kelompok pengunjukrasa untuk membicarakan nasib Aljazair kedepannya.

Seperti diketahui Brahimi adalah mantan menteri luar negeri Aljazair sekaligus utusan khusus PBB yang diprediksi akan memimpin konfrensi dan mengawasi jalannya transisi,menyusun konstitusi baru serta menetapkan tanggal pemiihan, ungkap sumber di pemerintah.

Teriakan pergantian kepempinan kini bergema keseluruh pelosok di Aljazair, dan mereka ingin seluruh sistem yang selama dijalankan oleh Bouteflika dihilangkan secapatnya.”Kami ingin sistem baru ini segera berjalan,”kata siswa berusia 25 tahun, Nouredine Habi.

Warga Aljazair sudah bosan dengan pemimpin veteran perang kemerdekaan 1954-1962 melawan Perancis yang sakit sakitan yang telah mendominasi negara dengan tingkat pengangguran tinggi, layanan buruk dan korupsi yang merajalela meskipun  memiliki sumber minyak dan gas.Lebih dari seperempat warga Aljazair dibawah 30 tahun menganggur.

Seperti dilaporkan Annahar TV, wakil perdana menteri Aljazair mengatakan bahwa keputusan Bouteflika merupakan titik terpenting sejakmerdeka dari Perancis pada 1962.

"Pemerintah yang kompeten akan dibentuk, dengan kepercayaan para peserta dalam konferensi nasional, yang akan mengawasi proses pemilihan presiden," kata Ramtan Lamamra. Kini para veteran perang terkemuka tengah melangsungkan komunikasi untuk mengambil bagian dalam perubahan, di antaranya  Djamila Bouhired, Zohra Drif Bitat, dan Lakhdar Bouregaa, kata sejumlah sumber politik di Aljazair.

Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam pernyataannya mengatakan, bahwa pernyataan Bouteflika membuka babak baru dan menyerukan “durasi yang masuk akal” untuk masa transisi.Selain itu militer Aljazair diperkirakan juga akan memainkan peran dibelakang layar selama masa transisi dan saat ini tengah dipertimbangkan usulan agar warga sipil bisa dicalonkan sebagai presiden, begitupun untuk posisi penting lainnya.

Di antara nama yang masuk dalam daftar adalah pengacara dan aktivis terkemuka Mustafa Bouchachi yang dikenal memiliki banyak pengikut  di facebook selama protes dilangsungkan.

Macron Desak Periode transisi ‘masuk akal’

Sementara itu, Presiden Perancis Emmanuel Macron mendesak pemerintah Aljazair untuk mengatur transisi yang ‘masuk akal’ setelah Bouteflika menolak tawaran jabatannya yang kelima dan membatalkan pemilihan April mendatang.

“Saya menyambut keputusan Presiden Bouteflika yang merupakan awal halaman baru dalam perkembangan demokrasi Aljazair,” kata Macron dalam sebuah jumpa pers saat berkunjung ke Djibouti, Afrika Timur.

“Saya menyambut martabat yang dengannya penduduk, terutama pemuda  Aljazair mampu mengekspresikan harapan dan keinginannya untuk perubahan, serta profesionalisme pasukan keamanan,”tambah Macron.Lebih lanjut macron mengatakan bahwa negara seperti Aljazair membutuhkan “transisi dalam kerangka waktu yang masuk akal” dari aturan 20 tahun Bouteflika. (cam/Reuters/AFP/Al Arabiya)

 

sam

No comment

Leave a Response