Setelah Telur, Kini Giliran Petani Sawit Menjerit

 

Matamatanews.com, BENGKULU—Setelah harga telur dan ayam yang selangit, kini giliran harga sawit menukik di kisaran Rp. 500 per kilo. Disebutkan sejumlah petani sawit di Provinsi Bengkulu, harga yang berlaku ditingkat petani  berkisar Rp 500, sementara harga pabrik berkisar Rp 1.050 per kilo. Padahal pemerintah telah mematok harga sawit per kilo diangka Rp 1.200 per kilo.

Salah seorang pengusaha sawit, Ali Kasman, mengungkapkan bahwa harga Rp. 500 itu masih harga kotor, belum termasuk untuk membayar buruh pendodos sawit Rp. 150 sampai Rp. 200 per kilo, ditambah biaya untuk langsir sebesar Rp. 50.

“Sehingga harga yang diterima pengusaha sawit hanya berkisar Rp. 150 hingga Rp. 200 per kilo, secara otomatis harga sawit saat ini jatuh dan kami tidak bisa melakukan apapun, bahkan untuk membayar pekerja dodos maupun perawatan kebun kini kami sulit,” jelas Ali Kasman kepada Matamatanews.com, Rabu (8/8/2018) di Jakarta.

Penurunan harga sawit diangka Rp. 500 per kilo ditingkat petani, dikhawatirkan akan berdampak negatif dan membuat para pengusaha sawit terutama petaninya ramai-ramai meninggalkan usahanya dan beralih ke usaha lain. Ia berharap pemerintah, dalam hal ini instansi terkait mengambil tindakan cepat agar harga sawit kembali normal seperti sediakala.

“Karena saat ini harga sawit ditingkat pabrik Rp 1.050 per kilo, sedangkan harga ditingkat pengumpul Rp. 500, dengan demikian harga tersebut sama sekali tidak menguntungkan bagi petani sawit saat ini. Dari beberapa kali penurunan yang ada, harga Rp. 500 ini yang paling rendah hingga membuat para petani sawit menjerit,” tegas Ali Kasman, serius.

Sementara itu dari sejumlah sumber media ini menyebutkan bahwa turunnya harga sawit, kemungkinan bisa juga dampak dari harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang mengalami paceklik pada enam bulan pertama 2018 ini, dengan koreksi 7,07 persen, menyusul kebijakan anti CPO Uni Eropa, Amerika Serikat (AS), dan India sebagai konsumen utama produk tersebut.

“Tapi dengan harga Rp. 500 per kilo, para petani sawit maupun pengusahanya tidak bekerja dan secara perlahan dan pasti akan mati dengan sendirinya. Dan pemerintah harus mengambil tindakan tegas untuk menyelamatkan perekonomian dan kelangsungan hidup para petani sawit,” ujar, Parniaji Sarwan, praktisi hukum dan pegiat kebijakan publik kepada Matamatanews.com. Sampai kapankah nasib para petani sawit terlindungi dan diperhatikan periuk nasinya oleh instansi dalam hal ini pemerintah? Entahlah hanya Tuhan dan mereka yang tahu. (bar)

sam

No comment

Leave a Response