Situs Sangiran, Situs Warisan Dunia

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO - Salah satu stan yang andil dalam Expo Unsoed 2019 adalah Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran yang merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan Dirjen Kebudayaan Kementerian dan Kebudayaan RI.  Tugasnya melaksanakan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan situs manusia purba. 

Seperti situs situs paleoanthropology lainnya, situs Sangiran tidak bisa menggambarkan apa apa, hanya bentangan lahan gersang tidak bisa menceritakan tentang evolusi manusia, budaya dan lingkungan kepada masyarakat. Karena itu didirikanlah pusat pusat informasi di kawasan Sangiran yang lebih representatif, eksploratif, komprehensif dan modern, berupa 4 museum dengan nama Klaster Krikilan, Klaster Dayu, Klaster Bukuran dan Klaster Ngabung.

Klaster Krikilan 

Merupakan visitor center yang memberi informasi umum tentang Situs Sangiran.

Tempat ini terbagi dalam 3 ruang yaitu ruang pamer kekayaan Sangiran, ruang pamer langkah langkah kemanusiaan dan diorama masa keemasan Homo Erectus. Temuan temuan artefak di situs Sangiran mendukung keberadaan manusia saat itu. Disana kita dapat mengetahui kecerdasan Homo Erectus dalam membuat peralatan berupa perkakas dari bebatuan. 

Digambarkan, hewan hewan vertebrata berukuran besar menjadi primadona Sangiran saat itu seperti gajah (Mastodon,Stegodon dan Elephas sp), kerbau (Bubalus Poleokarabau), banteng (Bibos Paleosondaicus), antelop (Duboisia), rusa,badak Hippopotamus hidup berdampingan dengan manusia lebih dari 1 juta tahun.

Klaster Dayu

Berada di Desa Dayu, Kec. Gondangrejo Kab. Karanganyar. Di museum ini akan dijumpai informasi penemuan hasil budaya manusia berusia 1,2 juta tahun silam. Disana akan diajak menyusuri lorong waktu, dari lapisan tanah termuda hingga tanah berusia 1,2 juta tahun. Kita akan menjumpai anjungan Notopuro berupa bangunan yang akan memberi informasi lapisan tanah termuda di situs Sangiran. Ada juga anjungan yang menyampaikan informasi tentang pelapisan tanah Formasi Kabuh, yakni ketika Sangiran mencapai puncak keemasan ditandai adanya bekas aliran sungai besar.

Klaster Bukuran

Di museum ini akan digambarkan tentang evolusi manusia. Bukti bukti berupa temuan tengkorak dari situs paleoanthropologi dunia ditampilkan sebagai gambaran posisi situs Sangiran dalam peta evolusi manusia di bumi.

Di bangunan berlantai 2 ini akan digambarkan keanekaragaman makhluk yang hidup di atas bumi sekarang. Diorama rekontruksi 3 tipe Homo Erectus yang pernah hidup di jawa dijelaskan secara gamblang di ruang ini. Lantai bawah menjabarkan bukti bukti peninggalan fosil manusia purba yang pernah ditemukan tidak hanya yang ditemukan di Sangiran saja tetapi di seluruh dunia.

Klaster Ngebung

Museum ini berada kurang lebih 3 km dari Museum Klaster Krikilan. Di museum ini akan diceritakan tentang kedatangan para peneliti Eropa hingga menjadi pengakuan dunia.

Diceritakan, jawatan geologi Hindia Belanda pada tahun 1928 kala itu mengadakan pemetaan geologi di Jawa untuk kebutuhan agrikultur dan mineral Hindia. Seorang peneliti bernama Jean Louis Chretien Van Es meneliti 13 lapisan tanah di Jawa meliputi Baribis, Lembah Bangawan Solo (Trinit), batas selatan pegunungan Kendeng, Gunung Pandan dan Jombang.

Berbekal peta dari Van Es seorang geolog dan paleontolog Jerman Gustav Heinrich Rapl von Koenigswald datang ke Sangiran untuk mengadakan survey dan penelitian. Hasil penelitiannya membuktikan adanya jejak jejak manusia purba berupa alat dari batu kalsedon dan jasper menjadi indikasi hadirnya manusia di Sangiran. Temuan ini menjadi perhatian dunia apalagi ditemukannya lagi sisa sisa manusia purba yang menadakan Sangiran maenjadi salah satu situs hominid yang penting di dunia.

Situs Sangiran ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1977. Pada akhirnya melalui perjalanan yang panjang Situs Sangiran ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan dunia pada tahun 1996. Hal ini sebagai bukti pengakuan atas potensi Situs Sangiran sebagai situs purba dan memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan.*(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response