Terlalu, 400 Ribu Orang di Ghouta Menunggu Mati

 

Matamatanews.com, BEIRUT—Sedikitnya 400 ribu orang dikabarkan terperangkap akibat serangan besar-besaran yang dilakukan pasukan rezim Suriah di Ghouta pada Rabu (21/2/2018) kemarin. Serangan tersebut digambarkan Komisioner Hak Azasi Manusia (HAM) PBB Zeid Ra’ad Al-Hussein sebagai “kampanye pemusnahan mengerikan”.

Penduduk yang putus asa terjebak di Ghouta Timur menunggu “mereka giliran menunggu mati” dibawah siraman mesiu dan bom yang dijatuhkan pasukan Suriah. Sedikitnya 310 orang terbunuh di distrik tersebut sejak Minggu malam, dan lebih dari 1.550 orang lainnya terluka, kata Observatorium Suriah untuk Hak Azasi Manusia. Sedikitya 38 orang tewas pada  Rabu kemarin.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan agar pertempuran segera dihentikan agar orang-orang yang terluka bisa dijangkau untuk diberikan pertolongan atau di evakuasi.Inilah pengeboman paling hebat dalam tujuh tahun perang sipil di Suriah hingga 400 ribu orang terjebak di Ghouta dan tengah menunggu maut.

"Kami menunggu giliran untuk mati. Ini adalah satu-satunya yang bisa saya katakan,”kata Bilal Abu Salah, 22, yang istrinya tengah hamil lima bulan di kota terbesar di Ghouta Timur Douma.

"Kini hampir semua orang yang tinggal di sini tinggal di tempat penampungan. Ada lima atau enam keluarga di satu rumah. Tidak ada makanan, tidak ada pasar, "katanya kepada Reuters.

Dibawah reruntuhan bangunan yang hancur,orang-orang yang terluka dan berlumuran darah dibawa ke rumah sakit, sementara korban lainnya masih meringkuk dijalan-jalan yang dipenuhi puing akibat pengeboman.Seorang dokter yang bekerja di daerah itu mengatakan kepada BBC bahwa situasinya seperti “bencana besar”.

“Kami tidak memiliki apa-apa, tidak ada makanan,obat, dan tempat berlindung,” kata Dr.Bassam. "Mungkin setiap menit kita memiliki 10 sampai 20 serangan udara ... saya akan merawat seseorang - dan satu atau dua hari lagi mereka kembali, terluka lagi."

Dia mengatakan bahwa komunitas internasional tampaknya telah meninggalkan orang-orang yang ada disana. Ghouta Timur, adalah sebuah distrik pertanian padat penduduk, dan merupakan daerah besar terakhir yang dekat dengan ibu kota yang masih berada dikendali pemberontak. Daerah ini sudah dikepung pasukan rezim Suriah selama bertahun-tahun.

Tembakan roket, serangan udara dan bom laras panjang yang dijatuhkan helikopter pada Minggu (19/2/2018) lalu  mengakibatkan daerah tersebut hancur.Sejumlah sumber menyebutkan, akibat serangan hebat tiada henti pasukan rezim Suriah itu kehidupan manusia di Ghouta seakan berakhir.

Akibat serang mematikan pasukan rezim Suriah, wanita dan anak-anak mengalami luka mengerikan. Dan seperti dlaporkan Reuters ,pasca serangan membabi buta itu tim penyelamat berhasil menarik empat anak dari reruntuhan gedung yang ditinggalkan ayahnya karena tewas terbunuh.Guterres mendukung upaya Swedia dan Kuwait untuk mendorong Dewan Keamanan dilakukannya gencatan senjata selam 30 hari di Suriah.

Para diplomat mengatakan bahwa dewan dapat memberikan usulan suara pada sebuah rancangan resolusi dalam beberapa hari mendatang.Namun Rusia, sekutu Presiden Bashar Al-Assad mengatakan bahwa usulan itu “tidak realistis”, ia meminta pertemua dewan pada Kamis ini khusus membahas situasi yang ada di Suriah.

Seorang komandan koalisi yang berjuang atas nama pemerintah Assad mengatakan kepada Reuters bahwa pengeboman tersebut bertujuan untuk mencegah para pemberontak menargetkan wilayah timur Damaskus dengan mortir.

"Serangannya belum dimulai. Ini pemboman awal, "kata komandan tersebut. Ghouta Timur adalah salah satu kelompok "zona de-eskalasi" di bawah prakarsa gencatan senjata diplomatik yang disepakati oleh sekutu Assad Rusia dan Iran ,sedangkan  Turki dianggap mendukung pemberontak.

Mohammad Alloush, ketua politik Jaish Al-Islam , salah satu faksi pemberontak utama di Ghouta Timur mengatakan, meski sudah ada upaya gencatan senjata dari sejumlah pihak internasional dan lokal di Ghouta Timur namun sejauh ini belum berhasil.

Akankah nasib ratusan ribu orang yang terjebak di Ghouta Timur dibiarkan menjadi sasaran empuk peluru dan mesiu pasukan Suriah? Kemanakah komunitas internasional yang selalu berteriak lantang tentang HAM dan keadilan?Entahlah, hanya Tuhan dan mereka yang tahu. (bar/arab news/reuters)

 

sam

No comment

Leave a Response