Terlalu, Israel Akan Bangun 2.500 Pemukiman Baru

 

Matamatanews.com, AMMAN, YORDANIA—Meski komunitas internasional dan negara-negara Islam masih terus mengutuk Israel atas tindakannya yang kejam terhadap para pengunjuk rasa pada 15 Mei lalu, namun negara Zionis itu terus nekad untuk membangun ribuan rumah baru di Tepi Barat. Menurut pejabat Palestina, pembangunan pemukiman baru oleh Israel tersebut akan mengakhiri solusi bagi kedua negara.

Kamis (24/5/2018), Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengatakan, pihaknya akan meminta persetujuan atas rencana pembangunan 2.500 pemukiman di 30 wilayah Tepi Barat. " 2.500 unit rumah itu akan disetujui pembangunannya oleh komite perencanaan pada pekan depan. Pemukiman akan segera dibangun pada 2018," kata Lieberman, seperti dikutip AFP, Kamis 24 Mei 2018.

Para pejabat Palestina menganggap pernyataan Lieberman untuk membangun pemukiman baru di Tepi barat tersebut sangat provokatif, karena kemarahan atas pembukaan Kedutaan Besar Amerika di Jerusalem dan pembunuhan 60 pengunjukrasa di Jalur Gaza pada 15 Mei masih terasa bagi warga  Palestina.

Dalam pernyataan yang diterbitkan kantor berita resmi Palestina WAFA, juru bicara Presiden Palestina, Nabil Abu Rudeina mengatakan, ”Kelanjutan dari kebijakan,pernyataan oleh pejabat Amerika yang mendukung pemukiman dan hasutan para menteri israel telah mengakhiri solusi peran Amerika di wilayah tersebut.”

Menurut hukum internasional, 2.500 rumah ilegal itu akan tersebar di Tepi Barat setelah persetujuan dikeluarkan oleh komite perencanaan pada pekan depan dan pekerjaan konstruksi mulai dijalankan.

Selain 2.500 unit yang direncanakan, Lieberman juga akan mengupayakan izin pembangunan 1.400 unit rumah lainnya di wilayah yang sama, seperti Ariel 400, utara Jerusalem, dan 460 di Ma’ale Adumim, sebuah kota yang telah dihuni sekitar 40 ribu orang. "Kami berkomitmen untuk mempercepat konstruksi di Judaea dan Samaria. Tentunya janji akan dipenuhi," tegas Lieberman. "Dalam berapa bulan ke depan kami akan mendorong perizinan pembangunan ribuan rumah lainnya," pungkasnya.

Anggota komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Hanan Ashrawi mengatakan rencana tersebut mengungkapkan  sifat nyata kolonialisme Israel, ekspansionisme dan pelanggaran hukum. “Tidak diragukan lagi Israel sengaja bekerja untuk meningkatkan populasi pemukiman ekstremis Yahudi dan menempatkan Israel lebih besar dalam semua sejarah Palestina.”

Sejumlah kalangan menyebut, rencana pembangunan pemukiman baru warga Israel di Tepi Barat merupakan langkah mundur dan berisiko tinggi bagi kelangsungan perdamaian di Tepi Barat itu sendiri. “Itu satu-satunya ancaman paling berbahaya bagi kehidupan dan mata pencarian warga Palestina.”

Ashrawi menyerukan badan hukum untuk "membuka penyelidikan kriminal langsung terhadap pelanggaran mencolok Israel terhadap hukum internasional."

Menurut artikel yang surat kabar liberal Israel “Haaretz” Juni 2017 lalu menyebut, sedikitnya ada lebih dari 380.00 pemukim yang tinggal di Tepi Barat, selebihnya 40 persen tinggal di luar pemukiman resmi. Warga Palestina menganggap rencana pembangunan rumah baru itu terkait dengan pembukaan kedutaan baru Amerika Serikat di Jerusalem dan pembunuhan di Gaza  15 Mei lalu.

Khalil Tufakji dari Arab Studies Society, yakni LSM yang bermarkas di Jerusalam mengatakan kepada Aragb News, bahwa rumah-rumah tersebut sengaja dirancang untuk memenangkan tuntutan dari sayap kanan Israel untuk menciptakan “sau negara tunggal antara Mediterania dan Sungai Jordan”. (sam)

sam

No comment

Leave a Response