Tim Teknik Geologi FT Unsoed Selidiki Semburan Gas Di Kroya

 

Matamatanews.com, GUMARANG—Koordinator Sistem Informasi Unsoed Alief Einstein mengungkapkan, sebanyak 5 orang Tim Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsoed melakukan investigasi lapangan setelah mendapat kabar adanya semburan gas di Dusun Gumarang, Desa Sikampuh, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. Mereka adalah Eko Bayu Purwasatriya S.T. M.Si (Ketua Tim) dengan anggota Fadlin, S.T., M.Eng., Drs. Gentur Waluyo, M.Si., Sachrul Iswahyudi, S.T., M.T., dan Dr. Indra Permana Jati, S.T., M.T. 

Setelah menggali informasi dari penduduk setempat yang merupakan saksi dari kejadian tersebut dan didukung data lapangan yang ada maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut, Lokasi berada di tengah sawah dengan koordinat 7° 38’ 15,7” LS ; 109° 11’ 41,3” BT.

Berdasar kronologi, kejadian berawal ketika penduduk setempat tengah membuat sumur bor untuk mengairi sawah pada hari Sabtu (13/07/19). Tetapi pada kedalaman 26 meter terjadi semburan gas dari bawah permukaan berlangsung selama 4 jam, mulai jam 17.00 sampai jam 21.00 WIB. 

Ketika Tim Teknik Geologi FT Unsoed menyambangi lokasi, semburan telah berhenti, dan tampak di sekeliling titik semburan terdapat material sedimen yang didominasi pasir berwarna kehitaman dan lumpur. Material pasir ini merupakan endapan pantai yang berumur Kuarter yang ikut tersembur keluar oleh semburan gas tersebut. Uji bakar juga dilakukan untuk mengetahui jenis gas tersebut dan ternyata sisa semburan gas masih dapat menyala ketika disulut oleh korek api, sehingga disimpulkan jenis gas yang keluar merupakan gas metan.

Untuk mengetahui secara pasti apakah gas yang keluar merupakan gas biogenik (gas rawa) atau gas termogenik (gas bumi) perlu dilakukan uji lebih lanjut yaitu uji isotop C13. Namun rembesan gas yang terdekat dari lokasi ini, yaitu di Desa Karanglewas, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, telah dilakukan uji isotop C13 dan hasilnya merupakan gas termogenik (gas bumi), sehingga besar kemungkinan semburan gas di lokasi ini juga merupakan gas bumi karena lokasinya yang dekat (sekitar 10 km) dan membentuk kelurusan jalur dengan rembesan minyak dan gas bumi lainnya.

Diduga sumur yang digali oleh penduduk setempat menembus kantong-kantong gas di dekat permukaan yang cukup banyak tersebar di jalur rembesan minyak dan gas bumi tersebut. Gas bumi dari bawah permukaan merembes ke permukaan dan mengisi rekahan-rekahan batuan di dekat permukaan, sehingga ketika ditembus oleh bor sumur, tekanannya cukup tinggi, tapi cepat pula menurun.

Menurut Tim Geologi fenomena semburan gas ini tidak berbahaya seperti semburan lumpur di Sidoarjo, karena tatanan geologi di Banyumas berbeda dengan Sidoarjo, dimana di Banyumas tidak terdapat gunung lumpur di bawah permukaan seperti di Sidoarjo.

Adanya rembesan minyak dan gas ini dapat dilihat pula sisi positifnya bahwa Cekungan Banyumas potensi untuk menghasilkan minyak dan gas bumi, sehingga dapat menambah produksi nasional migas dan menumbuhkan ekonomi di Banyumas dengan adanya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas.

"Cekungan Banyumas itu adalah istilah dalam ilmu kebumian yang tidak dibatasi oleh batas administrasi kabupaten," ungkap Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsoed Fadlin.

Menurutnya cekungan Banyumas sendiri kurang lebih mencakup beberapa areal kabupaten dengan batas yang diperkirakan yaitu Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas,  kota Purwokerto, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kebumen bagian barat.*(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response