Trance Menjadi Daya Tarik Tari Dolalak

 

Matamatanews.com, PURWOREJO—Bagi sebagian orang mungkin masih awam apa itu Dolalak, tetapi bagi masyarakat Kedu Bagian Selatan pastilah paham dengan jenis seni tari ini. Tarian yang dimainkan lebih dari 5 orang penari ini sering ditampilkan di berbagai event ataupun perayaan tertentu dan telah menjadi ikon budaya kota "Berirama" Purworejo.

Menurut berbagai sumber sejarah Dolalak sebenarnya mengadopsi tingkah laku pasukan Belanda saat itu.  Kebiasaan tentara kompeni saat pesta pora di kamp kamp berikut asesoris pakaian yang dikenakan disimbolkan dengan kostum yang dipakai penari Dolalak saat ini. Hingar bingar kegembiraan pasukan Kompeni saat itu diwujudkan dalam gerak  tarian ini.

Kata Dolalak sendiri berasal dari kata notasi Do dan La, mengacu pada jenis alat musik yang mengiringinya yang hanya berjumlah dua buah dan dilakukan berulang ulang. Awalnya tarian ini dimainkan oleh kaum laki laki tetapi seiring perjalanan waktu kaum wanitalah yang mendominasi tarian ini.  Kebijaksanaan pemerintah daerah saat itu (1975) telah membolehkan kaum wanita memainkan seni tari ini. Daya tarik wisata menjadi alasan dikeluarkannya kebijakan itu.  Alhasil seni budaya khas Purworejo ini mengalami perkembangan yang luar biasa sampai saat ini.

Alat musik pengiring tari pun juga semakin variatif selain rebana, bedug juga alat musik modern keyboard pun ikut digunakan.  Tak ketinggalan pula syair yang dinyanyikan bertema agamis, pendidikan ataupun sosial. 

Yang menarik dari seni tari ini adalah trance atau "mendem".  Adegan ini biasanya terjadi di pertengahan acara atau merupakan puncak  seni tari ini.  Ada seorang sesepuh yang membacakan "mantra" guna mengendalikan kekuatan ghaib  yang merasuki salah satu penari. Sesepuh inilah biasanya juga sebagai  pemimpin rombongan tari. Sebagai pelengkapnya dihidangkan  aneka sesaji  berupa bunga setaman, minuman teh, kopi dan air putih,  kelapa muda,  pisang, jagung,  alat alat kecantikan, kinang, sirih, dan kapur sirih.  Saat kondisi trance sang penari akan melenggangkan tarian di luar kebiasaanya. Tradisi mendem inilah yang paling ditunggu tunggu oleh penonton Dolalak selain keelokan gerak tubuh penarinya. Tetaplah lestari budayaku. *(hendro/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response